Sudut Pandang Maxine Martin Menenangkanku? Bukannya tenang, jantungku malah semakin berdegup kencang saat mendengar kata-kata Tuan Enzo. Dia mulai melangkah, dan karena takut jatuh, aku refleks melingkarkan tanganku di lehernya. Rasanya seperti menyentuh bara api. "Tuan Enzo, aku bisa jalan sendiri sekarang," ucapku pelan, tapi sepertinya dia tidak mendengarnya. Dia terus saja berjalan. Tuan Enzo tidak menatapku, jadi aku sempat mencuri pandang ke wajahnya. Amarah tergurat jelas di sana. Tapi ketika dia hendak menoleh ke arahku, aku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jalan. Jika sebelumnya, saat Marco menyerangku, aku merasakan ketakutan bercampur teror, sekarang aku bahkan tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Jantungku berdegup tak terkendali, apalagi saat kulitku bersentuh

