BAB 2
Arumi pun berdiri lalu pergi meninggalkan rumah. Semua bergeming tidak ada yang bersuara.
“Aku benci Bapak. Seharusnya dengarkan dulu penjelasan dia, bisa saja dia terjatuh atau apapun yang bisa merusak selaput dara. Setelah mendengar penjelasan nya baru kalian menghukumnya. Kalian laki-laki pecundang.” Tati ibunya Aisya langsung masuk kamar dan menguncinya.
“Nak Hendra, bapak akan mengganti biaya yang telah dikeluarkan untuk pernikahan oleh keluargamu.” Komar nggak enak hati pada mantan menantunya itu.
“Tidak perlu Pak. Yang sudah berlalu sudahlah, anggap saja uang itu untuk membuang sial.” Jawab Hendra.
“Maafkan Bapak ya, sudah mengecewakanmu. Sudah menjodohkanmu dengan Arumi, kalau tahu begini nggak akan Bapak lakukan perjodohan ini.”
Hendra mengangguk lalu pamit pulang karena urusannya sudah selesai.
Arumi termenung di terminal, dia tidak tahu mau kemana karena setelah pemerkosaan itu dia menutup diri dari pergaulan menjadikan dirinya tidak punya seorangpun teman yang bisa diajak curhat.
Sebelum kejadianpun Arumi seorang yang introvet walaupun masih suka bermain dengan teman-temannya tetapi tidak suka bercerita, paling dia hanya sebagai pendengar, apalagi setelah
pemerkosaan itu.
Arumi melirik ke arah pojok kiri melihat sebuah counter penjualan pulsa dan simcard, walaupun badan rasanya sakit digerakkan dia memaksakan diri untuk berdiri lalu ke counter untuk membeli simcard baru.
Sebelum ganti simcard, Arumi menimbang-nimbang untuk mengirim pesan pada Hendra.
Akhirnya Arumi pun mengetik pesan :
“Kang Hendra, maafkan kalau kecewa. Sungguh Arumi pun malu sekali dengan keadaan ini, Arumi tidak punya keberanian mengatakannya sebelum menikah. Arumi terlalu takut untuk
mengatakannya. Yang perlu Akang tahu Arumi dinodai seseorang yang sedang mabok digubuk jalan pintas desa. Arumi tidak ingat wajahnya yang Arumi ingat orang itu punya tompel di bahu belakang.
Mau dipaksa seperti apapun untuk mengatakan siapa yang menodaiku tidak bisa.
Bagaimana harus mencari orang tersebut ?
Maafkan Arumi sudah mengecewakan kang Hendra.”
Arumi mengirim pesan lalu mematikan gawainya dan mengganti simcard, dia bertekad akan meninggalkan semua yang ada di kota ini.
Dunianya sudah runtuh.“Ini awal perjalananmu Arumi.” Gumamnya pada diri sendiri sambil berjalan ke counter untuk membeli simcard baru. Dia hanya membawa dompet, yang berisi uang tak seberapa, kartu ATM dan KTP.
Beruntung Arumi tadi membawa tas selempang yang tak terlepas dari badannya.
Jangankan membawa baju, membawa berkas pentingpun tidak, seperti ijazah diploma dari akademi perhotelan jurusan Food and Beverage yang baru setahun diraihnya tertinggal, menyesal dia tidak membawa apapun, dia tidak membayangkan akan bekerja apa tanpa berkas-berkas itu.
Setelah mengganti nomor simcard, Arumi langsung naik bis entah bis apa tujuan kemana, dia hanya naik dan duduk, mau sampai dimana itulah takdir dirinya. Dia tidak memikirkan akan terdampar kemana, karena dirinya sudah hancur.
Di tempat lain, Hendra sedang termenung di sofa, menatap layar televisi tapi pikirannya pada Arumi, memang dia dijodohkan pada Arumi tapi entah kenapa dari pertama melihat dia langsung jatuh hati, orangnya pendiam tidak dandan sedikitpun tapi aura kecantikannya sangat kuat, dia
langsung menerima dan tidak menunggu lama untuk minta dinikahkan.
Awalnya heran ditanya saat berduaan bagaimana dia menjalani sehari-hari.
“Rum, selama ini kamu pernah pacaran ?” Hendra menatap Arumi dalam-dalam, dia makin terpesona dengan pembawaan Arumi yang kalem.
Arumi menggeleng.
Betapa merasa beruntung Hendra calon istrinya belum pernah pacaran walaupun heran bagaimana dia usia 23 tahun belum pernah pacaran, tapi ternyata ketika malam pertama betapa
kecewanya dibohongi oleh wajah lugunya.
Tring pesan masuk.
Hendra menggernyitkan dahinya, nggak yakin siapa pengirim pesan.
“Masih nggak malu mengirim pesan, seribu kali minta maaf pun nggak akan aku maafkan Arumi.” Bathin Hendra tak tertarik membaca pesan dari mantan istri semalamnya.
Dia menyimpan ponselnya di meja lalu ke dapur mengambil minum dingin di kulkas untuk menenangkan dirinya yang masih panas.
Pernikahan walau sederhana tetap mengeluarkan uang banyak belum waktu dan pikiran.
Seminggu ke depan dia masih cuti kerja, seharusnya saat ini dia masih bulan madu.
Sore-sore ada Ibunya datang.
“Assalamualaikum.” Zaenab mengucap salam, langsung masuk.
“Waalaikum salam.” Hendra melirik tak semangat, kesal juga sama ibunya yang menjodohkan dia dengan Arumi, tidak diteliti sebelumnya.
“Hendra, kemana Arumi.” Zaenab melongok ke dalam tidak ada siapa-siapa.
“Sudah aku kembalikan pada orangtuanya, sudah aku talak.” Jawab Hendra datar.
“Apa-apaan Hendra, jangan main-main dengan perceraian.” Bentak ibunya kaget.
“Bu, dia sudah tidak perawan, dia sudah melakukannya dengan laki-laki lain.”
“Bagaimana bisa, dia tidak pernah pacaran, gadis pendiam begitu.” Zaenab tidak yakin dengan omongan Hendra.
***TBC