‘In a selfish world, selfish wins’ -Anna Aku menarik rambut ku yang terurai bebas ke belakang telingaku. Merapatkan kakiku. Menekan nya di atas kursi velvet merah empuk, yang justru membuatku canggung. Entah bagaimanapun aku melihatnya, tempat ini terlihat seperti dunia yang berbeda dengan dunia ku. Sebuah restoran terbuka di atas bukit, dengan pemandangan luar biasa: ribuan cahaya kecil yang membentuk lautan bintang. Hampir seperti bukit bintang, tempat aku bisa berkumpul dengan teman-temanku, menyantap jagung bakar, sambil duduk di atas tikar atau mungkin kursi kayu sederhana, lalu mendengarkan lagu musisi lokal. Hampir sama. Bedanya, di tempat ini, mereka tidak menjual jagung bakar, dan dari pada tikar, mereka menyiapkan beberapa meja bulat yang ditutupi kain putih mewah, di atas lant

