Langit jingga memenuhi seluruh penjuru kota Jakarta, matahari perlahan memudarkan sinarnya, sama seperti senyum Raihan yang pudar dan bahkan sama sekali tidak terlihat. Setelah berganti baju sehabis pertandingan, ia pulang dengan motor maticnya menyusuri jalanan dengan perasaan yang campur aduk. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh. Sesampainya dia di rumah, Papa dan Mamanya belum menunjukkan keberadaan, mungkin mereka lembur. Raihan melempar tasnya asal dan membaringkan badannya menghadap ke langit-langit kamar, melepaskan seluruh penatnya seharian. Ia kembali merogoh sakunya mengecek apakah ada pesan yang Salsa kirim untuknya dan benar saja. Raihan sorry! gue lupa sumpah, tadi gue jalan ama alvin dan bener-bener lupa soal jadwal pertandingan lo, gue minta maaf ya beneran gu

