Suara ketukan lembut terdengar di pintu ruang kerja Nada. Ia tengah fokus menatap layar laptop, menyusun laporan mingguan untuk divisinya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore—hampir semua karyawan sudah pulang. Hanya beberapa ruangan yang masih menyala, termasuk miliknya. “Masuk,” ucapnya tanpa menoleh. Pintu terbuka. Suara langkah kaki yang begitu khas langsung membuat Nada menoleh refleks. Zevan. Dengan setelan jas abu gelap, dasi dilepas, kemeja atasnya sedikit terbuka. Aura tenang dan wibawa lelaki itu seperti memenuhi ruangan. “Kamu belum pulang juga?” tanya Zevan sambil tersenyum tipis. Nada menegakkan duduknya. “Masih sedikit lagi, Pak. Laporan divisi Strategic Development harus saya kirim malam ini juga.” “Kalau begitu, aku akan menunggumu sampai selesai,” jawab Zevan sant

