Kalau aku masih Anna yang dulu, aku mungkin akan menepis perasaanku, menelannya bulat-bulat. Lalu menarik ujung bibirku dan tersenyum seperti orang bodoh. Tidak peduli perasaan yang berkecamuk di dalamku. Aku tidak akan mengatakannya, Anna yang dulu, adalah Anna yang memikirkan orang yang dia cintai, lebih dari dirinya sendiri. Gadis bodoh. Selama bisa bersama laki-laki yang dia cintai, dia tidak peduli. Sebodoh dan segila itu. Lalu hari itu, hidup mematahkan hatinya. Seperti baru saja menabrak gunung es, jiwaku yang rapuh, hancur berkeping-keping. Laki-laki itu melukiskan goresan luka yang terlalu dalam, untuk pernah bisa pulih. Hari itu, di atas atap itu, Anna yang naif, sudah mati. Membangunkan sisi lain dari Anna yang aku tahu. Dulu aku buta di dunia yang menjijikkan ini, tapi sekaran

