Degup jantung itu masih menyala dengan cepatnya. Matanya pun terus menyorot sempurna. Tubuhnya kian tidak terkendali, apalagi ketika kembali mengingat kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Aika. Entah sejak kapan dia tahu arti dari rasa gugup. Padahal ia tidak sedang berdiri diantara frasa-frasa pongah dan kain rentang yang berlubang-lubang. Namun semua rasa menyiksa yang membuat wajah pucat itu tiba-tiba saja muncul, sepanjang tubuhnya dan Aika bersentuhan. Karena semuanya, Jo lupa cara menarik napas dengan baik, hingga ia tersedak karena air liurnya sendiri. 'Apa seperti ini rasanya jatuh cinta? Kenapa bagaikan disentuh oleh Dewa Kematian dan Dewi Fortuna secara bersamaan? Saya yang bodoh atau rasa ini yang sangat menyiksa. Sebaiknya saya pergi dari sini, sebelum mengering dan men

