Keramaian di pasar pagi selalu menjadi pemandangan khas setiap ibu-ibu yang berbelanja. Barang dagangan yang menggoda mata, panggilan para pedagang yang mencoba menawarkan dagangan mereka, dan aksi tawar menawar antara pedagang dan pembeli, sedikit menjadi hipnotis untuk segelintir orang yang lapar mata.
Terkadang di pasar pagi, juga bisa terjadi ajang reuni untuk segelintir orang yang mengenal tapi jarang bertemu. Seperti pagi ini, pertemuan tidak terduga antara Alika yang sedang menemani mertuanya berbelanja, dengan Vidya dan anak yang kemarin di temuinya saat bersama Davin.
Alika ingin mengalihkan pandangan agar tak bertatap muka dengan Vidya, sayangnya ibu mertua malah mengajak dirinya untuk menyapa Vidya dan Bintang. Berat hati wanita itu untuk mengikuti ajakan ibu mertua, tetapi juga tidak sopan ia menolak ajakan beliau.
Duduk bersama dan harus bermanis muka dengan orang yang membuat hati panas sangat tidak nyaman. Apalagi jika mengetahui bahwa orang itu berpotensi besar merebut suamimu, rasanya pasti ingin menjambak rambut atau menguliti wajahnya. Namun, sekali lagi, karena adanya ibu mertua Alika harus bersabar.
Sebelum pulang, Vidya sempat mengundang Alika ke kafenya. Entah apa tujuannya meminta Alika untuk bertemu secara halus, bahkan ibu mertuanya juga menyuruhnya untuk menemui wanita itu, dan di sinilah Alika, di depan kafe Rumah Cake, untuk bertemu Vidya.
“Mbak Alika, kita ke atas aja, ya? Ngobrol di ruangan saya,” ajak Vidya, saat melihat Alika duduk di salah satu kursi pengunjung kafe.
Tujuan utama Vidya mengajak wanita itu bertemu bukan sekadar bicara kosong, bagaimana pun Alika adalah istri Davin dan ia harus membicarakan tentang Bintang juga masa lalunya agar wanita itu tidak memberikan tatapan sinis seperti tadi pagi.
Alika menuruti ajakan Vidya, naik menuju ke ruang atas. Alika memperhatian arsitektur ruangan dari seluruh bangunan, dari kafe hingga ruang kerja dan kamar tidur karyawan Vidya. Wanita itu merasa jika Vidya adalah sosok tangguh, hebat, perasa, baik hati, tetapi suram. Semua terlihat dari cara Vidya mengatur ruang, penempatan perabot, dan pemilihan warna cat dinding.
“Maafkan saya, sudah lancang meminta mbak datang kemari,” ucap Vidya. “Ada yang ingin saya bicarakan dengan mbak, mengenai Bintang dan mas Davin”
Alika mendengarkan dengan hati berdebar. Walaupun sudah dapat menduganya, tetapi tak urung dirinya tetap merasa gelisah.
Sebenarnya Alika tidak terlalu mengetahui bagaimana hubungan antara Vidya dan Davin. Seingat Alika, suaminya dulu menolak menikah dengannya karena mencintai Vidya.
“Apa yang coba, kamu jelaskan?” Tegas Alika menanyakan apa yang ingin Vidya sampaikan.
Vidya mencoba meredam aura ketegangan di ruangan itu dengan tersenyum. Ia mengerti bahwa saat ini Alika pasti sedang menduga antara dirinya dan Davin pasti telah terjadi sesuatu.
“Saya ingin bercerita tentang banyak hal, terutama bagaimana hadirnya Bintang. Bersediakah Mbak mendengarnya lebih lama?” tanya Vidya.
“Ceritakan saja, aku akan mendengarkannya!” tegas Alika, kali ini senyum mulai terukir di wajahnya.
“Dulu saya hanyalah seorang gadis remaja yang tinggal di panti asuhan. Bukan karena tidak memiliki orang tua, tetapi disebabkan ketiadaan biaya untuk sekolah.”
Vidya berhenti sesaat melihat reaksi Alika yang ternyata tetap menunggu kelanjutan ceritanya dengan sabar. Wanita itu memaksa ingatannya untuk memutar kembali kenangan saat pertama kali ia bertemu dengan Erna. Menceritakannya pada Alika, bagaimana akhirnya ia dibawa pulang oleh Erna yang berjanji akan mengadopsinya.
***
Vidya remaja terperangah melihat rumah mewah yang ada di depannya. selama ini ia berpikir jika panti asuhan tempat ia tinggal adalah rumah berukuran sangat besar yang pernah ia lihat, tetapi nyatanya ada lagi rumah yang lebih besar dari panti asuhan, dan yang menjadi penghuninya hanya beberapa orang saja.
Mama Erna, itulah sapaan yang harus ia gunakan setiap kali memanggil wanita yang ada di sampingnya. Menggandeng tangan Vidya untuk mengajaknya masuk dan mengenalkan gadis remaja itu kepada suaminya.
Hari pertama tinggal di rumah besar itu, bagaikan mimpi untuk Vidya. Mama Erna dan Papa Prayoga sangat baik, memberikan sebuah kamar besar untuk dijadikan kamar tidurnya. Membelikan baju-baju mahal serta buku-buku yang bagus.
Kedua orang tua angkat Vidya sangat baik hati dan perhatian. Vidya dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah, fokus hanya untuk belajar. Jika ada yang diinginkan, orang tua angkatnya akan segera memenuhi keinginannya.
Dua hari tinggal di rumah itu, Vidya baru mengetahui jika Mama Erna memiliki seorang anak laki-laki yang sebentar lagi akan menikah. Pemuda tampan, tetapi pendiam yang selalu tersenyum melihat Vidya. Menampilkan lesung pipi yang membuat wajahnya semakin terlihat sempurna.
Dua minggu pertama tinggal di rumah itu, semua terasa sempurna. Tinggal di rumah mewah bagaikan seorang putri raja, memiliki orang tua angkat yang sangat menyayangi juga saudara laki-laki yang selalu nmemberikan perhatian padanya. Vidya merasa hidupnya sudah sangat sempurna, hingga bencana itu tiba. Saat orang tua angkatnya berangkat ke surabaya untuk mengurus pernikahan anak laki-laki mereka, Davin.
Ketika orang tuanya pulang, Vidya sudah terkapar tanpa busana di kamar Davin, sedangkan laki-laki itu bersimpuh memohon maaf berulang kali pada orang tuanya karena khilaf.
Vidya yang mulai sadar, tiba-tiba berubah menjadi seperti orang linglung. Berteriak ketakutan tanpa henti, menangis, dan yang paling buruk, beberapa kali ia berniat melakukan bunuh diri.
“Maafkan Mama, Vidya. Mama tidak menduga kakakmu akan berlaku kejam seperti ini.” Erna menangis. Menyesali kebodohannya meninggalkan Vidya yang sudah remaja hanya berduaan dengan Davin di rumah.
Vidya yang terbaring lemas dengan infus melekat di tangan, hanya menatap kosong ke luar jendela. Gadis remaja itu seolah hanya memiliki tubuh tanpa nyawa, hanya bulir air mata yang menetes di pipi gadis itu.
“Lihat Mama. Sayang. Jawab Mama!” tangis Erna tidak berhenti, sedangkan Prayoga suaminya hanya bisa menyesali diri.
Setiap hari Vidya tidak bertambah baik. Walaupum fisiknya menampakkan kemajuan, tetapi batinnya seolah tertinggal dalam lingkaran gelap. Gadis remaja itu enggan untuk bersuara dan tidak mau berinteraksi dengan siapapun. Hanya air mata yang selalu meleleh. Gadis remaja itu menangis dalam diam.
“Vidya harus kita apakan, Pa? Nggak mungkin membiarkannya seperti mayat hidup seperti ini. Aku juga tidak rela jika menitipkannya dirumah sakit jiwa.” Erna mengadu pada Prayoga suaminya.
Hanya Prayoga tempat satu-satunya Erna bisa berbagi cerit. Aib keluarga yang dicoreng oleh anak mereka sendiri, harus ditutupi sebisa dan semampu mereka.
“Pulanglah ke desa dan jaga Vidya di sana. Pernikahan Davin, kita serahkan pada keluarga Alika di surabaya,” jawab Prayoga.
Laki-laki tua itu memeluk bahu istrinya, saling menguatkan di antara mereka berdua.
Kedua orang yang seharusnya sudah mengecap bahagia hari tua itu, harus merasakan beratnya menjaga martabat keluarga dari pandangan buruk masyarakat. Menjaga skandal yang bisa menjadi gosip mematikan untuk menumbangkan Prayoga yang memiliki posisi penting di pemerintahan daerah.
Erna tersedu di d**a suaminya yang tampak tegar, tetapi ia tau suaminya juga rapuh, hanya berusaha terlihat kuat dan tabah.
***
Rumah pantai tempat keluarga Prayoga menghabiskan liburan, kini akan menjadi tempat kediaman Erna dan Vidya. Rumah sederhana yang hanya memiliki tiga kamar, tetapi merupakan tempat yang cocok untuk wanita itu merawat putrinya yang mengalami depresi pasca perkosaan yang dilakukan oleh saudara angkatnya sendiri.
Jumadi dan Rafiah, suami istri yang menjaga rumah pantai keluarga Prayoga, datang dengan membawa beberapa hasil kebun. Mereka sudah mendengar musibah yang dialami oleh keluarga majikannya. Hanya simpati dan sedikit perhatian kecil yang bisa mereka berikan pada keluarga Prayoga yang selama ini sudah begitu baik hati kepada mereka.
“Jumadi dan Rafiah, tetaplah tinggal di rumah belakang. Ibu juga tidak bisa menjaga Vidya sendiri. Membutuhkan bantuan Rafiah, kalau berkenan.” Pinta Erna pada kedua orang pekerjanya.
“Tak apa, Bu. Piah boleh tolong jaga Dek Vidya,” ucap Rafiah tulus, yang diaminkan dengan anggukan kepala Jumadi.
Vidya yang menjadi bahan pembicaraan, hanya menatap kosong ke depan. Bagaikan boneka hidup yang tidak punya emosi sama sekali. Ingin Erna ikut menyelam ke dalam pikiran gadis remaja itu. Seandainya ia mau berbagi atau sedikit menunjukkan emosinya pada Erna, semua akan sedikit lebih mudah.
Tidak mengapa gadis itu berteriak marah, melempar, dan merusak barang-barang, atau mungkin menangis tidak berhenti. Erna hanya ingin Vidya mengeluarkan emosinya, tidak diam dengan memendamnya sendirian.
“Barang-barang Vidya simpan di kamar yang mana, Bu?” tanya Jumadi. Laki-laki itu sibuk menurunkan bawaan majikannya dari mobil dan membawa masuk ke dalam.
“Jadikan satu aja dengan barang-barang Ibu di kamar depan!” perintah Erna.
Ya ... dirinya lebih memilih tidur bersama Vidya agar bisa memperhatikan gadis remaja itu, selama dua puluh empat jam sehari. Sedikit saja ada respon yang Vidya tunjukkan akan menjadi harapan untuknya menyembuhkan gadis malang itu.
***
“Ibu mau bawa Vidya ke pantai, kalian bereskan saja apa yang perlu.” Pesan Erna pada kedua pembantunya.
Membawa Vidya berjalan-jalan di pantai, mungkin dapat memancing gadis itu untuk memberikan reaksi pada lingkungannya. Tempat yang tenang, sedikit gangguan dari bisingnya manusia, merupakan tempat yang cocok untuk Erna memberikan perawatan kejiwaan pada putri angkatnya.
“Vidya suka pantai 'kan, Nak? Dulu Mama pernah janji, bawa Vidya ke pantai kalau liburan.” Erna menggandeng tangan Vidya, mengajak gadis itu menyusuri bibir pantai. Berbicara padanya, walau tidak mendapatkan respon.
“Sekarang Vidya boleh kapan saja main ke pantai, Vidya suka?” Kembali ia memperhatikan wajah anak angkatnya, berharap dapat melihat sedikit saja gerakan di wajah gadis itu, tetapi sia-sia.
Sudah satu bulan Vidya di bawa ke rumah pantai, sedikit pun tidak ada perubahan yang ia berikan. Makan, minum, dan mandi, semua harus dibantu oleh Erna. Wanita tua itu sudah hampir putus asa. Ia hampir menyerah dan ingin membawa anak gadisnya kembali ke kota. Lelah, kecewa, menyesal hampir mengalahkan rasa tanggung jawab dari rasa bersalahnya pada Vidya.
Sementara itu, Vidya yang terlalu asik mengurung pikirannya dalam khayal yang menciptakan dunia penuh bahagia di alam bawah sadar, hampir membunuh mati emosi dan rasa sakit yang menyelimuti jiwanya.
Jika hari-hari sebelumnya Vidya hidup dalam jerit ketakutan dan rasa sakit yang ia derita akibat perlakuan kejam Davin, kini ia tidak lagi merasakannya. Gadis remaja enam belas tahun itu telah menciptakan dunianya sendiri. Lari dari kenyataan yang telah mengoyak dan menghancurkan masa depannya.
Kini ia telah berada dalam sebuah taman bunga. Sendirian tertidur di atas hamparan bunga-bunga yang indah. Beberapa kali ia mendengar panggilan Erna, tetapi suara itu sangat sayup, sehingga dirinya lelah mencari-cari sumber suara ibu angkatnya, dan ketika ia sudah hampir menemukan Erna, sebuah pintu tak kasat mata menghalangi dirinya untuk mengikuti panggilan sang mama yang mengajaknya pulang.
Berulang kali gadis remaja itu berusaha melewati tembok yang mencipta jarak antara dirinya dan Erna. Setiap kali ia berusaha melangkah keluar, dinding tak kasat mata itu seakan memiliki lapis yang tidak bisa ditembus dengan mudahnya.
Lelah berusaha mendekati suara Erna, Vidya lebih memilih tertidur kembali di padang bunga yang ia ciptakan, tetapi lagi dan lagi terdengar suara Erna yang menangis, merayu dan memohon dirinya agar kembali. kini wanita paruh baya itu telah duduk di sampingnya, memberikan sentuhan hangat yang tidak pernah ia rasakan selama dirinya berada di taman bunga ini.
“Mama, datang? Bagaimana caranya Mama masuk ke sini? Vidya kangen Mama!” ucap gadis itu, ada lelah dalam suaranya.
“Mama juga kangen Vidya. Bangun ya, Nak. Ikut Mama pulang!” ajak Erna.
“Vidya nggak bisa lewat, Ma. Di sana ada dindingnya.” Vidya mulai terisak.
Dirinya juga ingin pulang, di taman bunga ini dirinya merasa kesepian, tetapi jika ia mencoba membentur tembok tak kasat mata itu, dirinya akan merasakan sakit yang tidak bisa ditahan.
“Ikut Mama, ya. Pegang tangan Mama, kita akan lewati dindingnya bersama-sama.”
Kembali Erna meyakinkan Vidya, memberikan rasa percaya diri pada remaja itu untuk mengikuti langkahnya.
Vidya menerima uluran tangan Erna, mengikuti langkah ibu angkatnya melewati dinding yang selama ini sulit untuk ditembus. bersama Erna, Vidya hanya merasakan sedikit sakit yang menghantam hatinya.
***
Vidya melihat ibu angkatnya sedang larut dalam sujud salat malam yang khusyuk. Sesaat ia seperti sedang terbangun dari mimpi yang panjang. Berada dalam sebuah taman bunga, tetapi detik berikutnya ia merasa berada dalam lingkaran api dan orang-orang bengis yang ingin menyiksa. Sesaat ia juga merasakan tenang, melihat Erna yang berada di dekatnya.
“Mama ...!” Vidya berusaha memanggil Erna, sebelum dirinya terkulai lemas, lelah mencerna di alam mana dirinya berada.
Erna mendengar panggilan Vidya menghentikan Lafaz Dzikir yang ia ucapkan sepanjang malam. Antara kalut dan bahagia melihat kondisi anak gadisnya, Erna memanggil Rafiah dan Jumadi. Memaksa bangun kedua pambantunya untuk membawa Vidya ke rumah sakit.