Lalu, aku mengikuti mereka masuk ke rumah. Saat tiba di dalam aku sangat terpesona. Mata membulat sempurna. Ruang tamunya sangat mewah dan luas. Berbagai perabotan dari sofa, karpet, hingga lampunya terlihat elegan. Ditambah lagi langit-langit yang tinggi membuat ruangan terasa lebih sejuk karena udara bisa bersirkulasi dengan baik. Dinding putih di seluruh interiornya terkesan indah karena pantulan dari cahaya lampu.
Ketika sampai di ruang makan, kembali aku dibuat terpana. Seluruh ruangan dibalut dengan perabotan dari kayu yang berwarna gelap. Menjadikan tampak elit dan megah. Warna kayu yang gelap memiliki kesan alami dan juga hangat. Warna dari kayu yang gelap menjadi highlight pada ruangan karena kontras dengan lantai dan langit-langit.
Di ruang makan sudah ada papanya Althan sedang duduk menunggu. Lelaki kisaran usaia 50an itu hampir mirip dengan Althan. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu, mengulurkan tangan dan hendak mencium tangan beliau. Namun, ternyata ditolak. Aku menelan ludah. Wajahnya menunjukkan ketidak sukaan padaku. Tiada senyum sedikit pun, sangat kaku.
“Silakan duduk!” perintahnya datar.
Aku mengangguk pelan. Lalu, memilih duduk di samping Althan. Suasana makan yang sangat tidk nyaman, menurutku.
Situasinya sangat canggung. Tak ada obrolan ringan. Mungkin memang seperti ini kebiasaan keluarga Althan. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring.
“Althan, ajak Citya ke ruang keluarga, ya,” ucap mamanya Althan setelah makan malam usai, kemudian melangkah berlalu dari ruang makan.
“Althan, aku nggak nyaman. Suasananya canggung banget,” bisikku.
“Karena baru pertama kamu bertemu orang tuaku, nanti pasti nggak kaku gini, kok. Percaya sama aku.” Althan menarik tanganku supaya mengikutinya.
Aku bagai kerbau dicocol tanduknya, ikut saja ke mana Althan membawa.
Ternyata rumah ini memiliki area basement. Ruang keluarga untuk bersantai dan berkumpul bersama dengan atmosfir yang lebih intim. Penampilannya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Lantai dan dinding berbatuan memberi kesan basement istana yang megah. Juga tampak syahdu dan menenangkan. Lagi, aku dibuat terkagum-kagum dengan rumah Althan. Ini namanya istana kerajaan. Nyaliku semakin menciut.
“Hei! Malah melamun!” Althan mencubit pipiku.
“Aduh sakit!” protesku.
“Makanya jangan melamun mulu. Duduk sana!” perintahnya.
Aku pun menurut apa yang diperintah Althan.
“Mama sama papa kamu mana?”
“Masih di kamar mungkin. Udah tunggu aja.”
“Beyza ke mana?”
Althan mengangkat kedua bahunya.
Aku memandang sekeliling ruangan ini. Sungguh sangat mewah dan elegan. Tak pernah melihat rumah seperti ini sebelumnya.
“Ehm.” Terdengar deheman berat dari papanya Althan.
Jantungku berdegup lebih kencang, tangan pun sudah mulai basah. Apalagi beliau duduk tepat di hadapanku.
“Kamu sejak kapan kenal dengan Althan?” Papanya Althan menatapku tajam.
“Sejak masih kuliah, Om.” Aku menunduk.
“Satu tingkatan dan jurusan?” tanyanya lagi.
“Tidak, Om. Althan kakak tingkat saya.” Aku menggigit bibir bawah.
“Lalu, sekarang kerja apa?” Sorot matanya menelisikku dengan tajam.
“Dosen, Om.”
“Orang tua kamu?”
“Papa sudah meninggal sejak saya berusia lima tahun. Mama Cuma penjual kue biasa.” Aku semakin gugup.
“Pa, Citua dulu mahasiswa paling pintar, IP-nya selalu tinggi. Dapat beasiswa juga. Malah sekarang udah selesai S2, tinggal tunggu waktu wisuda aja.” Althan ikut menjelaskan siapa aku.
“Papa nggak tanya kamu, Althan!” Papanya berbicara dengan sedikit penekanan.
“Sudahlah, Pa, jangan banyak tanya. Kasian Citya, jadi takut gitu sama Papa.” Mamanya Althan menyahut sambil tersenyum ke arahku.
“Ya udah, lanjutkan ngobrolnya. Tapi ingat, antar Citya jangan sampai larut malam.”
“Iya, Pa.”
“Althan ajak Citya keliling rumah. Bisa ajak ke kolam di belakang.” Mamanya Althan sangat lemah lembut ketika berbicara. Kemudian meninggalkan kami berdua.
Althan menarik tanganku, membuatku tersentak kaget. Sehingga hampir saja aku terjatuh.
“Pelan-pelan, dong!” ketusku.
“Biarin! Makanya jangan biasa melamun. Di bilangin nggak pernah didengar.” Althan bersungut-sungut.
Aku terkekeh melihatnya marah. Kemudian, mengikuti Althan ke mana membawaku.
Lagi, aku dibuat semakin kagum dengan rumah Althan. Dia mengajakku ke halaman belakang yang terdapat kolam renang. Di sana terdapat air mancur yang berada tepat di bagian tengah kolam yang berbentuk wajik. Lalu, dilengkapi dengan kursi berjemur dan tumbuh-tumbuhan. Ketika melihat sekeliling, tampak pepohonan rindang yang tentunya akan terasa sejuk di siang hari. Pasti sangat mengasyikan jika siang hari.
“Tunggu sini sebentar, ya, aku ambil minum dulu.” Althan berlalu menuju dapur.
Aku menikmati pemandangan di sekitar kolam. Terdengar samar-samar suara orang berbicara. Aku mencari sumbernya. Ternyata tepat di belakang agak jauh dariku, dua orang Althan sedang bercakap-cakap. Terdengar samar-samar. Lalu, aku mendekat demi ingin mendengar secara jelas.
“Kukira Tuan Althan itu mau menerima perjodohan dengan Nona Beyza yang cantik itu, lho,” ucap salah satu dari mereka.
“Iya, padahal cantik banget, ya. Eh, malah dia bawa calon pilihannya sendiri. Cantik, sih, tapi nggak pantas sama sekali.” Terdengar satunya menyahut dengan suara medok Jawa.
“Iya, lebih cocok sama Nona Beyza. Sama-sama keturunan Turki.”
Hatiku langsung nyeri ketika mendengar obrolan asisten Althan. Perlahan aku mundur teratur. Jadi, ternyata Beyza calon istri pilihan orang tua Althan. Pantas saja papanya tadi seperti tak menyukaiku. Segenggam daging dalam d**a langsung terasa perih bagai diiris-iris. Kenapa tadi harus mendengarkan pembicaraan mereka? Harusnya aku tak mendekat.
Ya, aku memang tak pantas mendampingi Althan. Harusnya sadar diri dari dulu. Aku sangat berbeda dengan Beyza. Tanpa sadar air mata pun menetes, jatuh dari pelupuk mata.
“Ini, Sayang minumnya.” Althan memberikan segelas jus strawberry kesukaanku.
Aku langsung menyeka ujung mata, agar Althan tak melihatnya.
“Hei, kamu kenapa? Matamu, kok, merah?” tanya Althan, nada suaranya menunjukkan kekhawatiran.
“Aku nggak kenapa-napa, kok.”
Aku sengaja berbohong padanya. Tak ingin dia tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya membisu. Tak mau bertanya banyak hal, karena tak mungkin menjawab dengan jujur. Aku tahu betul siapa Althan.
“Althan.” Aku menoleh pada Althan.
“Iya, Sayang.” Althan menatapku dalam.
“Antar aku pulang sekarang. Sudah malam ini.” Aku menahan sesak di d**a.
“Masih sore ini. Belum jam sembilan juga, sebentar lagi, ya,” pinta Althan.
“Aku mau pulang sekarang! Kalau nggak mau antar, bisa pulang sendiri.” Aku langsung berlalu.
“Hei, tunggu. Iya, aku antar pulang.” Althan menarik tanganku.
“Kamu yakin nggak kenapa-kenapa?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. “Aku hanya mau pulang, aja.”
Kami pun berpamitan pada orang tua Althan. Papanya masih belum bersikap ramah padaku.
“Nggak usah dimasukkan dalam hati, ya, sikap papa tadi,” kata Althan setelah berada dalam mobil.
Aku hanya mengangguk. Mengiyakan saja apa yang dikatakan Althan, walaupun hatiku tetap tak tenang setelah mendengar apa yang dikatakan ART Althan tadi.
***
Bersambung