Sudah hampir lewat musim dingin yang beku dan putih, sekarang semua hal perlahan bersemi meski cuaca dingin tak sepenuhnya sirna. Bekas-bekas kebekuan masih tertinggal di ranting-ranting pohon abu-abu, begulat dengan kuncup-kuncup daun cemara dan bunga-bunga aneka warna, mawar, daisy, violet, atau lavender. Sekarang sekali lagi rumput tak hanya berwarna hijau, ada warna lain bersamanya. Benar, penuh warna. Tidak sepertiku yang muram dan memudar karena menunggu musim semiku datang terlalu lama.
Aku memang sudah terbiasa sendiri karena itulah, saat harus menunggu seseorang aku merasa jengah dan lelah. Ketidak berdayaan karena keadaan adalah hal yang paling sulit untuk di lawan, namun aku tak bisa melakukan banyak hal dan terus menunggu karena aku benar-benar ingin tahu dan ingin bertemu pria itu. Pria yang sempat merasuk dalam tidurku beberapa kali. Pria misterius dengan semua hal tentangnya yang begitu terselubungi kabut tebal. Aku ingin tahu namanya, sikapnya, tindakannya dan semua sisi empati yang ada padanya. Tapi hingga musim panas ini ia belum menemuiku. Aku tidak tahu kenapa dan tidak ada yang mau memberitahuku kenapa.
"Nona" aku menegok ke arah Lanni. Gadis itu berdiri terus dan mengawasi di belakangku, bahkan saat aku hanya berdiri ujung koridor.
"Ada apa?" balasku padanya
"Hampir malam, sebaiknya anda masuk. Di sini tidak terlalu baik untuk Anda, cuaca masih cukup dingin. Anda bisa saja sakit" aku berdiam sebentar, sambir mengamati gumpalan langit yang berwarna merah muda bercampur ungu dan jingga, menggantung berkeliling di antara sinar matahari senja.
"Aku akan masuk, sebentar lagi. Siapkan saja makan malam"
"Apa ada yang anda inginkan? Tanyanya dengan antusias. Yah benar, akhir-akhir ini selera makanku nyaris tak ada, karena terlalu banyak berpikir. Aku kira Lanni sungguh peduli padaku saat ini.
"Aku rasa kau bisa membuat sup dengan sedikit kayu manis" ia mengangguk pelan. Ada senyum ceria di bibirnya yang tebal. Dia nampak manis saat tersenyum.
"Saya mengerti. Akan saya beritahu tukang masak" aku mengangguk pelan dan bayangan gadis itu kemudian menghilang.
Aku mengamati arah matahari, menunggu kapan dia akan tergelincir. Cukup lama dan begitu lambat, seperti seekor penyu sedang menyeret lagkahnya ke butiran pasir untuk menuju ke pantai yang biru pekat. Perasaanku mendadak tak enak. Aku merasa seseorang sedang mengawasiku dari arah hutan, diantara ribuan pohon yang membentang, dari celahnya yang gelap, sesuatu benar-benar menggangguku. Aku merasakan perasaan itu sejak tadi, tapi berusaha tidak peduli. Namun perasaan itu makin mengganggu dan mengoyak ketenanganku. Aku melemparkan pandangan mataku ke sana, ke setiap sudutnya yang nampak kecil. Yang kudapati hanya kenihilan sementara hembus angin mulai mengerikan.
Aku putuskan beranjak masuk kembali ke kamarku, saat aku berbalik seosok orang bermata merah dengan jubah hitam panjang yang menutup wajah dan tubuhnya berdiri di depanku. Aku terkejut hingga tanpa sadar, aku memundurkan tubuhku beberapa langkah hingga berbenturan batu pembatas balkon. Perasaan penuh tanya dan khawatir memenuhi batinku. Siapa dan kenapa orang ini bisa di sini, bahkan bagaimana caranya dia bisa sampai ke sini tiba-tiba tanpa kusadari.
"Tidurlah" katanya dengan suara serak seperti denting gelas yang pecah. Nafasnya berat beraroma busuk. Aku bergidik ngeri dengan suara tertahan.
"Apa maksudmu" balasku panik sambil terus mengamati sosoknya. Dia kemudian berjalan mendekat ke arahku dengan langkah menyeret yang berat. Tangannya yang berkuku panjang berwarna merah ia sentuhkan ke wajahku. Aku memandangi kukunya yang berwarna merah dan panjang, kulit tubuhnya berwarna hitam tersingkap dari jubah gelapnya. Benar-benar hitam. Aku belum pernah melihat tubuh sehitam warna arang seperti itu. kukunya terasa kasar di atas permukaan kulitku. Aku semakin cemas dan bersiap mengangkat tumit kakiku untuk melarikan diri.
"Oh, Anna yang manis. Tidurlah" ia bicara seolah sedang mengucapka sebuah mantra. Aku mendengarkannya dengan terpaksa, tapi entahlah mengapa lututku merasa lemas, mataku begitu berat tanpa aku sadari. Aku merasa mengantuk. Sangat mengantuk, benar! Aku perlu tidur meskisejenak. Ini adalah perasaan yang tidak bisa kulawan sama sekali. Sebaris sinar mulai sirna di ujung pandanganku dan berganti dengan warna kegelapan.
~0~
Setelah dari perpustakaan aku bermaksud menemui Anna. Aku mempertimbangkan banyak hal akhir-akhir ini tentang gadis muda itu. Kudengar belakangan ini dari para pelayan bahwa gadis itu nampak lebih murung dari biasanya meski dia memang tak begitu banyak bicara atau berkomentar tapi ditanya. Tapi kebiasaannya yang selalu meghabiskan lebih banyak waktu di kamar dan jarang menghabiskan makanannya bahkan tak mau makan benar-benar menggangu terutama untukku yang ditugaskan menjaganya.
Tidak akan baik jika dia sampai sakit. Aku cemas pada tuan terutama pada reaksinya yang tidak akan menyenangkan. Saat menginjaki selapis demi selapis anak tangga. Aku berpapasan Lanni. Ia nampak senang, entah ada apa, tapi aku harap dia melakukan satu hal atau mendapat kabar yang cukup baik setelah menemani Anna seharian. Yah, dia memang dibawa kemari untuk menemani Anna agar gadis itu tak begitu rewal. Tapi ternyata keberadaannya di sini tak mengubah banyak, namun cukup berguna.
"Tuan" sapanya sopan, menghentikan langkahku.
"Di mana nona?"
"Nona masih beranda kamarnya"
"Kenapa kau meninggalkannya?"
" Beliau meminta saya menyiapkan sup hangat dengan taburan kayu manis. Apa anda ingin saya memanggilnya?" tanyanaya dengan sorot mata berbinar. Aku menyecap mulutku. Yah tingkahnya saat bekerja di sini jauh berbeda di bandingkan saat dia masih menjadi b***k. Anna memperlakukan dirinya dengan baik, bukan sebagai binatang tanpa harga sama sekali.
"Aku yang akan menemuinya sendiri. Pergilah!" perintahku sedikit kasar
"Kalau begitu saya permisi" aku mengangguk dan melanjutkan langkahku. Tujuanku masih sama seperti sebelumnya yang aku niatkan.
Aku ingin berbicara dengan gadis itu. Aku menebak-nebak pikirannya banyak dihantui mengenai semua pertanyaan tentang tuan belakangan ini yang belum mau menemuinya. Setidaknya aku harus bisa membesarkan hatinya.
Langkahku terhenti di muka pintunya yang membuka lebar. Angin dingin berembus begitu rupa dan menggelayut di sekitar tubuhku. Bulu kudukku sedikit meremang, perasaan ini terasa asing dan keasingan itulah yang tak melegakan hatiku sama sekali. Aku menapakkan kakiku sejengkal ke sana. Kain gorden penutup jendelanya sayup-sayup tertiup angin hingga balkon di mana ia berdiri tak begitu jelas.
Perasaanku semakin cemas, entah kenapa. Hal ini tidak biasanya terjadi. Suasana ini tak pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan di awasi oleh sesuatu. Aku mengenrnyitkan alisku.
Saat berdiri di ujung pintu ke balkonnya. Benar saja aku mendapati hal mengerikan, yah menurutku. Ia tengah terkapar di atas marmer abu-abu, warna yang kontras dengan gaun merah yang ia kenakan. Aku buru-buru menyambar tubuhnya dengan rasa cemas dalam dadaku. Tubuhnya dingin, sedingin es. Apa gerangan yang sudah terjadi padamu. Kata batinku ingin tahu.
Aku mengangkat tubuhnya segera ke tempat tidur dan menyelimutinya. Ia nampak tak bernapas dengan wajah pucat dan bibir tanpa warna. Aku meraba nadinya, tak ada denyut sama sekali. Kebingungan penuh dalam rongga d**a dan otot syarafku, bagaimana mungkin ini terjadi. Apa yang sudah menimpanya.
"Pelayan... Pelayan.. Kemari kalian berdua" panggilku dengan suara lantang hingga bunyi suaraku menggema beberapa kali. Belum ada yang datang dan rasa tak sabar menghantuiku. Aku berlari ke balkon dan memanggil lagi dari sana. Suaraku makin keras disertai rasa panik yang membludak. Tak lama dari ujung ruangan, kedua pelayan wanita itu berlarian dengan panik. Wajah mereka nampak ketakutan dengan nafas memburu yang kasar
"Ada apa tuan?" tanya pelayan wanita tua itu padaku sambil berlari dari ujung tangga.
"Ambilkan semua selimut tebal kemari!!!" ia mempercepat langkahnya dan berlarian ke kamar lainnya. sementara Lanni tampak cemas dan takut berlari dan menghampiriku, ia merapatkan kedua jemarinya dengan ketakutan.
"Tuan" katanya begitu kecil, nyaris seperti berbisik.
"Apa yang terjadi saat kau meninggalkan nona?" tanyaku padanya dengan nada sedikit membentak. Gadis itu tampak terkejut dalam pandangannya yang tertunduk. Dengan tubuh bergetar aku mendengar ia bicara.
"Saya tidak melakukan apa-apa. Saya meminta nona untuk masuk karena sudah senja. Setelah itu, setelah itu dia meminta saya menyiapkan makanan. Saya tidak tahu jika itu salah" suaranya bergetar, tercekat dan terbatah. Aku terhenyak dan menyadari tidak mungkin menyalahkannya karena ketidaktahuannya. Ini akan mendatangkan masalah untukku. Pasti!
Anet pelayan tua itu berlari panik dengan tergopoh, tumpukan selimut menutupi hingga dagunya. Aku meraihnya segera dan memasuki kamar Anna, memasang tiga lapis selimut tebal di atas tubuhnya. Kedua pelayan itu mengikut di belakangku.
"Apa yang terjadi pada nona tuan" tanya salah satu dari mereka yang aku tak peduli itu siapa karena kepanikanku sekarang, seolah sudah menutup kedua mataku dan meneggelamkanku dalam kebingungan sekaligus ketidak berdayaan.
"Dia mati, dia sudah mati" jawabku dengan suara bergetar yang tak bisa kusembunyikan. Kejadian tiba-tiba ini merampas ketenanganku. Lanni laju beberapa langkah ke sisi Anna, ia menyentuh dahinya kemudian hidungnya. Wajah tak percaya, terkejut dan sedih menampil di mukanya. Sama seperti raut mukaku sekarang.
"Bagaimana mungkin dia mati. Dia baik-baik saja saat aku meninggalkannya," ujar Lanni dengan suara terisak "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" ia meratapi gadis itu yang sedang terbaring di atas ranjang bertutup seprai violet.
"Dia belum sepenuhnya mati. Maksudku, mungkin dia berada diambang kematian. Seseorang mencuri jiwanya" tandasku mencoba lebih tenang.
"Jika begitu, jiwanya harus segera kembali sebelum masa sehari. Jika tidak, tubuhnya akan membusuk" aku melirik dari sudut mataku pada pelayan tua di belakangku.
"Kita tidak tahu siapa yang mencuri jiwanya,"
Sesuatu terlintas dalam benakku. Aku hanya memiliki satu cara terakhir sekarang dan tak bisa aku tunda, karena seperti yang dikatakannya barusan, menunda terlalu lama berarti memastikan kematian untuk Anna.
"Jaga tubuhnya, jangan sampai dingin. Aku akan ke suatu tempat!"
Aku meninggalkan kamar tersebut dan menuruni tangga, langkah kakiku terdengar meletuk-letuk dengan terburu dan memantul ke seluruh ruangan. Seiring itu pikiranku pun dipenuhi kekalutan, apa yang akan tuan lakukan saat ia datang. Menunggunya jelas mustahil, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah dengan memanggilnya.
Aku mengulur sedikit lengan jasku dan membuka kancing lengannya. Segel kontrak kami berada di sana. Aku menitikan beberapa tetes darahku sebagai sebuah langkah paling kasar untuk memanggilnya. Tuan selalu menitip pesan untuk melakukan hal itu hanya pada saat-saat yang genting, dan saat ini cukup genting pukirku.