06;10.
Anjir gue telat!
Salsa yang baru saja melihat jam dinding yang menggantung di kamarnya segera berlari ke kamar mandi, biasanya Salsa bangun sepeluh menit sebelum jam 6, tapi kali ini malah lewat. Gawat.
Setelah mandi seadanya, memakai seragam, menyisir rambut, Salsa akhirnya siap berangkat. Hanya butuh waktu 30 menit saja bagi Salsa untuk berkemas
"Ma, Salsa berangkat dulu ya, udah telat nih" pamit Salsa ke Ros dan Adit yang sudah kumpul di meja makan.
"Eh? Sa! Makan dulu ini ambil aja roti yang penting perut kamu keisi" Ros mengingatkan anak bungsunya itu
"Lo udah telat terus mau naek angkot?" tanya bang Adit
Salsa mengambil sepotong roti bakar dari piring "Ya napa emangnya?"
"Lo kan tau angkot lama, suka singgah ga jelas, Mending sama gue yuk cabs" Adit lalu beranjak dari kursi meja makan
"Loh 'Dit? Kan belum habis tuh"
"Serius bang? Yuk ah keburu gerbang sekolah di tutup nih" kata Salsa dengan mulut yang masih mengunyah roti
"Lah ini kok?" Mama Salsa tampak bingung dengan tingkah kedua anaknya ini
"Pergi dulu Ma, Assalamualaikum" pami Bang Adit
"Cepetan Bang!!" teriak Salsa dari teras rumah
"Sabar, k*****t!"
*
"Yes gerbang masih kebuka, makasih banget Bang, aaa sayang banget deh sama lu" Salsa akhirnya bernapas lega karena gerbang pak Sukri masih terbuka dan itu artinya dia selamat dari hukuman guru piket.
"Udah sana masuk" Bang Adit lalu tancap gas diikuti dengan Salsa yang masuk ke sekolah
"Pagi Pak Sukri" sapa Salsa pada Pak Sukri dengan senyum terbaiknya dan hanya ditatap heran oleh Pak Sukri.
Salsa sebenarnya senang hari ini, hanya karena insiden telat tadi, dia jadi lupa untuk menyunggingkan senyumnya. Karena kemarin Salsa terus chattingan dengan Alvin, belum lagi Video Call tidak jelas, sampai pap aneh, pokoknya mereka seperti sudah kenal lama. Dan gara-gara itu pula Salsa jadi telat tidur dan akhirnya telat. Apalagi hari ini mereka akan belajar bersama sepulang sekolah.
Baru saja Salsa duduk di tempat duduknya Bel masuk berbunyi.
"Anjir, selamat gue" ucap cewek itu lega
"Emang napa lagi lo terlambat?" tanya Raihan yang sudah duluan ambil posisi di tempat duduknya, main game.
"Ada deh hehehe" cengir Salsa sambil mengingat kejadian tadi malam
"Pengen banget di kepoiin ya?" tanya Raihan dengan mata yang masih tertuju pada handphonenya
"Alah lo mah Han, gitu doang marah"
"Siapa yang marah?"
"Lo"
"Gue ga marah kok"
"Oh yaudah berarti gausah gue kasi tau ya"
"Emang lo kenapa hampir terlambat?"
"Tuh kan lo emang kepo hahaha" Salsa tertawa melihat respon Raihan
"Ga kepo sih, nanya aja"
Bersamaan dengan itu Pak Rais, guru Matematika masuk ke kelas.
*
15 menit lagi.
Salsa tidak berhenti melirik jam tangannnya karena dia sudah tidak bisa membendung keinginannya untuk segeta belajar bersama Alvin, tapi sampai sekarang Alvin belum memberi tahu tempat yang mereka akan datangi, membuat Salsa makin penasaran.
Mata Salsa masih tertuju pada Pak Arif guru sejarah, tapi pikirannya menyebar kemana-mana, sebenarnya melihat ke Pak Arif itu hanya manipulasi agar Salsa terlihat merhatikan pelajaran padahal dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan guru yang Salsa doakan cepet pensiun ini.
Akhirnya bel, Salsa dengan semangat mengemasi peralatannya ke dalam tas, matanya sempat melirik ke depan pintu kelas dan benar saja, Alvin sudah lebih dulu berdiri dengan senyumnya yang bikin Salsa makin ingin cepat-cepat keluar kelas.
"Alvin tuh" kata Raihan
"Iye tau kok lo pikir gue buta"
"Alvin Sa! Anjir cakep banget" giliran Nia yang berkicau
"Gue duluan ya! bay!" Salsa lalu menyusul Alvin keluar kelas
"Hei" sapa Salsa
"Lo lama banget keluarnya"
"Biasa, Pak Arif"
"Haha pantes"
"Jangan malu-maluiin" tiba-tiba Raihan nimbrung di percakapan mereka berdua, Raihan sudah tahu kalo Salsa Alvin akan belajar bersama
"Apaan sih lo" kata Salsa
Tapi Raihan tidak menanggapi cewek itu, ia cuek saja, sambil terus jalan menyusuri koridor
"Yaudah, Yuk" ajak Alvin setelahnya
"Jadi dimana nih?" tanya Salsa saat mereka berdua jalan ke parkiran
"Starbucks aja yuk Sa" tawar Alvin
"Hm boleh deh"
Lagi-lagi Salsa jadi pusat perhatian anak-anak Jaya Negara, kemarin diantar pulang Raihan, sekarang dengan Alvin. Tapi Salsa sudah terbiasa, awalnya dia cukup risih tapi ya mau bagaimana lagi.
"Yaelah Vin, gue bisa sendiri kali" tolak Salsa saat Alvin membukakan pintu mobilnya
"Udah gapapa, masuk aja"
Salsa berusaha membuka percakapan agar suasana sedikit mencair di dalam mobil Alvin
"Lo tau ga Vin? Tadi gue nyaris telat masa"
"Ah? Lo telat? Diapaiin bu Diana?" Jawab Alvin setelahnya
"Ga telat Vin, nyaris aja"
"Gegara apa emangnya?"
"Gara-gara lo ngajak Video Call ampe tengah malam" jawab Salsa sok marah padahal sebenarnya dia suka suka saja
"Hahaha astaga yang kemaren?" Alvin tertawa membuat dia terlihat lebih cakep. Serius, melihat Alvin tertawa, membuat Salsa juga ikut senyam-senyum. Meskipun itu sama sekali bukan karena topik.
"Ya abisnya gue gabut Sa, iya deh nanti gue ga ampe tengah malam lagi hahahahha" sambung Alvin kemudian
"Lo kok ketawa mulu? Apa yang lucu coba?"
"Lo" jawab Alvin singkat, padat, jelas.
Salsa terdiam di tempat karena perkataan Alvin tadi, hanya dua huruf tapi sudah membuat perasaan cewek itu tidak karuan.
"Lo lucu" lagi-lagi Alvin memperjelas kalimatnya barusan membuat Salsa makin salah tingkah
"Gue suka aja gitu liat cewek ngambek, jadi pengen peluk" Alvin melirik ke arah Salsa
Belum sempat Salsa menjawab, mobil Alvin sudah berhenti di salah satu Mall di Jakarta. Syukurlah, karena Salsa juga tidak tahu akan menjawab apa. Jika sedang salah tingkah seperti ini, Salsa akan diam bak patung.
"Yuk, Sa" ajak Alvin dan diikuti Salsa yang turun dari mobil Alvin
"Lo duduk aja dulu Sa, gue yang pesen, oiya lo mau apa?" tanya Alvin ketika mereka baru masuk ke dalam Starbucks
Musik dan aroma khas kopi menyeruak ke indra penciuman mereka
"Gue Caramel Frap aja deh yang large ya, gue duduk disana" kata Salsa sambil menunjuk sebuah spot sofa nyaman dekat dengan kaca
Alvin hanya mengangguk dan segera ke kasir untuk memesan, sementara Salsa langsung ambil posisi di spot yang tadi dia tunjuk. Dia lalu mengeluarkan kertas ulangan bahasa inggrisnya, buku catatan, dan buku cetak, tidak lupa dia menyiapkan handphone dengan connect ke wifi jaga-jaga untuk membuka google translate. Yang ingin diajar memang Alvin, tapi Salsa membawa semua perlatannya, meskipun tidak disuruh, dia sudah paham betul bagaimana cowok kebanyakan, ke sekolah kadang hanya membawa satu buku dan untung-untungan jika membawa pulpen.
"Sorry ya, tadi antri" Alvin tiba-tiba membuyarkan lamunan Salsa sambil membawa dua gelas starbucks pesanan masing-masing.
"Eh iya? Gue liat kok cie yang doyan greentea haha" goda Salsa pada Alvin yang ternyata pesan greentea large
"Iya, gue suka greentea" jawab Alvin
"Oiya nih" Salsa lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu, mengingat dia memesan yang large dan harga starbuck yang tidak murah
"Gausah Sa, itung-itung traktiran buat lo kan pengen ngajar gue hehe" tolak Alvin
"Lah? Serius nih? Jadi ga enak gue"
"Serius gapapa, nih minum dulu" Alvin lalu mendekatkan Caramel Frapuccino milik Salsa
"Okey makasih ya"
"Entaran aja ya Sa ngajarnya, pengen santai dulu" ucap Alvin
"Kayaknya kita sepemikiran deh hahaha" tawa Salsa dan Alvin bersamaan
"Itu kok lo bawa lengkap banget? Tau aja gue ga bawa apa-apa" kata Alvin dengan dagu yang menunjuk di atas meja yang penuh dengan buku Salsa
"Karena gue tau lo ga bawa apa-apa makanya gue bawa semua" jawab Salsa sambil mengecap caramelnya
"Perhatian banget siii" Alvin memasang wajah imut, bukan sok imut ya
"Alah biasa aja kali hahaha" lagi-lagi mereka tertawa
"Oiya, pinjem hp dong Sa" minta Alvin
"Boleh, tapi tukaran ya?" tawar Salsa
"Ya deh"
Mereka lalu sibuk dengan hp yang mereka tukar, Alvin dengan hp Salsa dan Salsa dengan hp Alvin. Galeri Alvin biasa saja, banyak foto dengan keluarga, teman-teman, kadang ada qoutes galau yang bikin membuat mereka tertawa bersama
"Ih Vin, gue belum masuk di grup angkatan nih, invite gue ya?" tanya Salsa
"Sip"
Salsa dengan handphone Alvin pun meng-invite dirinya sendiri menggunakan akun line Alvin.
"Terima Vin"
"Bentar, password line lo?"
"1323" jawab Salsa
"Cie tanggal jadian ya?"
"Apaan dah hahaha"
"Vin?!"
"Hm"
"Grup angkatan jadi rame gara-gara lo invite gue" kata Salsa gugup
"Ah masa?"
"Iya coba lo liat di hp gue"
"Kalo lo mau bales mending pake hp lo sendiri deh jangan punya gue" kata Salsa lagi
"Sa, balik sini" Salsa pun mengangkat kepalanya yang sedari tadi sibuk membaca ocehan tak jelas dari grup
Alvin sudah siap ingin selfie berdua dengan Salsa
"Senyum Sa, mau gue kirim ke grup" kata Alvin
Salsa pun senyum seadanya karena dia sama sekali tidak ingin dicap sok oleh teman-teman seangkatannya hanya karena gaya berlebihan
"Yah Vin gausah dikirim kali, ntar makin ribut dah nih grup"
"Gapapa hehe" cengir Alvin yang masih sibuk dengan handphone Salsa.
*
Langit Jakarta sudah berwarna jingga menunjukkan bulan akan segera mengantikan matahari. Salsa dan Alvin sudah duduk di starbucks kurang lebih 3 jam, padahal mereka hanya memesan 2 minum. Ya, namanya juga anak gaul, hanya pesan minum tapi nongkrongnya berjam-jam.
"Okey sini aja, makasih ya" pamit Salsa setibanya di depan rumah, dia kemarin sudah minta izin di Mamanya kalau ia ada kerja kelompok, tapi bukannya belajar bersama Alvin itu kerja kelompok juga?
"Makasih ya Sa! Makasih banyak, gue emang gatau bahasa inggris tapi gue bisa bilang i love you kok"
Jangan baper
Jangan baper
Jangan
"Alah apaan sih lo, duluan ya" Salsa pura-pura tidak merespon perkataan Alvin yang tadi walaupun sebenarnya kupu-kupu di perut Salsa sudah berterbangan
Aaah f**k butterflies, i feel the whole zoo when i'm with you.
"Dianter siapa Sa?" tanya Mama Salsa mengintrogasi, baru aja Salsa membuka pintu
"Itu mah, temen kelompok" dusta Salsa
"Oh cewek kan?"
"Lah emang Salsa pernah di anter cowok?" Alvin naik mobil jadi aman, kecuali kalo Alvin turun dari mobil, nah itu bahaya, bisa ketahuan
"Udah ya Salsa masuk dulu, capek"
Salsa lalu masuk ke kamar dengan perasaan bahagia super bahagia. Dia sangat menikmati setiap detik dengan Alvin hari ini, walaupun niatnya belajar tapi lebih banyak gabutnya. Apalagi Alvin yang sepertinya selalu saja sukses membuat jantung Salsa berdetak lebih cepat dari biasanya.