Setelah bercerita pada Bi Ijah, aku pun menaruh tas di kasur. Kemudian, Bi Ijah berpamitan untuk keluar. Aku pun mengiyakan. Setelah Bi Ijah keluar, aku duduk di ranjang. Lalu, melihat ke sekeliling. Aku menghela napas dalam, karena teringat dulu saat masih bersama Althan. Aku hanya sebentar tinggal di sini karena setelahnya langsung pindah ke apartemen Althan. Mataku tertegun saat melihat di dinding masih tertempel foto pernikahanku dengan Althan. Sangat terlihat jelas wajah Papa tidak bahagia di foto itu. Entah, kenapa dulu aku tidak peka. Aku berjalan ke arah foto tersebut. Mataku terasa perih. Lalu, meluncur cairan bening dari mataku. Lalu, aku mengambil fotoku berdua dengan Althan di meja. Aku mengusap wajah Althan. Mungkin karena rasa cinta yang begitu besar, hingga aku bisa melupa

