“Atau…” Nathan membiarkan kalimatnya menggantung di udara, dan alih-alih melanjutkan kalimatnya, ia menarik satu alisnya ke atas lalu membasahi bibir bawahnya dengan lidahnya seperti binatang yang kelaparan. Diam. Tanpa kata. Di sisi lain, menunggu jawaban yang tidak kunjung datang membuat pikiran Michelle meliar, terlebih dengan panas yang menekan paha dalamnya. Dinding dalamnya berdenyut, berteriak untuk dipuaskan. Matanya menyusuri tubuh bidang dengan kulit cokelat lembut yang terlihat mengkilap karena keringat. Dan entah kenapa, aroma laki-laki yang berbaring di antara kakinya, membuatnya tidak bisa menahan dirinya. Dia menginginkan laki-laki ini, di sini dan sekarang. “Ada apa sayang? Kamu benar-benar basah….” Desah Nathan menggoda, sebelum kemudian meraih pinggang Michelle dengan k

