BAB 4
Dia masih mencatat nomor rekening yang diberikan saat akan menikah untuk transfer kebutuhan pernikahannya.
Hendra tidak punya keberanian untuk membuka kelakuan masa lampaunya pada Tati, terlalu takut.
Hendra tak konsentrasi kerja, tiap hari Sabtu Minggu keliling mencari keberadaan Arumi.
“Arumi, aku terpenjara oleh masa lalu telah menodai wanita, sekarang makin terpenjara ternyata kamu yang aku nodai.” Semangat hidup Hendra hilang di bawa pergi Arumi.
Ditempat kerja Hendra begitu dingin tak satupun karyawan yang bisa mendekatinya, pancaran matanya begitu kelam,
Sekretarisnya merasakan banget, setelah Hendra habis masa cutinya bukannya gembira malah makin dingin pada bawahannya, tidak seperti sebelum menikah masih suka humor dan becanda pada bawahannya.
Setahun, dua tahun, tidak ada titik terang keberadaan Aisya.
“Hendra, sudah lupakan Arumi, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain.” Zaenab sedih lihat anaknya begitu terpuruk.
“Bu, Arumi belum mengajukan perceraian, setelah Arumi mengajukan perceraian aku akan tenang, kalau belum seumur hidup aku akan menunggunya. Biarlah ini sebagai hukuman yang harus aku terima di dunia.”
“Hendra, hidupmu harus terus berjalan begitupun Arumi.” Zaenab berharap Hendra bisa melupakan semua yang terjadi.
“Bu, Hendra disini hanya memikirkan Arumi, walau hati terpenjara hidup Hendra masih enak, ada ibu, ada keluarga, di luar sana Arumi bagaimana ? Dia tidak membawa baju dan uang yang
secukupnya apalagi ijazah, mau kerja apa dia di luar sana, aku sedih membayangkannya. Belum aku takut Arumi kalau hamil. Walaupun sekali kalau waktunya hamil kan bisa.”
Hendra POV
Aku kuliah di Bandung, saat itu liburan semesteran. Aku pulang kampung, pinggiran Bandung.
Sebenarnya tidak jauh tapi tetep kuliah tidak bisa pulang pergi.
Saat aku ulang tahun, teman-teman semasa SLTA mengajak kumpul dan merayakan ulang tahun.
Kami biasa suka kumpul di dekat hutan lindung, ada posko untuk kumpul. Kamipun seperti biasa kumpul disana, kami senang banget disana pemandangannya sangat bagus. Jadi kalau pulang kampung kami selalu janjian pulang bersama, pasti ngadain acara di situ. Kebetulan ulang tahun
ya sekalian deh pesta ala orang kampung.Ternyata ada temanku yang bawa minuman beralkohol, ya namanya anak muda kami tidak nolak, kami pun minum-minum. Seumur hidupku aku baru merasakan minuman beralkohol,
mungkin karena tidak terbiasa aku pun mabok, menjelang maghrib kami pulang, teman-teman tidak bisa mengantarkan sampai rumah, waktu berangkat aku dijemput jadi tidak bawa motor.
Di ujung kampung aku diturunkan teman karena dia rumahnya ke arah kanan sedang aku ke arah kiri, aku mengambil jalan pintas, jalan setapak. Ditengah jalan hujan deras akupun berlari mencari tempat berteduh walau pusing karena mabok aku masih setengah sadar dan menemukan rumah gubuk.
Ternyata di gubuk itu ada seorang gadis sedang menggigil kedinginan. Kami duduk sambil diam. Entah setan apa tiba-tiba hasratku membuncah. Akupun menodainya. Rasanya ada dalam
mimpi tak lama aku tidur. Ketika bangun kepala pusing sekali hari sudah menjelang subuh. Aku pun pulang. Anak itu sudah tidak ada, dan pencahayaan juga hanya mengandalkan bulan
sabit.
Antara sadar dan tidak sadar aku mengingat kejadian itu.
Siangnya aku kembali ke tempat tersebut, ternyata ada dalaman dan bercak darah. Sekarang aku
yakin aku telah menodai seseorang.
Berusaha mengingatnya, tapi satu satunya yang kuingat adalah kaca mata tebalnya. Aku berusaha sering lewat ke situ. Tapi tidak pernah bertemu dengan gadis itu. Bagaimanapun aku harus bertanggungjawab, aku takut dia hamil.
Setiap aku pulang dari kotaku aku selalu mencarinya. Hidupku di liputi rasa bersalah, sampai aku lupa mencari pacar, bertahun-tahun aku mencarinya aku selalu mencari gadis yang berkaca mata
tebal.
Setelah lima tahun ibuku menjodohkan aku dengan seorang gadis cantik, ketika melihatnya aku langsung jatuh cinta, gadis itu sangat pemalu, selalu menunduk. Sebenarnya aku selama
bertahun-tahun tidak pacaran hanya mencari gadis berkaca mata tebal, aku ingin bertanggung jawab.
Aku ceritakan pada ibu, tapi ibu pun tidak bisa membantu karena aku tidak tahu siapa namanya.
Ibu memaksaku untuk menerima perjodohan, Akhirnya aku menikah dengan Arumi, walaupun dijodohkan aku berusaha menerimanya dan ikhlas makin sering ketemu makin jatuh cinta.
Arumi namanya, aku bisa melupakan tragedi lima tahun lalu ketika bareng dengan Arumi.
Tetapi tak disangka ketika malam pertama Arumi tidak perawan. Sebenarnya aku menerima andai
dia jujur sebelumnya. Aku baru sadar betapa aku egois menginginkan gadis yang perawan tetapi diri ini pernah merusak keperawanan wanita.
Sebenernya bukan tidak menerima perawan tapi tidak terima tidak jujur.
Siapa sangka Arumi adalah orang yang dulu pernah aku nodai, pantesan ketika disiksa oleh ayahnya tetap bungkam tidak mengatakan siapa yang menggaulinya.ku sangat bersalah pada Arumi.
Allah telah mempertemukan aku utuk mempertanggung jawabkannya, malah aku mencampakannya.
***TBC