Langit sore di Jakarta mulai berwarna oranye keemasan ketika jam di layar komputer Nada menunjukkan pukul 17.03. Suara mesin printer dan langkah-langkah karyawan yang bersiap pulang memenuhi ruangan. Sebagian besar meja sudah rapi, komputer mati, dan hanya tersisa dengung pendingin ruangan yang pelan. Nada menutup file terakhirnya, memastikan semua laporan keuangan telah terkirim ke email Arfa. Ia mengembuskan napas lega, mengusap pelipis yang terasa pegal. Hari ini terasa panjang—bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena rasa canggung yang belum hilang sejak kejadian malam itu. Setiap kali bertemu Arfa di lorong atau lift, Nada berusaha menghindar. Senyumnya kaku, langkahnya cepat, dan matanya selalu mencari alasan untuk menatap ke arah lain. Nada baru saja berdiri, berniat mengambil t

