Lamaran

1031 Kata
Aku kemudian melangkah menuju ruang tamu. Mas Evin terdengar mengikuti dari belakang. “Baik. Aku akan beri kesempatan kamu buat jelasin semuanya.” Aku berkata dengan nada ketus saat tiba di hadapan Althan. Althan tersenyum. “Sebelumnya maafin aku Cit.” Althan menghela napas. “Aku juga sama hancurnya saat kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita, apalagi kamu selalu menghindar. Saat tahu kamu sudah resign dari kampus, semakin hancur dan terpukul. Aku berusaha mencari kamu, ke tempat kos ternyata tidak ada yang tahu alamat kamu di Malang. Akhirnya nekad bertanya ke kampus. Pihak kampus tidak mau memberi tahu, karena ini privasi. Namun, karena terus didesak akhirnya mereka memberitahu juga. Saat hendak menyusul ke sini, aku mengalami kecelakaan. Akhirnya baru sekarang aku bisa ke sini.” Althan menjelaskan panjang lebar. Ternyata dugaanku salah selama ini. Althan juga sama hancurnya. Kebingungan mencari alamatku, hingga mengalami kecelakaan. “Lalu kenapa kamu datang dengan Beyza?” Aku menatap tajam pada Beyza. Beyza hanya menunduk. Lalu katanya, “Maafkan aku, Cit. Nggak seharusnya merusak hubungan kalian. Sebenarnya, aku nggak pernah mencintai Althan. Hubungan kami hanya sebatas sahabat. Terpaksa waktu itu berbohong demi kebaikan hubungan kerja papaku. Karena papanya Althan akan memutus hubungan kerja dengan papa kalau nggak mau membantu merusak hubungan kalian. Aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku, Cit.” Beyza menangis. Ternyata Beyza tidak sejahat yang aku kira. Dia tidak bermaksud merusak hubunganku dengan Althan. Ya Allah … ternyata aku sudah bersuudzon. “Citya … kamu mau memaafkanku, kan?” tanya Beyza lagi karena aku masih terdiam. Aku menghela napas, melihat ke arah Mas Evin meminta persetujuan. Lelaki baik hati itu pun mengangguk dan tersenyum. “A—aku, aku nggak tahu harus gimana.” Aku berkata terbata. “Hatiku sangat sakit, tersiksa selama berbulan-bulan. Lalu sekarang kamu dengan mudahnya minta maaf,” ucapku sambil menahan tangis. Aku semakin terisak dan Mas Evin mengelus pundakku untuk menenangkan. “Citya … maafkan aku,” ucap Althan pelan. “Apa pun akan aku lakukan asal kamu mau memaafkan,” lanjutnya. Aku masih membisu, segenggam daging dalam d**a masih sakit dan sesak. Akankah memaafkan Althan? Bukankah dia tidak bersalah? Lelaki berhidung bangir itu tidak bermaksud menyakiti. Aku menghela napas dan dengan perlahan mengangguk. Sesakit apa pun hati ini, tapi rasa sayang melebihi segalanya. “Kamu serius, Cit? Memaafkan aku?” tanya Althan dengan wajah berbinar. Aku mengangguk. “Rasa sayang dan cinta ini melebihi segalanya. Kamu juga nggak bermaksud menyakiti.” Aku berkata sambil menatap Althan. “Citya … terima kasih, ya mau memaafkanku. Kalian harus bersatu kembali,” ucap Beyza lalu memelukku. Aku menangis di pelukan Beyza. Bahu berguncang hebat. Mas Evin tampak tersenyum. “Aku sangat mencintaimu, sampai kapan pun cinta ini tidak akan pernah hilang. Jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu lagi, karena tidak akan pernah sanggup.” Althan menatapku lekat. “Jaga Citya, ya. Jangan pernah menyakitinya lagi. Kalau berani membuatnya menangis kembali, berurusan sama aku.” Mas Evin mengancam Althan. Althan tersenyum dan mengangguk. Lalu, mereka saling berpelukan. Ah, senang rasanya melihat mereka bisa akur. Mempunyai dua jagoan yang menjagaku. Aku tersenyum. Bahagia sekali rasanya. Setelah berbagai macam cobaan dan ujian akhirnya sekarang aku bisa bahagia. Terima kasih Tuhan, atas semua nikmat yang engkau berikan padaku. *** Tiga bulan setelah kedatangan Althan, akhirnya kami pun bertunangan. Sebagai simbol untuk menjalani sebuah proses menjalin komitmen dan menetapkan hari pernikahan. Bahagia rasanya, akhirnya aku akan menikah dengan seorang yang di cintai. Semoga acara pertunangan ini berjalan dengan lancar, tidak ada halangan apa pun. Dada berdebar hebat. Jantung berdetak lebih cepat, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi jarak antara Jakarta dan Malang sangat jauh. Harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 15 jam. Dari semalam tidak bisa tidur, memikirkan akan kedatangan keluarga Althan. “Nggak usah khawatir. Berdoa saja semoga semuanya lancar,” ucap Mas Evin sambil tersenyum. “Citya takut, Mas. Kenapa juga belum datang.” “Jakarta – Malang itu jauh. Masih dalam perjalanan, kalau lancar aja bisa sampai 15 jam. Kalau macet, ya bisa lebih.” Mas Evin menasehatiku. Namun, tetap saja aku merasa takut dan khawatir. Lancarkanlah semuanya Ya Allah. Jujur aku masih trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu. Akhirnya, tepat jam sembilan pagi keluarga Althan datang, alhamdulillah. Bahagia rasanya. Aku masih mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Tampak ada lima orang yang datang Althan, mama dan papa serta om dan tantenya. Mama pun memanggilku untuk ke ruang tamu. Karena acara pertunangan akan segera dimulai. Acara yang sederhana hanya untuk meresmikan hubunganku dengan Althan. Setelah basa-basi, perwakilan dari keluarga Althan mengutarakan maksud kedatangan mereka. “Kedatangan kami sekeluarga ke sini bermaksud untuk melamar putri almarhum Bapak Candra dan ibu Ine yang bernama Acitya untuk putra kami Althan. Apakah diterima lamaran kami?” tanya omnya Althan. “Bismillahirrohmanirrohim. Lamaran dari Bapak sekeluarga kami terima,” jawab pakde Djarot. Beliau satu-satunya keluarga dari papa yang ada, memang beliau tinggal di luar kota. Sengaja diundang untuk acara pertunanganku. “Alhamdulillah.” Kedua belah pihak sama-sama bahagia. Setelah acara serah terima tersebut, keluarga Althan memberikan seserahan atau peningset kepada mama. Sebagai simbol keseriusan pihak keluarga Althan dalam meminangku. Lalu, dilanjutkan dengan acara tukar cincin dan perkenalan keluarga. Yang dilalui dengan candaan antar pihak keluarga untuk membuat suasana mencair. Selanjutnya, membicarakan hari dan tanggal pernikahan. Setelah penentuan selesai, acara pertunangan ditutup dengan doa. Berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar, tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Lalu, mama mempersilakan para tamu untuk makan bersama. Dengan harapan keluarga kami bisa saling mengenal dan mengobrol dengan santai. “Gimana perasaan kamu sekarang?” tanya Althan saat semua keluarga sedang makan bersama. Aku menoleh kaget. “Kamu nggak ikut makan bareng mereka?” tanyaku. “Aku kangen sama kamu.” Dia tersenyum menggoda, lalu meraih tanganku. “Hei! Jangan main pegang dulu. Belum halal, sabar tiga bulan lagi.” Mas Evin tiba-tiba datang dari arah dapur. Kami semua pun tergelak. Bahagia rasanya, tinggal selangkah lagi menuju kebahagiaan yang hakiki. Semoga semua dilancarkan. “Jaga Citya, ya, awas jangan sampai membuatnya menangis. Karena aku nggak akan tinggal diam,” ucap Mas Evin penuh tekanan. “Beres. Tenang aja, Citya akan bahagia bersamaku.” Althan menjawab dengan senyuman. Kulihat raut wajah Mas Evin sedikit berubah. Entah, bahagia ataukah sedih. Aku tak mengerti. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN