Pagi hari di kantor agensi “Naratif” terasa seperti kamp militer setelah perang usai. Suasananya merupakan campuran aneh antara kelelahan yang luar biasa dan euforia kemenangan. Sisa-sisa pertempuran semalam tersebar di mana-mana: cangkir-cangkir kopi yang sudah dingin, papan tulis yang masih penuh dengan denah dan jadwal acara, serta beberapa anggota tim yang bergerak seperti zombi, mata mereka merah namun senyum puas tersungging di bibir mereka. Mereka telah berhasil. Acara semalam adalah sebuah kesuksesan besar, sebuah pencapaian yang akan menjadi tonggak sejarah bagi agensi butik mereka. Di tengah kekacauan yang terorganisir itu, Salma Anindita adalah pusat ketenangan. Ia duduk di mejanya, matanya yang lelah terpaku pada layar laptop, memverifikasi pembayaran dari vendor dan menyusun

