06 Gengsi

1798 Kata
Udara kebebasan kembali terhirup setelah melewati satu minggu penuh cobaan di rumah orang tua Zhao Wei. Kini keduanya sudah ada di Indonesia. Meskipun terpaksa tinggal serumah akibat tindakan penyelidikan terhadap pernikahan mereka, setidaknya di dalam rumah dan di kantor masih ada keleluasaan. Ditutupi dengan alasan palsu perjalanan bisnis, ketidakhadiran Fandy dan Zhao Wei di kantor dalam waktu yang sama dianggap menjadi sesuatu yang biasa. Keduanya yang juga berangkat sendiri dari rumah mendukung situasi tersebut. Proyek yang tertunda seminggu itu harus Zhao Wei kejar untuk diselesaikan. Tidak ada waktu untuk mengerjakannya selama ada di Taiwan. Kini ia mengerahkan segala kreativitas dan energinya untuk membuat beberapa konsep yang harus ia presentasikan kepada Fandy sore ini. "Aduh, leher jadi sakit sekali ya." Zhao Wei memijit-mijit tengkuknya yang selama tiga jam terakhir ini menegang. Seluruh anggota tubuhnya bekerjasama untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. "Suntuk juga rasanya. Mungkin aku bisa keluar dan berjalan-jalan sebentar." Disimpannya hasil kerjanya agar tidak hilang sebelum ia beranjak dari ruangan kecilnya itu. Melihat kumpulan pegawai yang bisa saling mengobrol di ruang kantor terbuka itu membuat Zhao Wei iri. Ia ingin segera bergabung dengan mereka. Tetapi Fandy berkata bahwa diperlukan seminggu untuk mengatur ulang ruangan. Pasalnya perombakan tata ruang akan mengganggu pekerjaan. Mengerti tentang resiko itu, ia tidak protes dan hanya menanti. "Halo, Ci Zhao Wei. Kok ada di sini?" Cindy menyapa dan beberapa pegawai lain di sekitarnya mengarahkan pandangan padanya. Zhao Wei tersenyum. "Saya capek dan bosan di sana," ujarnya jujur. "Kalian lagi nggak ada kerjaan?" Wawan, si lelaki lemah gemulai itu mengangkat tangannya seperti seorang murid ingin menjawab pertanyaan dari gurunya. "Hari-hari ini sih, kerjaan kita kayanya lebih sedikit. Kalian ngerasain juga nggak sih?" Dia meminta persetujuan teman-temannya. Desahan napas tertahan diperdengarkan Cindy. "Jangan-jangan, Pak Fandy serahin semua pekerjaan kita ke Ci Zhao Wei. Hah! Apa kita bakalan dipecat?" Ia asal mengambil kesimpulan. Yang benar? Sialan sekali dia. Kalau sampai hal ini memang benar, aku nggak akan tinggal diam. Aku harus protes nanti. Batin Zhao Wei dipenuhi oleh perasaan kesal seketika hanya dengan membayangkannya. Masalahnya hal ini merugikan kedua belah pihak; Zhao Wei mendapatkan beban yang lebih dari seharusnya dan pegawai-pegawai ini kehilangan pekerjaannya. "Hus. Kamu teh jangan asal ngomong. Pak Fandy yang saya kenal nggak akan gitu." Seorang wanita yang tampak lebih tua dari mereka semua menegur. Ia kemudian memandang pada Zhao Wei. "Nona jangan khawatir. Mungkin ini cuma karena Pak Fandy percaya sekali sama Nona. Lagi pula memang betul 'kan kemampuan Nona melebihi kami semua yang sudah lama bekerja di sini?" Wawan mengangguk-angguk setuju. "Nggak heran Pak Fandy ajak Nona Zhao Wei di perjalanan bisnis. Padahal kita yang udah duluan kerja di sini nggak pernah loh diajakin. Ya kan?" Ia menunjukkan senyuman penuh arti di wajahnya. Kejadian di antara Zhao Wei dan Fandy yang pernah dilihatnya di dalam ruang kantor CEO seolah menjadi sebuah rahasia yang bisa disimpannya dengan bangga. "Walaupun begitu, saya harap bagaimana kalian memperlakukan satu sama lain, begitu juga kalian memperlakukan saya. Nggak menutup kemungkinan kalau masih ada banyak hal yang saya perlu pelajari dari teman-teman." Zhao Wei berujar dengan kerendahan hati. Padahal sebenarnya di sisi lain, itu adalah salah satu cara untuk mengalihkan topik sesegera mungkin agar tidak ada pembahasan tentang perjalanan bisnis palsu itu. "Kenapa saya jadi jatuh cinta sama Ci Zhao Wei ya?" Cindy menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan sambil memandang gadis asal Taiwan itu. "Udah cantik, pinter, rendah hati. Ah, pasti cowok yang nanti jadi suami cici beruntung banget." Yang lain turut mengangguk-angguk setuju. Mereka menambahi komentar-komentar memuji lainnya pada Zhao Wei. Deheman keras familiar yang kini sudah menjadi layaknya bel sekolah membubarkan perkumpulan kecil itu. Mereka semua langsung kembali ke posisi masing-masing. Zhao Wei yang ditinggal sendirian melirik ke sampingnya dimana sang CEO FL Media Inc. berdiri dengan kedua tangan masuk di saku celana. "Perusak suasana," gumam Zhao Wei dengan nada rendah dan kepalanya menoleh ke arah lain. Namun berada tepat di samping Zhao Wei membuat telinganya yang tajam bisa menangkap perkataan itu. "Bilang apa tadi?" Fandy memiringkan kepalanya pada gadis yang rambutnya dikuncir itu. Zhao Wei menoleh kembali pada si bos sambil mengerutkan dahi. "Bilang apa ya? Hm, Bapak mungkin salah dengar. Saya diam saja kok. Permisi." Ia kemudian membalik badan dan berjalan menuju ke pantry. "Hei, pegawai baru." Fandy protes karena dihiraukan begitu saja dan berjalan menyusulnya. Sementara itu di belakangnya, para pegawai tertawa geli diam-diam mendapati bos mereka diperlakukan begitu. Di dalam pantry, Zhao Wei gesit mengambil gelas dan menuangkan jus apel kotak dari dalam lemari es. Ia meneguk perlahan minuman dingin itu sebagai alibi untuk tidak berkomunikasi dengan Fandy. "Zhao Wei, kamu—" Telapak tangan Zhao Wei teracung ke arah Fandy dengan posisi terbuka dan mencegah pria itu untuk lanjut bicara. Ia menghabiskan apa yang ada di gelasnya lebih dulu sebelum angkat bicara. "Ya, silakan lanjutkan." Kedua alis Fandy naik dan kepalanya bergerak mundur merasa terheran. "Kenapa sekarang kamu yang jadi kaya bos?" Ia berkacak pinggang. Zhao Wei mengulum senyum. "Oh? Maaf, Bapak Fandy. Silakan lanjutkan bicaranya." Ia mengulangi perkataannya tetapi dengan nada yang lebih lembut. Kedua lengan Fandy terlipat di depan d**a. "Denger ya, Zhao Wei. Meskipun kita udah menikah, itu bukan berarti kamu bisa berlaku kaya gini sama saya. Di sini kamu adalah pegawai dan saya bos, jadi udah seharusnya kamu tunjukkan sikap hormat ke saya. Bukannya kamu mau sukses? Atau saya bilang aja ke orang tua kamu yang sebenarnya tentang pernikahan ini?" Ia mengeluarkan ancaman. Tarikan napas panjang Zhao Wei menampakkan dadanya yang mengembang tinggi dan kembali mengempis saat ia mengembuskannya perlahan. Apa yang dikatakan Fandy memang benar dan ia hanya terbawa emosi sesaat karena kelelahan. Sikap buruk yang sudah diusahakannya untuk hilang entah bagaimana muncul lagi. "Maaf." Zhao Wei menyesali tingkahnya. "Kamu tahu nggak kalau sikap kamu ini bisa merugikan kamu sendiri? Kamu 'kan udah dewasa. Seharusnya kamu ngerti etika." Tersulut emosi, nada suara Fandy menjadi naik. "Kalau di perusahaan lain, kamu pasti udah dipecat. Otak ada tapi hati nggak ada ya jadinya percuma." Semakin lama perkataan Fandy semakin pedas. Zhao Wei kini bukan hanya menyesal tapi dirundung perasaan bersalah dan sedih. Alasan ia pergi dari orang tuanya adalah untuk menghindari nada tinggi semacam ini. Namun di sini ia justru kembali mendapatkan situasi yang sama. "Ya, saya bersalah. Saya akan meminta maaf di depan umum dan berjanji nggak akan mengulanginya lagi." Ada getaran tipis yang terdengar di suara Zhao Wei saat ia mengucapkannya sambil menunduk. "Udah lah. Lupain aja." Fandy tidak mau meneruskannya lagi ketika melihat perubahan mendadak yang Zhao Wei tunjukkan. Ia pun sedikit merasa menyesal karena kurang mengontrol cara penyampaiannya yang terlalu keras jadinya itu. "Jangan lupa sore ini kamu harus presentasikan semua tugas yang udah kamu kerjakan." Zhao Wei mengangguk. Ia masih tidak mengangkat wajahnya karena malu jika matanya yang berkaca-kaca ketahuan. "Baik, Pak." Fandy melangkah keluar dari pantry dan saat itulah air mata Zhao Wei jatuh. Ia cepat-cepat menghapusnya agar tidak dilihat oleh siapapun. Tanpa berlama-lama, Zhao Wei segera kembali ke ruang kantornya. Demi menghindari terlarut dalam kesedihan, Zhao Wei mengerjakan tugas-tugasnya lagi. Diperiksanya ulang semua yang sudah selesai dibereskan untuk memastikan bahwa semuanya benar. Ia tidak mau ambil resiko melakukan kesalahan lainnya setelah yang barusan terjadi ini. Begitu selesai dan tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, kesedihan itu datang kembali. Zhao Wei jadi teringat bagaimana papa dan mamanya selalu menuntutnya untuk menjadi yang terbaik dan memarahinya habis-habisan jika ia kurang berhasil sedikit saja. Zhao Wei yang awalnya kalem dan cenderung diam lama kelamaan meledak dalam pemberontakan. Ia benci dikekang dan menginginkan kebebasan. Inilah yang membawanya bisa mengambil kuliah desain grafis ketimbang manajemen bisnis seperti yang orang tuanya minta. Tiga kali ketukan terdengar di pintu ruangan Zhao Wei. "Permisi." Sosok sekretaris dengan gaya rambut bersanggul modern itu membuka pintu dan berjalan masuk. "Oh ya, Bu Cecil. Ada apa ya?" tanya Zhao Wei. Sebuah kantong kertas bertuliskan nama restoran Indonesia diletakkan di atas meja Zhao Wei. "Ini untuk Nona," kata Cecilia. "Agak aneh sih, tapi Pak Fandy traktir seluruh pegawai. Dan ini yang pertama kali." "Oh? Wow." Zhao Wei berkomentar singkat saja. Ia pun terheran kalau begitu. "Terima kasih, Bu Cecil." Senyuman terpasang di wajah wanita berusia tiga puluhan itu. "Nggak masalah, Nona. Justru Pak Fandy yang harus dapat ucapan terima kasih. Nanti kan Nona presentasi, nah silakan sampaikan saja," sarannya. Zhao Wei terkekeh dan dalam hati berpikir bahwa itu tidak akan mudah dilakukannya. Alhasil, ia hanya mengiyakan perkataan Cecilia. "Kalau begitu saya per—" "Bu Cecil, bisa temani saya sebentar?" Zhao Wei setengah memohon. "Saya kesepian di sini." Cecilia menggaruk pelipisnya. Ia merasa kasihan pada Zhao Wei tetapi keadaan tidak mendukung. "Maaf, Nona, sayangnya saya sedang perlu menyelesaikan pekerjaan saya." "Ah, begitu. Ya, nggak masalah. Lupakan saja yang tadi saya bilang," sahut Zhao Wei. "Silakan lanjutkan pekerjaannya." "Maaf ya, Nona." Cecilia kembali meminta maaf sebelum pergi keluar. Zhao Wei menghela napas panjang. "Lihat isinya ah." Ia menarik kantong kertas itu dan mendapati cheese burger dan kentang di dalamnya. Tetapi secarik catatan kecil terjatuh dari antara kedua makanan itu. "Apa ini?" Baru hendak membacanya, seorang pria menerobos masuk ruangannya dengan berseru, "Jangan dibaca!" Fandy mendekati Zhao Wei dan hendak merebut catatan itu dari tangannya. Namun gerakan reflek Zhao Wei lebih cepat hingga bisa menyelamatkan kertas kecil itu. "Ini kan dikasih ke saya. Artinya punya saya. Bapak nggak boleh seperti ini, asal mengambil dari tangan yang punya." "Itu punya saya, nggak sengaja masuk ke kantong itu. Sini kembalikan." Fandy berusaha merebut kembali catatan itu. Melihat tatapan serius bosnya, Zhao Wei teringat akan janjinya. Ia mau bersikap hormat pada atasannya. Karena itu ia menyodorkan kertas kecil itu di tangannya yang terbuka. Secepat kilat, Fandy menyambar apa yang ada di tangan Zhao Wei lalu meremasnya. Tong sampah kecil yang ada di dekat meja adalah tempat berlabuhnya bola kertas itu. Merasa kebingungan, Zhao Wei bertanya, "Kenapa diremas begitu? Bapak susah-susah kemari untuk membuang catatan itu? Bukannya bapak bisa minta kepada saya untuk melakukannya?" Fandy tidak tahu harus menjawab apa. Zhao Wei sebenarnya sudah sempat melihat isi catatan itu. Ia mengerti apa yang Fandy berusaha lakukan. "Saya memaafkan Pak Fandy. Justru saya berterima kasih karena Bapak sudah mengingatkan saya. Terima kasih juga sudah berniat melakukannya sampai-sampai harus mentraktir semua pegawai hanya agar mereka tidak berpikir ada sesuatu yang terjadi di antara kita." Fandy tercengang karena niatnya terbaca jelas oleh Zhao Wei. Ia cukup gengsi untuk mengakui kebenarannya hingga ia berdalih, "Nggak juga. Itu cuma bentuk dari penghargaan kecil dari saya sebagai bos atas kerja keras mereka. Kamu jangan terlalu percaya diri gitu." Orang ini memang sepertinya nggak bisa mengakui kebaikannya sendiri. Aneh tapi lucu. Zhao Wei tanpa sadar tertawa kecil. "Apa yang lucu?" Fandy melemparkan pandangan tajam pada Zhao Wei. Zhao Wei menggeleng. "Saya akan ke ruangan Bapak dalam waktu lima belas menit." Alih-alih melanjutkan percakapan di topik yang sama, ia mengalihkan pembicaraan. "Baguslah. Saya tunggu." Tidak berbasa-basi lebih lanjut, Fandy pun pergi meninggalkan ruangan itu. [MWB]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN