15. Life For Happiness

1051 Kata
Merasa namanya dipanggil, seorang wanita berpakaian blouse warna putih dengan polkadot hitam itu pun membalikkan tubuhnya. Namun, matanya langsung mendelik tidak percaya melihat Xiao Na berada tepat di belakangnya. “Aiya, Nana! Sedang apa kamu kemari?” tanya Chen Qianqian menghampiri Xiao Na. “Tidak ada. Aku hanya kebetulan lewat saja, jadi sekalian datang,” jawab Xiao Na menyembunyikan fakta bahwa ia datang ke sini untuk mencari hadiah. Namun, setelah melihat kakak iparnya, dan kakak kandungnya juga ada di sini, Xiao Na memilih untuk tidak memberi tahunya. Karena itu sama saja membuat dirinya kembali dipojokkan masalah perjodohan. “Oh seperti itu. Kebetulan sekali Xiao Wei memintaku untuk membeli tas, tetapi karena aku sedang tidak ingin, jadi aku membelikannya untukmu. Mau tidak?” tanya Chen Qianqian dengan tawaran yang sedikit menggiurkan. Xiao Na terlihat berpikir sejenak. Sebenarnya, memang tidak ada salahnya juga menerima hadiah dari kakak iparnya, tetapi sangat tidak sopan kalau dirinya malah memberikan hadiah itu kepada orang lain. Kini perasaan dilema menghampiri Zhang Xiao yang biasanya terlihat fokus terhadap memutuskan sesuatu. “Tidak apa-apa, Kak. Aku juga sedang tidak ingin membeli tas lagi. Lagi pula di apartemen sudah banyak,” tolak Xiao Na dengan halus. Ia memang tidak pernah menolak pemberian Chen Qianqian. Ini adalah pertama kalinya ia menolak pemberian wanita itu. “Tapi Nana, ini adalah tas incaran Kakak dari lama. Kamu harus memilikinya, karena ini limited edition, dan hanya satu dari tiga buah tas di dunia,” ucap Chen Qianqian tetap bersikeras memaksa Xiao Na agar mau menerimanya. Akhirnya, mau tak mau Xiao Na pun menerima tas pemberian kedua kakaknya. Namun, penderitaan Xiao Na tidak sampai di situ saja, ternyata Chen Qianqian kembali merencakan sesuatu bersama Xiao Wei. Sebab, mereka berdua terlihat ada yang tidak beres. Bahkan sesekali terlihat memperhatikan dirinya. “Bagaimana di perusahaan?” tanya Xiao Wei membuka pembicaraan saat mereka berdua tengah berada di restoran Sushi Tei. “Masih seperti biasa,” jawab Xiao Na singkat, lalu kembali melahap sushi yang ada di hadapannya. “Apa kamu sudah berubah pikiran untuk segera menikah?” tawa Xiao Wei lagi. Kali ini langsung menghentikan adiknya yang terlihat ingin memasukan sebuah sashimi ke dalam mulutnya. “Kak, memangnya aku harus menikah? Lagi pula aku sudah kaya, mapan, bahkan aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa harus ada seorang lelaki,” jawab Xiao Na tidak habis pikir. Padahal dirinya telah mengatakan hal yang sama kepada orang-orang yang ingin sekali dirinya cepat menikah. “Nana, dengarkan aku. Dia sudah tidak lagi ingat denganmu, jadi sudahlah lupakan. Sampai kapan kamu harus menunggu?” tanya Xiao Wei yang kembali mengungkit masa lalu. Sebenarnya, Xiao Na sendiri sama sekali tidak terbesit mencari pasangan. Meskipun salah satu faktornya adalah menunggu lelaki yang sudah mengisi hatinya. Akan tetapi, semakin lama ia merasa semakin tidak percaya diri. Kini Xiao Na pun benar-benar kehilangan percaya diri hanya untuk memulai sebuah hubungan baru. Karena ia takut akan berakhir sama seperti apa yang ia alami sekarang. “Sudahlah, Xiao Wei. Kita harus mengerti, Xiao Na. Kalau kamu terus bersikap seperti ini, nanti Xiao Na sudah tidak punya pendukung lagi. Kamu jangan terus mendesak Xiao Na. Biarlah dia mengejar impiannya dulu,” sahut Chen Qianqian seperti biasa. Ketika kakak-beradik itu terlibat perdebatan, hanya Chen Qianqian yang biasa melerainya. Karena Xiao Na dan Xiao Wei sama-sama tidak mau mengalah, membuat keduanya tidak akan pernah menemukan jalan tengah. Seketika Xiao Wei menghela napas pelan. Ia merasa memang sudah keterlaluan hari ini, sebab tidak seharusnya ia berkata seperti itu pada adiknya. Padahal selama ini yang mendukung Xiao Na benar-benar hanya dirinya, sedangkan kedua orang tuanya terlihat tidak peduli, selain memperluas kekayaannya sendiri. “Nana, maafkan aku. Bukannya aku terus mendesakmu untuk segera melupakan lelaki itu,” sesal Xiao Wei menatap Xiao Na yang terlihat tersenyum dipaksakan. Ia tahu kalau adiknya itu hanya berpura-pura tegar. “Tidak apa-apa, Kak. Memang apa yang Kakak bilang tadi benar, aku harus segera melupakan lelaki itu. Tapi, melupakan tidak semudah mengingat, Kak. Jadi, aku masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini,” balas Xiao Na berusaha ceria, meskipun terkadang di dalam hatinya berteriak marah. Namun, ia sendiri tidak tahu harus marah pada siapa. “Kakak terima kalau kamu mau seperti itu.” Xiao Wei kembali memasukan sushi ke dalam mulutnya. “Oh ya, Kakak dengar, Han Siyang akan segera bertunangan.” Xiao Na yang tengah memasukkan makanan ke dalam mulutnya pun langsung terhenti, lalu menatap sang kakak penasaran. Tentu saja ia tidak percaya kalau kakaknya bahkan mendengar berita pertunangan itu. Jangan sampai orang tuanya melakukan hal yang sama, karena Xiao Na sedang tidak siap menghadapi mereka berdua. Terlebih masalah mendekatkan diri dengan anak konglomerat kaya. “Kakak tahu dari mana?” tanya Xiao Na menyuarakan rasa penasarannya. Karena lelaki itu sama sekali tidak mengenal Han Siyang, tetapi kenapa bisa mengetahui berita pertunangannya. “Han Siyang itu salah satu kolega Kakak yang bekerja di perusahaan LX Group. Kebetulan sekali aku pernah ke sana untuk menjalin kerja sama,” jawab Xiao Wei seadanya. Karena lelaki itu memang pernah beberapa kali bertemu, meskipun hanya bertegur sapa dengan singkat. Xiao Na terlihat mengangguk beberapa kali, lalu berkata, “Oh, jadi sekarang dia kerja di perusahaan otomotif. Nana kira dia bakalan buka warung internet. Padahal waktu itu dia bercerita ingin menjadi seorang bos dari warung internet.” “Benarkah?” tanya Chen Qianqian sembari tertawa geli. Membayangkan wajah cuek Han Siyang akan menjadi seorang bos dari warung internet. Apalagi lelaki itu dikenal sebagai sesepuh di dunia gaming professional. Tidak ada yang tidak tahu dengan lelaki itu. “Hm! Aku tidak bohong. Makanya, sempat terkejut mendengar dia kerja di perusahaan otomotif,” jawab Xiao tertawa pelan, lalu meminum air mineral yang selalu ia bawa di dalam tasnya. “Aku tidak tahu kalau Han Siyang mempunyai cita-cita seunik itu,” ucap Chen Qianqian tidak percaya. Xiao Na hanya tertawa pelan menatap kakak iparnya yang terlihat menandaskan minumannya akibat tawa geli tadi. Kemudian, ia menatap kakak kandungnya. “Lalu, Han Siyang berbicara apa saja, Kak?” “Tidak ada. Dia hanya memberitahuku seperti itu, tapi aku tidak mengatakan apapun pada Mama dan Papa. Karena kamu pasti tidak menyukainya,” jawab Xiao Wei bijak. Lelaki itu kembali menjadi kakak pelindung bagi Xiao Na. “Bukannya tidak suka, Kak. Aku hanya ingin menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Tanpa harus berpura-pura lagi seperti dulu,” ucap Xiao Na tersenyum getir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN