Setelah selesai makan, aku merapikan dapur terlebih dulu, lalu aku masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar pun mas herman tetap saja diam, aku bingung harus gimana.
"Mas....." ucapku..
"iya..." jawabnya singkat
" Aku minta maaf mas, aku tidak akan mengulangi nya lagi"
Mas herman hanya melihat ku ĺalu dia membuang muka. Aku sakit melihat mas herman seperti ini padaku.
" tidurlah.. " ucapnya
Tanpa basa basi aku segera saja naik keatas ranjang, ku benamkan wajahku kedalam selimut.
Tanpa terasa air mata ini mengalir begitu saja.
"Kenapa menangis?" tanya mas herman, ternyata dia belum tidu.
Aku hanya diam saja tidak menjawab.
"KENAPA!!!!" ucapnya keras
Dan itu berhasil membuatku semakin takut, Aku langsung menangis sejadi jadinya.
Mas herman malam ini begitu menakutkan bagiku.
Aku semakin takut, langsung saja aku menyibakkan selimut lalu aku berlari keluar kamar, aku lebih memlilih tidur di depan tv saja.
Aku menangis sejadi jadinya di depan tv, Mas herman kenapa, batinku.
Di dalam kamar mas herman mengusap wajahnya dengan kasar, emosi yang dari tadi dia bendung kini lolos karena mendengar tangisanku.
"Sayangg... maafkan mas" ucapnya saat menghampiriku.
"aku ketakutan lagi, aku takut akan dibentak lagi, terlebih aku takut mas herman berbuat kasar"
Aku berlari ke sudut ruangan lalu menangis sejadi jadi nya.
Mas herman mencoba menghapiri aku,namun segera ku tolak.
"TIDAKKKKK!!!! JANGAN MENDEKAT!!!!!!
PERGI..... SANA PERGIIII !!!!!!" ucapku padanya
Dia melihatku dengan raut wajah yang entah aku harus mengartikanya bagaimana.
Saat ku lihat mas herman malah menangis memandangku.
"Maafkan mas sayang, mas khilaf, mas salah, mas menyakiti kamu" ucapnya sambil menangis
Aku diam saja san tetap menangis, tidak peduli dengan ucapan nya. Hatiku sakit saat dia mendiamkan aku, namun ini lebih sakit lagi karena dia membentak aku.
"Maafkan mas sayang... mas janji gak mengulangilagi, mmas janji sayang" ucapnya lagi
Tiba tiba saja dia langsung menghampiri aku lalu mendekapku dengan erat, aku langsung memberontak, namun percuma, tenaga mas herman terlalu kuat, akhirnya aku hanya bisa pasrah saja.
"Maafkan mas sayang...." lagi dia mengucapkan itu
"Maafkan mas karena sudah membentak kamu, mas hanya takut kalau kamu terlalu sering bertemu laki laki itu, kamu akan berpaling dengan nya, terlebih kamu belum mencintai mas, sementara mas sudah mencintai kamu dari dulu" ucapnya sambil terus memelukku
"Dari dulu?" tanyaku dalam hati
"Mas takud kamu meninggalkan mas, mas akui mas sudah tua, dia masih muda dan lebih pantas dengan kamu, tapi mas tidak rela kalau kamu meninggalkan mas"
Aku hanya diam saja mendengar mas herman berbicara. Apa benar dia sudah mencintaiku dari dulu?
Ah entah lah..
"kita masuk ke kamar ya, kamu jangan takut dengan mas ya, mas khilaf, mas sudah berusaha menahan emosi mas dari tadi sore, tapi saat mendengar kamu menangis hati mas sakit, mas tanya kamu tidak menjawab. ucapnya lagi
Aku hanya diam saja mendengar itu semua. Mas herman menggendongku masuk ke dalam kamar, dia membersihkan sisa buliran bening yang berada di pucuk mataku.
Mas herman terus saja memelukku, mencium ku, mengelus pucuk rambutku agar aku tertidur.
Dan tidak lama kemudian aku pun akhirnha tertidur.
Dan kami tertidur dalam keadaan berpelukan.