Nada terlonjak dari tidurnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun, sementara keringat dingin mengucur dari pelipis hingga membasahi bantal. Jemarinya gemetar ketika ia mengusap wajah, mencoba menyingkirkan sisa mimpi yang baru saja mengoyak tenangnya tidur. Tapi mimpi itu begitu nyata, terlalu tajam, seolah menariknya kembali ke masa yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam.
Dalam mimpi itu ia melihat sosok Kirana—perempuan polos yang seharusnya dilindungi—berlari ketakutan. Bagas, pria teguh yang pernah menjadi pilar kekuatan mereka, berusaha melindungi Kirana dari kejaran pesuruh Arya. Mereka bersembunyi di kandang sapi, tempat sederhana yang seharusnya memberi perlindungan. Namun malang, persembunyian itu justru menjadi jebakan. Warga desa yang telah dihasut Arya menerobos masuk, dan fitnah keji pun terlempar begitu saja. Bagas dituduh berzina dengan Kirana di kandang itu.
Nada menggigil, mengingat bagaimana wajah Kirana yang pucat saat itu, juga tatapan Bagas yang hancur namun tetap kokoh. Ia masih bisa mendengar teriakan-teriakan warga, caci maki yang menusuk lebih tajam dari pisau. “Zina! Malu-maluin kampung!" teriak seseorang kala itu. Dan Bagas, lelaki yang seharusnya dipuji karena keberaniannya melindungi, justru dihakimi tanpa kesempatan membela diri.
Nada menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya perih itu kembali menancap. Luka lama yang belum sembuh benar, kini tersayat lagi. "Ya Tuhan… kenapa aku harus mengingatnya lagi?" bisiknya lirih. Dadanya bergetar, seperti ada beban berat yang menghimpit. Beberapa puluh tahun, tapi memori itu tetap hidup, menempel dalam benaknya, siap muncul kapan saja.
Ia duduk di tepi ranjang, berusaha menenangkan diri. Hening kamar apartemennya justru membuat gema dari mimpi itu semakin keras. Untuk sesaat, Nada hanya terdiam, lalu menengadah. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Seperti sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua itu hanya masa lalu. Bahwa kini, ia harus berdiri tegak, bukan kembali runtuh.
***
Hari itu sebenarnya hari libur. Kantor memberlakukan long weekend karena ada perayaan nasional. Tapi bukannya senang, Nada justru merasa waktunya melambat. Ia berjalan ke balkon, menatap langit pagi yang masih menyisakan kabut tipis. Udara dingin menyapu wajahnya, cukup untuk menurunkan degup jantungnya yang masih berpacu.
Untuk mengusir resah, Nada membuat secangkir teh hangat. Aroma melati menenangkan, meski hatinya masih berkecamuk. Ia duduk di sofa ruang tamu, memeluk lutut, dan tanpa sadar pikirannya kembali hanyut pada masa lalu yang lain.
Arya.
Nama itu masih menjadi bilah tajam dalam hidupnya. Ia mengingat betul bagaimana dulu ia begitu percaya pada lelaki itu. Arya bukan hanya kekasih, tapi juga sandaran, harapan, bahkan masa depan yang ia bayangkan akan ia jalani. Tapi semua hancur, bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan fitnah Ratih. Fitnah yang dengan mudahnya Arya telan bulat-bulat, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Nada masih bisa merasakan sakitnya. Bagaimana malam itu, ketika semua tuduhan dilontarkan, Arya menatapnya dengan dingin—tatapan yang tak pernah ia bayangkan akan ditujukan padanya. Bagaimana semua janji runtuh begitu saja hanya karena seseorang menebar racun kata. Betapa lemahnya ia saat itu, membiarkan dirinya hancur tanpa melawan. Ia hanya menangis, meratap, berharap Arya akan kembali percaya. Tapi tidak, Arya malah memilih percaya pada wanita biasa yang terlihat polos namun busuk luar dalam.
Nada mengusap wajah, mengibaskan perasaan itu. "Aku bodoh dulu," gumamnya. "Terlalu lemah… terlalu percaya." Ada getir yang melintas di senyumnya, tapi segera padam. Ia tak ingin terjebak lagi.
Setelah meneguk teh sampai habis, Nada memutuskan untuk keluar. Ia butuh udara, butuh suasana lain. Hari itu ia memilih mengunjungi sebuah taman kota yang tak terlalu jauh dari apartemennya. Taman itu rindang, penuh bunga, dan di satu sudut terdapat danau kecil dengan bangku-bangku kayu menghadap ke air. Di sanalah ia duduk, membiarkan pikirannya berjalan bebas.
Anak-anak berlarian, pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan, beberapa orang tua duduk sambil memberi makan burung. Nada menghela napas panjang. Ada rasa iri yang samar, tapi lebih banyak ketenangan. Setidaknya, di tempat ini ia tidak sendirian dengan pikirannya.
Nada merogoh tasnya, mengeluarkan buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Ia membuka halaman kosong, lalu mulai menulis. Bukan laporan kerja, bukan rencana strategi perusahaan. Hanya kalimat-kalimat sederhana, curahan hati yang tak bisa ia ucapkan pada siapa pun.
“Aku harus kuat. Aku tidak boleh lagi membiarkan diriku dihancurkan oleh orang lain. Aku harus belajar dari Kirana, dari Bagas, bahkan dari diriku yang dulu. Aku pernah kalah, tapi kali ini aku tidak boleh jatuh. Tidak di depan mereka. Tidak di depan Arfa.”
Tangannya bergetar ketika menulis nama itu. Tapi ia teruskan. Menuliskan tekad yang lahir dari luka.
“Aku bersumpah, aku tidak akan lagi mengulang kelemahan yang sama. Tidak peduli siapa yang mencoba menjatuhkan, aku akan berdiri. Sekali pun itu Arfa.”
Nada menutup bukunya, lalu menatap langit yang kini cerah. Ada sedikit rasa lega, meski ia tahu luka itu tak akan pernah benar-benar hilang. Tapi ia bisa memilih untuk tidak lagi membiarkannya menguasai dirinya.
Namun tiba-tiba Nada tersentak. Seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Nada mengernyit, ia tidak suka. Nada pun menoleh, ingin marah. Tapi ketika wajahnya bertemu dengan sosok yang menyentuh bahunya, Nada malah terkejut, lalu memeluk wanita itu erat-erat.
“Gina… Sejak kapan kamu ada di Jakarta? Kenapa kamu tahu aku ada di sini? Aku kangen banget sama kamu? Bukannya kamu di Kalimantan?” Nada nyaris bersorak. Gina adalah salah seorang sahabat terbaiknya ketika kuliah dulu. Tidak hanya kuliah, bahkan mereka sudah bersahabat sejak SMA.
Gina tidak kalah bahagia. Ia sendiri juga tidak menyangka akan bertemu dengan sahabatnya itu pagi ini.
“Aku juga kaget, Nad. Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini. Memang sih rencananya sore nanti aku mau hubungi kamu, tapi nggak tahunya kita ketemu di sini. Gimana kerjaan kamu? Aman? Luna masih ngerecokin nggak?” Gina mengajak Nada duduk. Sementara Nada menyimpan buku kecilnya ke dalam tas.
Nada tersenyum, menggeleng pelan. “Memangnya dia siapa yang bisa ngerecokin orang kepercayaannya pak Surya,” ucap Nada. Ia terkekeh ringan.
“Kamu beruntung banget ya, baru kerja sudah dapat kepercayaan bos besar. Tapi gimana dengan Arfa? Arfakan pewaris tunggal perusahaan itu. Artinya, Arfa adalah bos besar kamu juga.”
Nada tersenyum tipis. “Kita lihat saja. Aku sudah bersumpah, tidak akan ada yang bisa menghancurkan aku dengan cara licik. Tidak Arfa, apalagi Luna.” Tiba-tiba sorot mata Nada tajam.
Gina kaget melihat raut wajah itu. “Nad, semenjak kejadian itu, kamu kok agak aneh sih? Memangnya apa yang terjadi?”
Nada tersentak. Ia menoleh lembut kemudian tersenyum. “Aneh? Maksud kamu apa? Aku masih sama kok. Masih Nada yang dulu, nggak ada yang berubah sama sekali. Lihat, memangnya ada yang berubah? Hidung aku masih sama, mata sama, semuanya masih sama.”
“Bukan gitu maksudnya? Maksud aku, kamu itu aneh. Kayak bukan Nada gitu lho… Kayak orang lain yang masuk ke tubuhnya Nada. Atau jangan-jangan… Kamu memang reinkarnasi dari orang lain ya? Nada yang sebenarnya sudah meninggal, lalu kamu masuk ke tubuhnya Nada. Kayak film-film Korea itu.” Kening Gina mengkerut. Ia mencoba mengingat kembali beberapa adegan film yang sering ia tonton.
Nada tertawa kecil. Ia pukul dengan lembut bahu kanan Gina. “Kamu tu ya… Kebanyakan nonton drakor, jadinya kayak gini. Ngayal aja terus. Mana ada yang namanya reinkarnasi. Yang ada itu marinasi, atau makan nasi.”
Bukannya membalas kekehan Nada, Gina malah cemberut. “Kamu malah ngeledek. Padahal aku serius tau.”
Nada terdiam.
Maafkan aku, Gina. Belum saatnya kamu tahu semuanya. Mungkin suatu saat nanti, kamu pun harus tahu semuanya. Aku masih belum tahu, apa hubunganmu di masa lalu aku. Yang pasti, aku bahagia punya sahabat seperti kamu. Nada tersenyum. Ia masih menyimpan kalimat itu di hatinya.