Bangun pagi, Laras tak lekas turun dari ranjang. Dia masih duduk dengan wajah lesu dan sedih. Ia kecewa. Ryan semalam tak memenuhi janjinya datang kemari. Ternyata itu hanya untuk menghiburnya saja. Laras mengira, mungkin itu dia lakukan supaya dirinya tak membuat keributan. Ryan ingin dirinya menjadi manusia menyedihkan. Hanya duduk manis di kamar dan menunggunya jika sewaktu-waktu ia datang. Laras tidak ingin terus hidup dalam ketidakpastian seperti ini. Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih berguna. “Tidak! Aku nggak mau menjadi orang yang menyedihkan seperti ini. Hanya demi menunggumu yang entah kapan datangnya. Cukup, Ryan! Selama ini aku sudah cukup bersabar,” ucapnya seraya mengusap air mata yang mulai menggenang dengan punggung telapak tangannya. Laras turun dengan cepat lalu per

