Chapter 2: Naif

1445 Kata
Entah Naif atau bodoh. Apa mereka berpikir, setelah menikah, mereka akan hidup bahagia selamanya seperti di dongeng? -Anna-   “Tidak apa-apa.” Potong ku. Menarik ujung bibir ku, pahit. Tidak membiarkan Sun menyelesaikan kalimatnya. Tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Lagi pula yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah. “Sudah tidak, terlalu sakit lagi.” Bohong. Aku menarik kursi ku, lalu duduk di sana. Hening. Terlalu hening, sampai aku bisa mendengar hembusan nafas ku sendiri. Menatap partisi yang sekarang tampak kosong. “Anna, kamu pelan-pelan saja.” Jessica meletakkan tangannya di bahuku. Matanya menatapku dalam. Nanar. Hampir berair. Seperti menatap anak anjing yang terluka. “Aku tidak apa-apa, Chika.” Bohong. Lagi. Mana mungkin aku baik-baik saja. “uh-huh.” Jessica tidak membantah. “Bilang saja kalau kamu butuh bantuan.” Lanjutnya sambil melirik tumpukan naskah di meja ku. Lalu pergi, bersama dengan perempuan-perempuan lainnya. Kembali ke meja mereka masing-masing. Meninggalkanku berdua dengan Kinan. “Mereka tidak bermaksud jahat, Na…” aku mengangguk. Tanpa kata, selain bunyi “uh-huh.” Dari bibirku yang tertutup rapat. Lalu tersenyum tipis, sebelum akhirnya mulai menyibukkan diriku. Terantai di kursi ku. Membaca naskah yang menumpuk di meja ku. Halaman demi halaman. Kata, demi kata. Kalau saja naskah yang aku baca menarik. Tidak masalah. Tapi ini? Ini sudah hampir seperti sebuah siksaan tersendiri. 'Yang benar saja?' Aku mengerutkan kening ku. Membentuk kerutan-kerutan nyata di antara kedua alis ku. Membuang nafas pendek. Lalu memijat pelipis ku perlahan dengan ibu jariku di satu sisi, dan empat jari lain di sini lainnya. Memutar-mutar pensil kayu di antara jari-jariku yang lain. Hatiku berdenyut. Dan kadang jantung ku terasa seperti berhenti berdetak untuk sesaat. Mataku perih. Membuang nafas pendek. Lagi-lagi cerita cinta murahan. Roman picisan. Jatuh cinta. Menikah. Bla bla bla… Hidup bahagia selamanya. 'Omong kosong!' Ini sudah naskah ke-dua-puluh-tiga yang aku sunting bulan ini. Kurang lebih, semuanya alur ceritanya sama. Cerita Tentang cinta dua anak manusia, yang awalnya saling membenci satu sama lain. Lalu takdir membuat mereka mengenal satu sama lain, dan cinta hadir di antara mereka, malu, tapi mau. Setelah melewati kesalahpahaman, mereka bersatu dan hidup bahagia selamanya. Sesederhana itu. Semudah itu. Seindah itu. Tidak ada perempuan lain. Tidak ada, tiba-tiba ditinggal menikah, tanpa kata. Semua cerita, berakhir bahagia. Dan jujur saja. Aku sudah mulai lelah, dengan cerita semacam ini, lagi dan lagi. Tidak ada yang salah dengan kisah cinta yang berakhir bahagia. Bagaimanapun juga, pembaca menginginkan sedikit pelarian dari hidup yang melelahkan. Hanya saja, membaca kisah cinta, di mana semua masalah selesai, hanya dengan menikah. Agak sedikit, tidak masuk akal. Apa lagi kalau dua tokoh utamanya, memang sudah seperti dilahirkan untuk bersama, hanya ada satu sama lain di mata mereka. Benar-benar membuat dadaku sesak. Tanpa sadar aku memijat d**a kiri ku, berharap mengurangi rasa nyeri di dadaku. Tidak ada yang benar-benar hidup bahagia selamanya, hanya karena mereka sudah menikah. 'Jika ada, hidup menjadi lebih rumit. Entah mereka naif, atau bodoh. Apa mereka pikir setelah menikah, orang tidak bisa jatuh cinta lagi? Apa mereka pikir, setelah menikah, orang tidak bisa bercerai? NAIF.' Sama seperti ku, tiga minggu yang lalu. FLASH BACK ON Daerah Istimewa Yogyakarta, Januari  2027 Aku tidak terlihat seperti diriku sendiri. Di balik riasan profesional, dalam balutan kebaya putih berpayet, dengan potongan kerah lebar yang memperlihatkan leherku yang jenjang, dan bahuku yang menggiurkan. Berdiri dengan dan rambut yang digulung tinggi di depan cermin sebadan. “Cantik.” Bisik ibu. Dengan senyum lebar di wajahnya, dan mata yang hampir basah. Aku sendiri tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh. Aku duduk di sana, dengan senyum bodoh di wajah ku. Aku sudah menunggu hari ini seumur hidupku. Hari di mana, aku akan menjadi istri sah seseorang. Hari ini aku akan meninggalkan rumah orang tuaku, dan tinggal bersama suamiku yang sah. Setelah hari ini, aku akan bangun di samping seseorang yang paling aku cintai. Melihat wajahnya setiap pagi, dan menyiapkan makanan untuknya, seperti yang diajarkan ibuku. Dua orang laki-laki di depan sebuah pintu kayu, mendorong daun pintu itu terbuka, mempersilahkan aku masuk. Hening, semua mata tertuju padaku. Pipi ku mengembang penuh. Mataku berbinar, dan jantung ku berdetak kencang, ketika aku berjalan memasuki ruangan itu. Kembang api meledak-ledak di dadaku. Membuatku menekan bibir bawahku dengan gigi ku. Menahan teriakan bahagia di dadaku. 'AKU AKAN MENJADI ISTRI SEORANG NIKOLAS BAYANGKARA!' Aku duduk di sini dengan perasaan yang tidak menentu. Duduk di depan meja akad, di hadapan penghulu, berusaha mengatur nafas ku sendiri. Mataku menyapu seisi ruangan. 'Semua ada di sana'. Ibu, Ridho, Maya, Kinan, Jessica, Lydia, Sun, beberapa orang-orang kantor, teman-teman terdekatku. Bahkan bapak, yang sudah lama berpisah dengan ibuku. Semuanya berkumpul untuk merayakan hari bahagia ini. Semua, kecuali satu orang: Nikolas. Calon suamiku. Mungkin dia terlambat. Iya, dia pasti terlambat. Apa lagi? Aku berusaha menutupi kegelisahan di wajah ku, dengan menarik ujung bibir ku. Mengepalkan tanganku yang bergetar. Satu jam empat puluh lima menit. Sudah satu jam empat puluh lima menit. Dan Nikolas belum juga datang. Ruangan yang tadinya di penuhi dengan keheningan, sekarang diisi dengan suara bisikan-bisikan kecil. Senyum di wajahku memudar. Berganti dengan kegelisahan yang nyata. Udara di sekelilingku memberat. Aku hampir lupa caranya bernafas. Di luar sana, terdengar suara Ridho yang penuh dengan keputus asa-an. Berusaha menghubungi Nikolas yang entah di mana sekarang. Aku menancapkan kuku ku di telapak tanganku. Bergetar di bawah meja akad. Menggigit bibir bawahku. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Di mana mempelai laki-lakinya?” penghulu di hadapanku, terlihat mulai tidak sabar. “Se-sebentar…” suaraku bergetar kecil. “Apa?” “Se-sebentar. Sebentar lagi, dia pasti akan datang.” Ulang ku setengah berdoa. Seperti sedang meyakinkan diriku sendiri. Mataku hampir basah. Tangis ku sudah hampir pecah. Kalau bukan karena riasan di wajah ku, dan semua orang yang menatap ku saat ini, aku pasti sudah menangis sejadi-jadinya. “Saya sudah ada jadwal di tempat lain.” Penghulu di hadapanku bersiap bangkit berdiri. “DIA PASTI AKAN DATANG!” suaraku menggema mengisi seluruh ruangan. Penghulu di hadapanku membatu. Menghela nafas pendek. Lalu kembali duduk. “baiklah, kita tunggu lima belas menit lagi.” Aku mengangguk, menahan air mataku. “Dia pasti akan datang.” Kan? bisik ku.  Nikolas tidak akan melakukan ini. 'Dia tidak akan melakukan ini padaku, kan? dia mencintai ku'. “Anna.” Ridho datang mendekat, wajahnya menyiratkan sesuatu yang salah. 'Tidak…' “Coba lihat ini.” Bisik-nya. Lalu menyerahkan benda pipih di tangannya padaku. benda itu bersinar, memperlihatkan sebuah i********: story pernikahan seseorang. Nafas ku memberat. Setiap detak jantung ku terasa begitu menyiksa, hampir seperti jantung ku terkena pot panas di dalam rongga dadaku. Dan udara berhenti mengalir ke dalam paru-paru ku. Disana, Nikolas Bayangkara. Calon suamiku, yang seharusnya duduk di sampingku saat ini… Deg. 'Tidak mungkin! Bagaimana mungkin? Ini mustahil'. Aku menggelengkan kepalaku. “Anna…” Suara Ridho terdengar hampir menangis. Menarik tubuhku yang bergetar ke dalam pelukannya. Mataku basah. Turun membasahi pipi ku bersamaan dengan noda maskara yang bawah mataku. Tangisku pecah. Semua mata tertuju padaku. Dan tiba-tiba semua kekuatanku meninggalkan tubuhku. Suara di sekelilingku perlahan menjauh, bersamaan dengan pandanganku yang semakin gelap. “Na… Ana… Ana…. Na…” Ridho terus berteriak, mengguncangkan tubuhku. Tapi suaranya semakin menjauh. Dan enam tahun, enam tahun adalah waktu yang lama untuk bersama seseorang. Aku pikir, apa yang aku miliki dengan Nikolas adalah nyata. Hanya untuk mengetahuinya bukan. Tepat pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan kami. 'Ini terakhir kalinya, aku percaya pada cinta.' FLASH BACK OFF “Na… Anna… Anna!” Aku tersentak. Hampir melompat dari kursi ku. Seorang perempuan berbalut pakaian bermerek, dengan wajah yang teduh berdiri di belakangku. Dengan tangannya di bahuku. “Mbak Kay!” Protes ku, kaget. Kinan menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Tertawa kecil. “Ah, maaf. Kaget ya?” aku mengangguk lemah. “Kamu ini. Dari tadi kami memanggilmu” Rajuk-nya. “Maaf Mbak.” “Apa sih yang sedang kamu pikirkan?” Goda-nya, “Serius sekali.” Sambungnya, sambil menyesap secangkir kopi di tangannya. “Aku sedang membaca naskah mbak.” Padahal aku sama sekali belum membaca satu kata pun di atas kertas putih itu. “Serius sekali membacanya. Hati-hati loh….” Hati-hati? Aku mengangkat satu alis ku, tidak mengerti. “Nanti kamu bisa terserap masuk ke dalam dunia novel. Sama seperti webtoon ala Korea itu.” Goda nya, sedikit menyeringai. 'Hah?' Aku memasang muka bodoh. Dengan kelopak mata yang jatuh, malas, dan rahang yang turun mengikuti gravitasi. Cerita cinta yang berakhir bahagia selamanya, saja, sudah terdengar tidak masuk akal. Apalagi yang ini, masuk ke dalam dunia novel? Sudah gila? “Yakin bukan kamu, yang terlalu banyak membaca cerita fantasi?” Kinan tidak menyangkal. Dia malah tertawa geli. “Apa kamu mau ikut makan bakso? Kalau sudah mau hujan begini, paling enak makan bakso malang.” Matanya bercahaya. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia di dunia ini, selain makanan. Andai saja hidupku bisa sesimple itu. 'Tapi ini kan masih pagi'. Aku membuang nafas pendek. Aku mengangkat pergelangan tanganku, melihat jarum jam yang menunjukkan angka sebelas. Bola mataku hampir jatuh dari lubang nya. Tidak percaya apa yang baru saja aku lihat. Jam sebelas. Jangan bilang aku sudah duduk di atas kursi tanpa melakukan apapun, selain mengulang kembali semua kejadian menyakitkan hari itu, selama… tiga jam penuh. Ini gila. Aku benar-benar sudah tidak waras  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN