“Direktur Li!”
Seseorang memanggil Li Xian dari belakang, membuat lelaki bertubuh tegap dengan setelan jas berwarna abu-abu itu pun membalikkan tubuhnya. Namun, sepasang alis tebal itu tampak bertaut bingung saat mendapati seorang gadis bertubuh mungil menghampirinya.
“Ada apa, Tong Xin?” tanya Li Xian bingung.
“Aku mau memberitahu kalau nanti ada rapat peluncuran aplikasi,” jawab Tong Xin sembari memberikan sebuah map berwarna biru kepada Li Xian.
“Terima kasih,” ucap Li Xian tulus, lalu menatap gadis mungil itu lagi. “Apa ada urusan lagi?”
“Tidak, Direktur Li,” balas Tong Xin menggeleng pelan, membuat Li Xian mengangguk singkat, lalu melenggang pergi melanjutkan langkahnya yang mengarah pada Departemen Teknologi.
Sementara itu, Tong Xin yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun kembali ke Departemen Personalia. Melanjutkan pemberkasan yang sempat tertunda akibat menyelesaikan pekerjaan Yushi. Entah kenapa gadis dewasa itu tiba-tiba tidak masuk kantor, bahkan bosnya pun ikut tidak masuk.
Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Zhang Xiao Na telah masuk kantor. Akan tetapi, wanita itu malah berdiam diri di tempat para trainee melakukan pelatihan, yaitu lantai bawah tanah. Sebenarnya, bukan sengaja ia datang ke sini, tetapi Xiao Na memang sering meluangkan waktu untuk mengecek kemampuan para anak didiknya yang mulai bertambah.
Kini Zhang Xiao Na terlihat tengah berbincang singkat dengan Zarco, salah satu Tim N&N dari lima orang yang sering kali menjadi juara umum. Selain itu, Zarco merupakan kapten dari Tim N&N yang mewakili 02, DJ a.k.a Feng Zhen, Grunt, dan Si Mungil Demo.
Kelima lelaki tampan dengan perbedaan usia yang tidak terlampau jauh itu pun tampak berada di ruang rapat bersama Zhang Xiao Na. Raut wajah mereka terlihat serius seiring telinganya mendengarkan apa saja yang dikatakan pemimpin cantik dengan segala kepandaiannya dalam hal berbasis komputer.
“Zarco, laporan!” titah Zhang Xiao Na menatap lelaki tampan dengan lengan kanannya dihiasi sebuah logo khas Tim N&N yang berbentuk bulat.
“Baik, Bos!” balas Zarco bangkit dari tempat duduknya, lalu mulai mengucapkan semua pencapaian mereka bulan ini, termasuk Demo yang mulai meningkatkan kemampuannya. Semua laporan itu tidak luput dari pendengaran Zhang Xiao Na.
Sedangkan Yushi terlihat sibuk memberikan pada arahan manajer tim, Su Yuan. Tentu saja mengingat pertandingan mereka yang sudah tidak sebentar lagi. Sebab, Xiao Na memang ditantang untuk melawan salah satu kolega bisnisnya. Akan tetapi, tidak kunjung dijawab sampai wanita itu benar-benar memutuskan untuk menurunkan salah satu tim andalan.
Namun, mereka bukan hanya sekedar menurunkan tim untuk menang, meskipun tujuan pertama mereka adalah meraih kemenangan. Akan tetapi, Zhang Xiao Na selalu mengajarkan kalau pertandingan itu untuk mengukur kemampuan masing-masing dari peserta pelatihannya.
Setelah selesai melaporkan semuanya, Zarco pun kembali duduk. Kini tanggal Zhang Xiao Na yang kembali melihat laporan penilaian bulanan. Benar yang dikatakan Zarco kalau Demo telah mendapat kemampuan lebih, terlihat jelas sekali dari peningkatan nilainya yang cukup drastis.
Sejenak Zhang Xiao Na menatap satu per satu anak didiknya yang terlihat menunduk takut. Kemudian, wanita cantik itu melempar map biru itu kembali ke tengah-tengah meja rapat.
“Ingat, kemampuan kalian harus ditingkatkan lagi,” ucap Zhang Xiao Na penuh keseriusan. “Jangan hanya mendapat nilai yang cukup drastis daripada biasanya sudah membuat kalian bangga.”
“Baik, Bos!” balas mereka serempak.
“Kenapa Gunt? Kamu terlihat tidak suka,” sindir Zhang Xiao Na menyadari anak didiknya yang mengembuskan napas panjang.
“Tidak, Bos!” balas Grunt sedikit ragu, membuat Xiao Na langsung mengernyit bingung. Akan tetapi, wanita itu langsung mengerti kemauan mereka.
“Hm ... Bos, kita semua ingin melihat kemampuanmu lagi,” ucap Demo ragu-ragu sembari 02 terus yang tersenyum lebar nenatap Zhang Xiao Na.
Zhang Xiao Na spontan menatap kelima lelaki tampan itu datar. Entah kenapa ia merasa kalau anak didiknya ini telah meragukan kemampuan yang sepertinya sudah terlihat tua.
“Baiklah. Lima menit lagi ke bawah,” putus Zhang Xiao Na sembari melenggang pergi meninggalkan ruang rapat.
Kepergian Zhang Xiao Na disambung riuh oleh 02, tanpa pikir panjang lelaki itu langsung merangkul bahu Demo.
“Kau sunggu luar biasa, Demo!” seru Feng Zhen tertawa pelan.
Demo hanya tersenyum canggung menatap Zarco yang menggeleng pelan melihat kelakukan keempat temannya.
“Hao la. Kalian tidak ada yang mau turun?” celetuk Grunt melenggang pergi dari ruang rapat bersama Zarco yang sudah lebih dulu keluar ruangan.
Dan benar saja, sesampainya di bawah Xiao Na terlihat sudah siap dengan komputernya. Bahkan wanita itu tengah sibuk memakai sebuah headphone sembari memanasnya jemarinya yang mulai menarik-nari indah di atas papan keyboard menyala dengan warna retro.
Seketika kelima lelaki itu pun terhenti menatap Zhang Xiao Na yang terlihat sudah siap untuk bertanding. Padahal mereka hanya ingin mengetes kemampuan, bukan untuk menyombongkan diri. Akan tetapi, perkiraan mereka salah, ternyata bosnya itu telah menganggap semua dengan serius.
Zhang Xiao Na menoleh saat telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu berkata, “Ayo! Siapa yang ingin menjadi pertama?”
Sontak keempat lelaki tampan itu pun terlihat mendorong satu sama lain, sedangkan Zarco memisahkan diri untuk berbincang dengan manajer yang tengah duduk bersama sekretaris pribadi bosnya. Ia memang terbiasa tidak pernah ikut latihan, sebab dirinya merupakan satu-satunya teman Zhang Xiao Na sejak wanita itu masih mengibarkan bendera kejayaan di China. Sayangnya, bendera itu harus redup kala semuanya menjadi abu.
Akhirnya, dari keempat lelaki itu pun hanya Grunt yang memberanikan diri untuk melawan Zhang Xiao Na terlebih dahulu, membuat ketiga temannya langsung menghela napas lega.
“Bos, jangan terlalu sadis, ya?” pinta Grunt sembari mendudukkan diri di kursi gamers.
Zhang Xiao Na terlihat mengangkat bahunya, lalu menatap Grunt polos. Seolah apa yang ia lakukan adalah sesuai dengan kemampuannya. Meskipun tidak terlalu dikeluarkan.
Tidak sampai menunggu lama, Grunt pun kalah telak, membuat lelaki itu mengerang kesal, lalu bangkit dari kursi. Sedangkan Zhang Xiao Na terlihat merenggangkan jemarinya sembari menunggu anak didiknya.
“Bos, jangan bekerja terlalu keras,” ucap 02 sedikit takut, lalu mulai mengenakan headphone.
Dengan raut wajah fokus seakan tidak ada yang bisa menganggunya, Xiao Na terlihat menggerakkan jemarinya dengan mudah menembus pertahanan kokoh yang tengah didirikan Mingyu a.k.a 02.
Lagi-lagi mereka harus menerima kekalahan dalam perlombaan mengalahkan Zhang Xiao Na yang sudah menjadi sesepuh di dunia per-gaming-an. Akan tetapi, sebutan legenda bagi wanita itu memang benar adanya. Tidak akan pernah bisa mengalahkan God Hand, nama lain dari Zhang Xiao Na.
Bahkan dengan sekali menjentikan jari Xiao Na bisa mengalahkan semua anak didiknya dalam waktu singkat. Bahkan Demo sendiri tidak mempunyai waktu untuk menguatkan pertahanannya, sebab Zhang Xiao Na sudah melemparkan serangan telak pada saat lelaki itu sibuk mendirikan pondasi untuk memperkuat keamanan. Akan tetapi, bukannya aman malah memudahkan musuh untuk memasukinya.
Raut wajah kekecewaan jelas sekali terlihat dari Feng Zhen a.k.a DJ yang hampir saja menembus pertahanan Zhang Xiao Na. Tentu saja saat fokus wanita itu terganggu akibat perkataan Yushi yang mengingatkan dirinya untuk segera naik ke ruang rapat.
Akhirnya, setelah menyelesaikan semua pertandingan kemampuan, Zhang Xiao Na pun melenggang pergi dari sana. Tentu saja ia masih mengingat rapat yang diadakan hari ini. Mungkin sedikit mengejutkan dirinya hadir, sebab ia sudah berkata kalau tidak akan hadir. Nyatanya wanita itu malah muncul dengan raut wajah datarnya.
“Bos, kau sudah ingin pergi?” tanya Demo mendapati Xiao Na tengah berdiri tepat di depan resepsionis.
“Iya, aku masih ada rapat,” jawab Xiao Na mengangguk pelan.
“Kalau begitu, semangat, Bos! Aku akan berusaha lebih keras lagi,” ucap Demo mengepalkan tangan kanan ke udara, membuat Zhang Xiao Na tertawa pelan.