Pagi berikutnya, suasana di rumah besar keluarga Zayn terasa lebih hidup dari biasanya. Warni duduk tegak di ruang tamu, ponsel masih berada di tangannya setelah percakapan dengan Zayn semalam. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan banyak rencana. Di hadapannya duduk Irana bersama kedua orang tuanya. Wajah Irana terlihat berusaha tenang, meski sorot matanya jelas menyimpan harap. “Jadi… bagaimana, Bu?” tanya Grace akhirnya, tidak mampu menahan rasa penasaran. Warni meletakkan cangkir tehnya dengan tenang, lalu menatap mereka satu per satu. “Zayn sudah setuju,” ucapnya mantap. Sejenak ruangan itu hening, sebelum wajah keluarga Irana berubah sumringah. “Benarkah?” Irana hampir berdiri dari duduknya. “Zayn benar-benar bilang begitu?” Warni mengangguk pelan. “Dia bil

