BAB 19
“Maafkan Arumi, andai tahu aku yang memperkosamu, apa kamu akan tetap menerimaku seperti sekarang ? aku tak akan sanggup untuk jujur padamu.” Batin Hendra.
Tak terasa dua jam setengah di perjalanan sampailah ke rumah orangtua Arumi untuk menitipkan Rasya.
“Ma, titip Rasya, aku akan mengurus KTP dan berkas yang diperlukan, mau pinjam KK.” Tutur Arumi ketika mereka sudah selesai bersalaman dan kangen-kangenan.
Mereka pun pamit.
“Kang nggak kerja ?”
“Aku cuti sehari ini, akan menemani ngurus semuanya.” Hendra berjalan menuju mobil.
“Bagaimana soal perceraian kita ?” Arumi nggak enak hati.
“Nanti Akang urus secepatnya. Akang akan membuat surat pernyataan untuk ke KUA kalau kamu sudah lebih tiga tahun bercerai denganku, dan perceraian secara negara sedang proses, siapa tahu bisa, andai tidak bisa kamu nikah siri dulu nanti daftar setelah sah diputus pengadilan.”
Setelah selesai ngurus semuanya, sekarang Arumi baru selesai di bank.
“Kang selama tiga tahun tabunganku besar sekali, aku tidak enak, toh aku bukan istrimu, ini kebesaran kalau hanya untuk Rasya, aku transfer balik yaa ?”
“Sudahlah, itu milikmu dan Rasya. Bulan ini berarti terakhir memberi nafkahmu, nanti untuk Rasya aku tetap akan transfer.”
“Rasya beruntung punya ayah sepengertian kamu, aku nyesel dulu pergi dari kamu, aku yakin kalau aku jujur padamu saat malam pertama kita, kamu akan mengerti kondisiku. Maafkan aku Kang, aku salah tidak jujur padamu.” Mata Arumi berkaca-kaca merasa beersalah.
Hendra memalingkan muka dari Arumi bukan kecewa dengan omongannya, tapi karena rasa bersalah yang menggunung.
“Arumi harus bagaimana aku menghilangkan rasa bersalah ini.” Batin Hendra.
Arumi di rumah orangtuanya selama seminggu, Jumat sore Ardan datang sekalian menjemput ke rumah orangtuanya. Rasya sedang di bawa Hendra untuk menemui ibunya.
“Mumpung di dekat Bandung, gimana kita jalan-jalan ke kota Bandung ?” Ardan nggak enak duduk berdekatan dengan Arumi depan orangtuanya padahal sudah pisah beberapa hari ingin berdekatan dengan kekasihnya.
“Sebenernya males kalau jalan-jalan di Bandung weekend, macet banget.”
“Kita nikmati kemacetan berduaan, aku kangen kamu.” Bisik Ardan minta pengertian Arumi.
Arumi pun mengalah, lalu pamit pada orangtuanya.
Setelah dimobil Ardan langsung menggenggam tangan Arumi, “Ga enak kan pegangan gini depan orangtuamu.”
Mereka berdua terkikik.
“Kamu modus.” Arumi mendelik.
Mereka berdua jalan-jalan ke tempat wisata favorit di Bandung, Ardan memposting di media sosialnya moment kebersamaan dengan calon istrinya, terlihat mereka sangat bahagia.
Ardita meradang melihat kebahagiaan mereka.
Hari Senin pagi mereka pamit pada keluarga Arumi dan memberitahu pernikahan akan berlangsung sebulan lagi,
Orangtua Arumi yang akan mengurus segala keperluan untuk pengesahan di KUA. Hendra pun mempermudah dengan secepatnya mengurus ke Pengadilan Agama untuk perceraian dengan Arumi.
Semuanya terlihat sempurna.
Ardita pun tak pernah muncul lagi, tidak menganggu kebersamaan Arumi dan Ardan.
= = = = =
Tak terasa hari pernikahanpun datang.
Di rumah mempelai wanita sibuk mempersiapkan akad nikah, selama persiapan Rasya dititipkan di nenek dari papanya.
Sita mau tidak mau menyetujui anaknya walau belum menerima Arumi tapi Sita tidak mau ribut apalagi ditinggal pergi anaknya. Ijab qabul pun selesai. Betapa kedua mempelai bahagia.
Hendra walau sedih tetap menghadiri pernikahan mantan istrinya, selama bulan madu, Rasya dititipkan pada Hendra.
“Selamat ya, walau aku sedih aku tetep bahagia melihat kalian bahagia.” Hendra mengucapkan selamat dengan tulus, toh kebahagian Arumi pun menjadi kebahagiaan anaknya, dan Ardan pantas menjadi ayah dari anaknya.
“Kamu pun akan mendapatkan pendamping yang sebaik Arumi.” Ardan membalas ucapan Hendra.
“Terima kasih, semoga saja.”
Seminggu setelah pernikahan Arumi menginap di Hotel di daerah Lembang pinggiran Bandung hadiah dari Hendra. Setelah seminggu, mereka pun pulang ke Jakarta.
“Sayang kita tidak perlu menunda punya anak, aku akan kesepian kalau Rasya selalu dibawa papanya.”
“Oke, kita langsung program punya anak begitu?”
Ardan mengangguk sambil memeluk istrinya, dia merasa beruntung bisa lepas dari Ardita yang selalu mengganggu selama pacaran, bagaimana kalau menikah pasti akan repot.
“Sayang, apa Ardita tidak mengganggumu lagi.” Arumi sedikit cemas.
“Nggak, mungkin dia sudah sadar, cinta kita tidak tergoyahkan.”
“Ya semoga saja benar-benar sadar.” Sahut Arumi.
“Semoga kita diijinkan Allah sampai menua bersama.” Ardan mengecup ujung kepala Arumi.
“Amiin.” Ujar keduanya serempak.
Drrrt… drrrt… pesan masuk ke gawai Ardan. Dia langsung mengambil diatas nakas sebelahnya.
Sita : Ardan, Mama sudah sewakan Villa di puncak untuk kalian bulan madu.
Sita mengirim lokasi dan alamat villa dengan jelas.
Ardan : Makasih telah mengijinkan aku menikahi Arumi, Mama baik banget.
Sita : Sama-sama sayang, kamu kan anak Mama, ingin melihatmu bahagia.
Padahal Sita hanya disuruh Ardita untuk supaya Ardan dan Arumi pergi ke Puncak. Sita tidak diberitahu Ardita akan rencananya terhadap Ardan dan Arumi.
“Sayang, Mama menyewakan kita vila di puncak untuk empat hari.”
Ardan memberitahu Arumi.
“Ya ampuun Mas, masa nggak cukup seminggu kita di Bandung, masa harus pake acara pergi lagi.” Arumi kurang setuju.
“Nggak apa-apa kita hargai saja hadiah dari Mama.”
Besoknya mereka pergi ke Puncak, Rasya diperpanjang dititipkan pada mantan suaminya, buat Hendra senang saja ada anaknya di rumah, setiap pulang kerja disambut anak sungguh sangat menyenangkan apalagi kalau ada istri.
“Ma, aku pamit dulu yaa ! terima kasih hadiahnya, sekarang aku akan ke villa.” Ardan menelpon Sita.
“Selamat menikmati bulan madu.” Sita tidak tahu apa yang direncanakan Ardita untuk Arumi dan Ardan.
Sita hanya berfikir yang penting mereka berpisah semuanya diserahkan pada Ardita.
“Kang, makasih ya mau ngurus Rasya, minggu depan aku ambil ke Bandung ya.” Arumi menelpon Hendra.
“Jangan begitu Arumi, Rasya juga anakku, masa berterima kasih, kamu jangan mikirin Rasya, nikmati saja bulan madumu.” Ujar Hendra walau ada yang nyelekit diujung hatinya membayangkan pujaan hatinya ada dipelukan laki-laki lain.
“Arumi, saat ini aku bahagia sekali, tahu seperti ini, kita menikah dari awal-awal kenal yaa.”
“Hahaha… awal kenal kan Mas masih dengan Ardita.” Arumi mengingatkan.
“Aku bersyukur ketemu kamu, betapa merepotkan kalau aku menikah dengan dia.” Ardan mengemudi dengan santai.
Sesampai di villa mereka tidak kemana-mana hanya menikmati kebersamaan berdua, karena di villa sudah ada yang menyediakan segala kebutuhan mereka termasuk makan.
Hari terakhir baru mereka berjalan-jalan di bukit. Bersenda gurau saling memeluk dunia benar-benar milik mereka berdua.
“Arumi andai aku harus mati hari ini aku rela, daripada aku harus kehilanganmu.”
“Mas aku nggak suka denger seperti itu, emang kalau mas meninggal aku akan bahagia gitu.”
“Hahaha…iya.. iya… maaf mas saking bahagianya saat ini.” Ardan merasa keliru mengucapkan kata-kata tadi.
Mereka kembali jalan-jalan membeli jajanan, jagung bakar dan serabi. Mereka saling suap kelakuan mereka nggak kalah remaja yang sedang dimabuk asmara.
Selama empat hari mereka benar-benar puas menikmati kebersamaan.
“Sekarang kita kembali ke alam nyata, berjibaku mengais rejeki untuk mengarungi hidup di masa depan.” Arumi memeluk Ardan dari belakang.
“Kita akan selalu bulan madu tiap hari sayang. Ayo kita beres-beres.” Mereka enggan untuk pulang kalau tidak ingat pekerjaan yang akan numpuk.
Mereka pun naik mobil dan meluncur ke arah Bandung untuk membawa Rasya baru kembali ke Jakarta.
Ketika ada turunan tajam dan berkelok, Ardan mengerem tapi tidak berfungsi.
“Sayang remnya blong.”
Mereka pucat pasi apalagi Ardan yang mengendalikan mobil, beberapa detik kemudian mobil masuk jurang. Orang-orang yang melihat menjerit, mereka secepatnya menghubungi polisi dan ambulance.
Mobil ditarik rame-rame diangkat ke atas.
Arumi dan Ardan tak sadarkan diri.
Polisi menelpon Orang yang terakhir dihubungi oleh masing-masing korban.
Sita yang mengangkat telpon langsung histeris ketika diberitahu dan korban sedang di bawa ke rumah sakit terdekat.
Sita langsung menuju rumah sakit yang dikatakan polisi.
Begitupun Hendra shock sekali karena belum lama Arumi menelpon akan mampir mengambil Rasya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Hendra memberi tahu mantan mertua dan ibunya,
Rasya dititipkan pada ibunya. Hendra menjemput mantan mertuanya untuk ikut ke rumah sakit di daerah puncak.
Diperjalanan tidak seorangpun yang bicara untuk mengurangi ketegangan Hendra menyalakan radio, beberapa saat ada breaking news tentang kecelakaan di puncak dan menyebut nama korban dari KTP yang mereka bawa, Arumi koma, dan Ardan meninggal.
***TBC
Maaf apabila tokoh utama masih ada yang memakai Aisya, anggap saja Arumi.
.novelku yang lain :
The Hell of Love
The Return of Love
Cinta tak bertuan
jangan lupa comment nya untuk mengetahui kala cerita-ceritaku ditunggu reader