Jenar dan Keneth memutuskan untuk berkulineran dibawah malamnya sinar rembulan. Mereka menikmati waktu bersama meski sebelumnya ada kendala yang mungkin membuat Jenar menjadi kesal sesaat. Mereka berhenti disebuah gerobak pinggir jalan, yang biasa disebut gerobak abang - abang. Keneth menatap Jenar, "Serius kamu makan disini? Kita nggak mau cari yang lain aja? Bisa aja hig--" Jenar menutup mulut Keneth dengan tangannya, dia memutar bola matanya malas, "Udah deh mulai ceramahnya, ini tuh enak kok meski cuma pinggir jalan. Lagi pula, sama aja kayak restauran bintang lima punya kamu. Udah ayo!" Jenar menarik Keneth untuk duduk dikursi yang kosong, dan memesan siomay untuk dua porsi, "Bang, siomay dua yang spesial buat anak perawan ting ting ini lo...." Si abang malah tertawa, "Siap Neng!"

