Flash back. Suara cambuk terdengar memecah udara malam. Dentuman kayu menghantam tanah, disusul desahan napas tegang puluhan orang yang berdesakan di halaman balai desa. Lampu petromak berayun-ayun ditiup angin, memantulkan cahaya kekuningan pada wajah-wajah yang penuh amarah dan rasa ingin tahu. Di tengah lingkaran itu, Kirana berlutut. Rambutnya berantakan, pipinya penuh debu, dan mata indahnya basah oleh air mata yang jatuh tanpa henti. Ia hanya mengenakan kain lusuh yang menutupi tubuhnya, tubuh yang kini gemetar di bawah tatapan jijik orang-orang yang dulu memanggilnya “anak baik.” Di depan kerumunan berdiri ibu mertua Kirana, seorang wanita tua berwajah keras yang kini tampak membara oleh emosi. “Untuk apa perempuan ini berada di kandang tengah malam dengan Bagas, kalau bukan unt

