1. Kamu Menghilang Setelah Malam Pertama Kita

2239 Kata
Laras menggeliat di balik selimutnya. Dia memiringkan tubuhnya dan ingin memeluk Ryan. Tapi dia terkejut dan segera tersadar dari tidurnya. Ketika tangannya tak merasakan sosok tubuh yang dicari tak ada. Kemudian dia membuka mata. Memang benar, Ryan tidak ada di sampingnya. Laras melihat jam dinding di kamar hotelnya. Waktu baru menunjukkan jam 02:20 dini hari. Kedua matanya lalu beredar ke seluruh penjuru kamar. Tak dia temukan Ryan juga. “Hmm... Pasti dia sedang ada di dalam toilet sana,” kata Laras. “Ya sudah, tidur lagi saja,” lanjutnya dengan suara malas dan berat. Kemudian dia buru-buru menarik selimut lagi dan memejamkan mata kembali. Takut Ryan mengetahui kalau dirinya telah bangun dan mencarinya. Ryan bisa-bisa akan merayu dan menaklukkannya lagi. Laras memejamkan mata sambil senyum-senyum mengingat indahnya kebersamaan dengan Ryan yang telah mereka lalui beberapa jam lalu. Malam pertama yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Tak terasa, Laras akhirnya terlelap kembali. Namun ketika pagi tiba, Laras kembali terkejut. Setelah dia bangun, masih tak mendapati Ryan di sampingnya. Kemudian dia mencari Ryan di toilet sampai balkon. Namun batang hidung suaminya itu tak dia temui. “Ya, Tuhan... Berarti dari semalam dia belum kembali? Sebenarnya kamu ke mana, Ryan?” tanya Laras cemas sambil mencoba menghubungi suaminya itu dengan ponselnya. Namun sayang, ponsel Ryan tak bisa dihubungi. “Aduh, bagaimana, nih? Kenapa ponselmu juga nggak bisa dihubungi?” gerutu Laras mulai panik. “Ryan, kamu sebenarnya ke mana? Ada apa?” tanya Laras berjalan ke sana kemari pusing tujuh keliling. Secara bersamaan tiba-tiba mata dan mulut Laras terbuka lebar-lebar. “Hah, tidak! Jangan-jangan semalam telah terjadi sesuatu dengan Mama atau Papa?” Laras lalu bergegas ke lemari dan mengganti baju tidurnya. Dengan cepat dia mengambil kaos lengan pendek, celana panjang. Begitu selesai mengenakannya, dia lalu menyambar ponselnya dan buru-buru keluar kamar menuju kamar tempat mertuanya menginap yang tak jauh dari kamarnya dan Ryan. Laras khawatir salah satu dari mereka tiba-tiba sakit atau kenapa-kenapa. Sehingga sampai sekarang Ryan tidak kembali lagi ke kamarnya. “Kamu keterlaluan sekali, Ryan. Kalau sampai ada apa-apa dengan Papa dan Mama tapi tak bangunin aku, aku tak akan memaafkanmu,” kata Laras sambil jalan dengan tergesa-gesa. Begitu sampai, Laras langsung menekan bel. Cemas, tidak sabar, dan panik memenuhi perasaannya. Merasa sudah beberapa saat belum ada respon dari dalam kamar, Laras menekan bel itu lagi berkali-kali sambil menggedor-gedor pintu juga. “Ryan... Ryan... Tolong cepat buka pintunya. Papa-Mama kenapa?” panggil Laras tidak sabar. Laras langsung menghentikan tangannya mengepal begitu pintu dibuka. Bu Sarah muncul sambil mengusap kedua matanya. Dia terlihat baru saja bangun tidur dan masih mengenakan baju tidur agak seksi. Laras sedikit bernapas lega melihat ibu mertuanya baik-baik saja. Wanita itu tampak terkejut melihat Laras berdiri di depan pintu dengan wajah cemas dan memanggil-manggil putranya. “Laras, ada apa? Kenapa kamu memanggil-manggil Ryan? Dia tidak ada di sini, Nak,” tegas Bu Sarah kemudian. “Ayo, masuklah! Kita bicara di dalam.” Bu Sarah menarik tangan Laras mengajaknya masuk ke dalam kamar. Perempuan baik hati, berwajah cantik, berambut hitam panjang sebahu dan telah sukses memiliki puluhan warung yang dia bangun bersama Deril itu menurut saja. Meski dia telah diberitahu kalau Ryan tidak ada. “Jadi, Ryan tidak ada di sini, Ma? Sebenarnya di pergi ke mana, sih?” tanya Laras sambil kedua matanya menyapu seluruh ruangan kamar yang sama mewahnya dengan dengan kamar yang dia tempati bersama Ryan. “Iya, tidak ada, Nak. Masak Mama berbohong padamu,” jawab Bu Sarah bingung sambil mengernyitkan dahi menatap Laras. “Memang ada masalah apa antara kamu dengan suamimu? Apa kalian bertengkar?” tanyanya kemudian dengan penuh selidik. Laras menggeleng cepat dengan raut wajah masih cemas. “Tidak, Ma. Kami tidak bertengkar. Kami tidak ada masalah apa pun.” “Ada masalah apa? Siapa yang bertengkar? Mengapa kamu dan Ryan bertengkar, Nak?” tanya Tuan Darmawan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu berjalan mendekati Laras dan Bu Sarah sambil membetulkan jubah mandinya. Laras dan Bu Sarah agak terkejut dan menoleh bersamaan pada Tuan Darmawan. Laras terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan Tuan Darmawan. Dia menggelengkan kepala. “Nggak, Pa. Kami tidak bertengkar.” “Bukan, Pa. Tadi itu, Mama cuma bertanya pada Laras, apa kalian ada masalah? Atau sedang bertengkar? Karena Ryan pergi tanpa pamit sejak pukul 02:20 dini hari tadi, sampai sekarang belum kembali,” sahut Bu Sarah. “Oh ya? Bagaimana dia bisa begitu? Apa dia tidak meninggalkan pesan di ponselmu, Laras?” tanya Tuan Darmawan. “Nggak tahu, Pa. Saya juga bingung. Ryan tidak meninggalkan pesan apapun dan ponselnya tak bisa dihubungi,” jawab Laras. “Tunggu. Tapi kamu mengatakan Ryan pergi sejak pukul 02:20 dini hari tadi. Bagaimana kamu tahu?” tanya Bu Sarah menatap serius pada Laras dengan penuh selidik. “Itu hanya perkiraan saya saja, Ma. Tadi saat terbangun di sekitar jam itu, dia sudah nggak ada,” jawab Laras. Kemudian dia menceritakan kronologi kepergian Ryan sejak semalam yang baru disadarinya tadi pagi, “Begini, Ma. Awalnya, semalam saya pikir Ryan sedang berada di dalam toilet. Jadi saya tidur lagi, Ma, Pa. Tapi saat terbangun lagi, ternyata di samping saya masih kosong. Lalu saya cari dia ke semua bagian kamar dan balkon tapi dia nggak ada. Terus saya coba telepon, tapi tidak tersambung. Kemudian saya segera kemari. Saya pikir mungkin telah terjadi sesuatu dengan kalian. Dan Ryan ada di sini.” Laras tersenyum dengan raut wajah dibayangi kesedihan pada mertuanya silih berganti. “Tapi, syukurlah, tidak terjadi sesuatu dengan kalian. Meskipun saya juga kecewa, ternyata Ryan tidak ada di sini.” Lalu Laras menutup mukanya dengan kedua telapak tangan disertai suara mendesah resah. Melihat kegundahan menantunya, Tuan Darmawan berusaha menenangkan Laras. “Tenanglah, Nak. Jangan terlalu cemas begitu. Papa yakin tidak terjadi apa-apa dengan suamimu. Yah, mungkin saja, suamimu itu ingin memberi kejutan padamu,” tutur Tuan Darmawan dengan mengusap bahu kiri Laras pelan. “Iya, ‘kan, Ma?” Tuan Darmawan lalu melihat pada Bu Sarah. “Iya, Pa. Mama pikir juga begitu. Ryan ‘kan suka memberi kejutan sama Laras.” Bu Sarah melirik Laras sambil senyum-senyum nakal menggoda. “Kamu pasti masih ingat, ‘kan? Bagaimana waktu dia melamarmu kemarin?” Laras senyum tersipu. Tapi entah kenapa dalam hatinya tidak yakin jika Ryan akan memberikan kejutan itu. Meskipun dalam hatinya dia berharap begitu. “Baiklah, kita lupakan saja Ryan sebentar. Bagaimana kalau kita kasih Ryan kejutan duluan?” usul Tuan Darmawan sambil menepuk tangannya sendiri. Bergantian melihat Laras dan juga Bu Sarah. “Kejutan duluan? Bagaimana maksudnya Pa?” tanya Bu Sarah. Laras juga melihat Tuan Darmawan dengan serius. “Kita tinggal sarapan saja dia. Nanti kalau balik ke kamar nggak bisa menemukan Laras, biar gantian dia yang panik,” jelas Tuan Darmawan. “Bagaimana? Seru ‘kan ide Papa?” tanya Tuan Darmawan dengan senyum penuh percaya diri. “Wah, iya. Boleh juga ide, Papa.” Bu Sarah tampak senang sekali. “Bagaimana, Sayang? Kamu setuju, ‘kan?” tanyanya kemudian pada Laras. “Nggak, Ma. Saya belum lapar. Mama dan Papa silakan sarapan dulu saja. Saya akan mencari Ryan di sekitar hotel ini,” jawab Laras dengan tidak bersemangat. Tuan Darmawan dan Bu Sarah agak terkejut mendengar penolakan Laras. Mereka tak menyangka Laras ternyata sangat serius memikirkan kepergian Ryan. Bu Sarah kemudian meraih tangan menantunya dan menenangkannya, “Laras, kamu jangan terlalu cemas begitu, dong. Yakin saja, suamimu itu tidak kenapa-kenapa.” “Oh ya, siapa tahu Ryan ada di restoran hotel ini sedang cari sarapan dan minum kopi,” celetuk Tuan Darmawan. “Masak sarapan sejak jam dua pagi, Pa?” tanya Laras. “Tentu saja tidak, Sayang. Ryan cari makannya sejak pagi tadi, sebelum kamu bangun. Dan semalam kamu mungkin tidak tahu saja, kalau dia sebenarnya sudah tidur lagi di samping kamu saat dia dari kamar mandi,” sahut Bu Sarah dengan senyum penuh kasihnya. “Mungkin, tadi pagi dia tiba-tiba merasa lapar sekali yang tak tertahankan. Yah, maklum saja karena semalam habis kerja keras,” Tuan Darmawan mencoba membantu Bu Sarah memberi penjelasan pada Laras dengan mengangkat berkali-kali kedua alisnya. Bu Sarah menahan tawa manggut-manggut setuju. “Benar, Laras. Mama juga berpikir begitu.” Laras kembali tersipu malu. Meski wajahnya terlihat sedih tapi rona pipinya bersemu kemerahan. Sebenarnya dia agak jengkel juga dengan kedua mertuanya dalam situasi hatinya yang tidak tenang, masih sempat-sempatnya mereka melancarkan godaan terus-terusan. Tapi walau begitu, dia memahami, jika mereka hanya bermaksud menghiburnya. “Baiklah, Ma. Saya tunggu di depan pintu.” “Nah, gitu, dong. Kami akan ganti baju dulu. Tunggu sebentar, ya.” Laras mengangguk. Bu Sarah lalu menutup pintunya setelah Laras berada di luar. Laras berdiri dengan gelisah di depan pintu. Pandangannya mengarah ke pintu lift yang ada di ujung lorong ini. Meskipun terdengar masuk akal. Laras tidak yakin dengan pendapat kedua mertuanya itu kalau saat ini Ryan sedang berada di restoran sedang cari sarapan atau minum kopi. Rasanya sulit dipercaya jika dirinya kalah menarik dibandingkan secangkir kopi setelah keindahan dan kebahagiaan yang telah mereka lalui semalam. Jika itu benar. Laras akan sangat kecewa sekali dengan Ryan. Pagi ini seperti sepasang pengantin yang sedang berbahagia lainnya, seharusnya mereka menyambut pagi bersama-sama. Satu sama lain tak ingin berpisah sedetik pun. Jangankan sampai pergi jauh. Laras pernah dengar dari cerita teman-teman dan orang-orang yang sudah menikah, ke toilet saja inginnya bersama-sama terus. Tak pernah dia kira pagi pertamanya sebagai pengantin akan seperti ini. Laras pikir segalanya akan lebih indah dari kemarin. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ryan justru membuatnya cemas dan khawatir. Sebagai seorang istri, meski belum ada dua puluh empat jam, Laras yakin, kepergian Ryan ini bukanlah demi memberi kejutan untuk dirinya atau pun hanya sekedar mencari makan. Kepergian Ryan ini sangat misterius. Tidak wajar dan serius. Bukan pergi karena hal yang remeh atau pun sepele. Laras hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan suaminya. Semoga Ryan akan segera kembali dan baik-baik saja. *** Laras sedang tenggelam menikmati kelezatan secangkir coklat hangat dan sepotong banana cake. Untuk sesaat dia merasa lebih rileks dan bisa mengobati kekecewaannya karena Ryan tak ada di restoran ini. Perasaannya menjadi sedikit lebih tenang. Namun itu semua jadi terusik, ketika Tuan Darmawan menerima telepon dari salah satu asisten rumah tangga di rumahnya. “Ada apa, Yanti?” “Tuan, saya diminta Tuan muda untuk menelepon Anda. Beliau meminta Tuan, Nyonya Sarah dan Nyonya Laras supaya pulang ke rumah sekarang juga,” jawab Yanti dengan suara terdengar sedikit panik. “Apa? Ryan sekarang sudah ada di rumah? Bagaimana dia bisa pulang ke rumah tanpa mengajak Laras?” tanya Tuan Darmawan terkejut dan terlihat gusar. Laras yang sedang menikmati cake-nya terkejut. Makanan itu jadi tertahan di tenggorokan. Melihat Laras tersengal-sengal Bu Sarah langsung menepuk-nepuk bahu Laras. Dan memberinya segelas air putih. “Cobalah minum dulu jika bisa.” Laras menolaknya dengan gerakan tangannya. Dia ingin tetap fokus mendengarkan percakapan Tuan Darmawan sambil berusaha keras untuk menelan cake itu. “Ry… Ry… Ryan sudah pulang ke rumah, Pa?” tanya Laras terbata-bata menatap mertuanya itu penasaran. Pria itu hanya mengangguk dan memberi isyarat pada Laras dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir, supaya diam dulu. Laras kemudian menyimak percakapan mertuanya itu. Meskipun di dalam hatinya kecewa dan bertanya-tanya mengapa Ryan lebih dulu pulang ke rumah tanpa mengajak dirinya. “Benar, Tuan. Tuan Ryan baru saja pulang dengan...” Yanti menghentikan ucapannya karena terkejut mendengar jeritan seorang wanita. “Siapa yang menjerit itu?” tanya Tuan Darmawan dengan cepat. Laras dan Bu Sarah menatap Tuan Darmawan setelah mendengar pertanyaan yang dia ajukan kepada Yanti. “I... Itu.” Yanti masih terbata-bata ponselnya sudah disambar oleh Pak Sapta. “Halo, Tuan. Ini saya, Sapta. Tolong, Tuan dan Nyonya, juga Nyonya muda pulang sekarang juga. Nanti Tuan akan mengetahui semuanya.” “Ada apa sebenarnya ini Pak Sapta?” tanya Tuan Darmawan bingung. “Saya sudah mengirim sopir dan seorang asisten ke sana, Tuan. Sebentar lagi Karim akan datang. Mereka akan membantu Tuan dan Nyonya berkemas. Silakan Tuan bersiap.” Tuan Darmawan membuang napas keras. Sebagai tanda dia merasa kurang puas dengan jawaban Pak Sapta. “Baiklah. Kami akan menunggu mereka.” “Sebenarnya ada apa ini, Pa? Mengapa Ryan pulang ke rumah tanpa mengajak saya, sih? Terus, siapa yang menjerit tadi? Wanita apa pria?” Laras langsung mengajukan pertanyaan. “Entahlah, Nak. Papa juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan suami kamu. Dan suara yang menjerit tadi itu suara wanita. Mereka takut berterus terang,” jawab Tuan Darmawan lalu mengambil membersihkan sudut bibirnya dengan sapu tangan. Jantung Laras seakan berhenti berdetak setelah mendengar jawaban ayah mertuanya itu. Kecemasan dan penasaran langsung menyergap hati dan pikirannya. “Kita berkemas saja sekarang. Sampai di rumah kita akan menemukan jawabannya. Pak Sapta sudah mengirim sopir dan asisten kemari,” katanya kemudian. “Baiklah, kalau begitu, mari kita ke kamar dan berkemas. Mama jadi penasaran, sebenarnya ada apa ini? Siapa wanita yang menjerit itu?” tanya Bu Sarah kemudian bangkit dari tempat kursinya. Kemudian dia melihat Laras yang masih terpaku. “Sayang, ayo balik ke kamar kita!” “I... Iya, Ma,” sahutnya agak tergagap karena melamun. Tapi dia tidak lekas bangkit. Untuk beberapa saat, Laras masih duduk terpaku saja di kursinya. Sementara kedua mertuanya sudah berjalan meninggalkan tempat itu. Sungguh, dia sebenarnya merasa syok sekali dengan kabar ini. Ternyata Ryan saat ini sudah pulang ke rumah. Mengapa Ryan pulang ke rumah tanpa mengajaknya? Mengapa Ryan justru menghubungi Papanya dan bukan dirinya? Dan, siapa gerangan wanita yang menjerit itu? Mengapa dia menjerit? Laras benar-benar jadi penasaran dan pusing dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN