“Katakan, kau mau bicara apa?” tanya Ryan dengan wajah masih menyimpan kesal ketika keduanya telah duduk di ruang tamu. Deril mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya. “Sampai kapan akan terus begini, Ryan?” “Apa maksudmu? Jangan bertele-tele. Cepat, katakan dengan jelas. Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Ryan tak sabar dan bergaya arogan. Deril menoleh ke samping dan menyeringai kesal. Lalu menatap Ryan. “Laras, benar. Kamu kadang memang kekanak-kanakan.” Ryan tertawa kesal. “Oh ya? Kau yang bertele-tele dan penuh teka-teki, Deril.” Deril terlihat serius. “Kalau terus begini, lama-lama kamu akan menyakiti dua orang perempuan sekaligus, Ryan.” “Apa kamu tidak bisa bicara pada intinya, Deril?” Ryan melotot menatap Deril. “Kau ini boddoh atau apa? Jangan pura-pura tidak paham

