Pintu kamar itu tertutup keras. Irana berjalan mondar-mandir. Wajahnya masih dipenuhi emosi. Tangannya mengepal. Sementara di depannya… Grace duduk dengan tenang. Menatap putrinya dengan tajam. “Jadi… Zayn memutuskanmu?” Nada suaranya datar. Namun jelas menyimpan kemarahan. Irana langsung menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca. “Bukan memutus, Bu…” Suaranya bergetar. “Dia bilang… hubungan kami bahkan belum dimulai.” Kalimat itu terasa seperti penghinaan. Grace langsung berdiri. Wajahnya berubah. “Kurang ajar.” Nada suaranya dingin. Penuh amarah. Irana menggigit bibirnya. “Semua ini karena Nayla, Bu…” “Dia pasti yang mengadu ke Zayn!” Tangannya mengepal semakin kuat. “Selalu dia…” “Selalu saja dia yang merusak semuanya!” Grace terdiam sejenak. Namun sorot matanya s

