Keesokan harinya Laras dan Alena sudah diizinkan pulang. Mereka semua pulang bersama dalam satu mobil. Tapi Laras masih kesal dengan sikap Ryan. Karena itu dia memilih duduk di depan bersama Pak Sapta. Sementara, Ryan, Alena dan juga Mbak Yanti duduk di belakang. Kalau dipikir jika melihat pemandangan ini memang sangat menjengkelkan dan juga menyedihkan. Mana istri mana teman segalanya jadi makin susah dibedakan. Yang istri duduk sendiri bersama sopir. Temannya malah asyik gelendotan dengan suaminya dengan begitu manja. “Kalau seperti itu, aku tak yakin kau akan mencari ayah dari anak yang kau kandung itu, Al,” ucap Laras dalam hatinya. “Ya, Tuhan… Tolonglah hamba. Sepertinya Alena terus menggunakan kemalangannya untuk menancapkan taringnya di hati suamiku. Apa yang harus kuperbuat?” uca

