Dua hari sesudah pergi dari rumah Hesti. Hesti menghubungiku kalau akan ke rumahku. Katanya dia mau membahas soal tawaran kerjaan jadi guru di salah satu SMA swasta di Bogor ini. Namun, aku masih ragu. Sebab, aku ingin sekali kembali ke Malang. Di sini juga percuma, karena dulu aku ke sini karena Althan. Sebelum aku membuat keputusan yang besar, aku pun menghubungi Mas Evin. Aku ingin meminta petunjuk darinya. “Assalamualaikum Mas,” sapaku setelah panggilan terhubung. “Waalaikumsalam. Ada apa Cit?” tanya Mas Evin. Mas Evin seperti hafal kalau aku menghubunginya karena aku sedang butuh bantuan. “Mas Evin lagi sibuk nggak? Emm, Mas Evin di kantor apa di mana?” tanyaku balik. “Iya, aku lagi di kantor ini.” Mas Evin menjawab dengan santai. “Sibuk nggak? Aku mau tanya-tan

