3. Audisi Calon Istri

1338 Kata
"Arrrrgggggghhhhh ... " teriakku kesal. Kujambaki rambutku sendiri gregetan, membuatnya yang tadinya rapi wangi dan elegan menjadi awut-awutan dan tak beraturan. Sopir taksi yang kutumpangi melompat kaget. Mengelus-elus d**a. "Nyebut mbak! Nyebut!" Mungkin pak sopir sudah menganggapku gila. Sejak keluar restoran dan naik taksi, aku memang bertingkah seperti orang gila. Berteriak kesal, bergumam sendiri nggak karuan, dan terakhir selalu menjambaki rambut atau mengetukkan kepala ke jendela taksi. "Sabar mbak," nasehat pak sopir, "orang sabar disayang Tuhan!" Aku diam. "Besok-besok lagi jangan berpakaian seperti itu mbak," petuahnya, "Ndak sopan." Ingin sekali aku mengutuk Emma yang sudah membuatku kayak gini. Berangkat seperti gadis penggoda, pulang kayak Mak lampir. Ingin sekali aku mengeluarkan sumpah serapah mengutuk gadis itu. Tapi semua itu aku tahan dulu. Walau aku bukan gadis baik, aku masih punya tata krama di dekat orang yang lebih tua. Nggak enak jika kata-kata kotorku didengar sama pak sopir yang baik ini. Akhirnya aku hanya bisa mendesah putus asa ketika mengingat detail kejadian di restoran tadi. "Anda nona Emma?" Aku meneguk ludah takut. Nada bicara wanita yang menepuk pundakku tadi sungguh tegas, mendikte. "Iya nyonya." "Emma Jayendra?" tanyanya kembali untuk menegaskan. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa seperti maling yang ketahuan nyuri identitas orang. Aku mengangguk. "Benar nyonya." Terlihat nyonya di depanku ini mengamatiku dari atas ke bawah, menelisik dari bawah ke atas, lalu mendesah seperti orang tua yang lelah dengan tingkah nakal anaknya. Dan aku hanya bisa menunduk, seperti anak yang siap menerima hukuman dari ibunya. "Nona Emma!" "Iya nyonya." "Hobi make up?" tanya sang nyonya. "Tidak nyonya." "Suka berpakaian seksi?' Kali ini aku menggeleng. "Tidak nyonya. Maaf!" Emmmmmaaaaaaa. Awaaaaasssss kamuuuuuu!!! Gregetku dalam hati. "Pernah pergi ke diskotik?" "Belum pernah nyonya." "Lalu apa alasan anda datang ke sini dengan penampilan seperti itu?" Aku mengangkat wajah, memberanikan diri menatap sang nyonya. "Maaf nyonya." "Maaf tentang?" "Maaf tentang penampilanku yang mengerikan." "Bisakah anda memberikan alasan?" "Maaf karena tadinya saya berharap, dengan penampilan ini, kencan ini akan gagal." "Dari mana anda punya pemikiran seperti itu?' "Maaf nyonya, sesuai informasi, katanya, tuan Barra adalah cowok pekerja keras, perfeksionis dan selalu menjaga image. Jika saya berpenampilan begini, mungkin nanti tuan Barra akan berpikir ulang untuk menikah dengan saya. Karena besar kemungkinan dia takut, kelak saya bisa saja membuat dia malu." "Menikah?" Sekarang aku jadi bingung dengan pertanyaan nyonya yang satu ini, "bukankah tujuan kencan buta memang menikah?" "Jadi anda mau menikah?" Loh????? "Bukan. Maksud saya ... " "Saya datang ke sini sendiri karena mendengar kalau anda adalah kandidat yang spesial dari beberapa gadis yang masuk list calon istri Barra. Ternyata setelah bertemu, anda tidak hanya spesial tapi juga istimewa." Ucapnya tersenyum penuh kepuasan. Loh. Tunggu. Tunggu dulu. Apa hanya aku di sini yang nggak nyambung obrolan dari tadi. Kandidat? List calon istri? Spesial? Istimewa? Ada apa ini sebenarnya???? "Tung-tunggu sebentar nyonya, saya ... " "Perkenalkan nama saya Gessa. Saya adalah ibunya Barra." Loh calon ibu mertua. Mertua yang otoriter. Eh. Aku menyalami uluran tangan wanita yang mengaku bernama Gessa dan menciumnya. "Maaf nyonya, saya ... " ingin sekali aku menjelaskan duduk permasalahannya, tapi lagi-lagi kalimatku terputus. "Panggil saya ibu." '?????????' Aku nyengir, "ma-maaf ibu, sebenarnya begini ... " "Tiga hari lagi akan ada seseorang yang menjemputmu. Di mana alamatmu? Lho????? "Aaarrrrggghhhhhhhh ... " aku menjerit lagi frustasi. Kenapa tadi aku malah menyebutkan alamat apartemen Emma. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kubenturkan kepalaku lagi berkali-kali ke jendela mobil. Pak sopir taksi kali ini hanya melihatku dari kaca spion sambil geleng-geleng. Mungkin dia membatin, 'anak ini kadar kewarasannya semakin menurun.' Pak sopir juga sudah tidak berkomentar apa pun. Mungkin dia juga lelah melihat kelakuan dari tadi. Ampuun pak. Sebenarnya aku juga lelah, tapi dengan nasibku. Huuuwaaaaaaa. Emma. Bocah itu. Yah, bocah itulah biang keladinya. Inti dari semua kerusuhan yang ada. Ingin kupites-pites tuh anak. Ingin kugejel-gejel tuh k*****t. Ingin kuremukkan sampai ke tulang-tulangnya sekalian. Sebel . Kesel. Jengkeeeeelllll. Hosh. Hosh. Hosh. Sabar Fara. Sabar. Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. "Sudah nyampe mbak." Eiiikkkk Kulihat keluar jendela taksi. Oh iya udah nyampe. Gara-gara emosi aku jadi nggak memperhatikan sekitar. "Terima kasih pak." Setelah membayar ongkos aku segera keluar taksi. Kulihat gedung apartemen lantai 10 di depanku. Apartemen yang megah dan elegan. Apartemen yang hanya bisa di tempati para borjuis dan anak keturunannya. Kukumpulkan tekadku. Kucopot sepasang heelsku dan kucangking. Kutarik nafas panjang. Daaaaaan go ... Secepat kilat aku berlari masuk gedung. Satpam dan mbak-mbak resepsionis di dalam hanya heran melihat tingkahku. Mereka tidak menghentikanku walau penampilanku kayak habis diterjang badai tornado, karena mereka sudah biasa melihatku keluar masuk gedung dengan Emma. Sampai di lift segera ku pencet tombol buka. Sial. Lift- nya masih di lantai 5. Nggak sabar aku segera berlari ke tangga darurat. Menaiki tangga dua-dua agar cepat sampai. Jangan menyepelekan gadis yang lagi marah. Kalau gadis sudah marah, gini nih jadinya. Apapun dilakuinnya biar bisa segera melabrak orang yang bikin emosi. Sampai di lantai 3 segera kubuka pintu keluar lift, berbelok dan melesat lagi sampai di depan pintu dengan nomer 1025. Kupencet kode dan ... Ting. Pintu terbuka "Hai Ra ... " suara Emma yang tadinya ceria saat mau menyapa, kini langsung diam ketika melihatku seperti banteng yang melihat warna merah. Pengen nyeruduk rasanya. "Kamuuuuu ... "jeritku tertahan. Mungkin kalau dalam kartun, aku sudah seperti tokoh yang memerah wajahnya karena menahan emosi. Dan tak lupa kepulan asap di atas kepala, menandakan si tokoh sedang terbakar api amarah. Tap. Tap. Tap. Aku berjalan dengan menekan kaki pada setiap langkah, menciptakan aura yang lebih garang. "Loh! Loh! Ra?" Emma yang semula duduk di sofa, menonton TV sambil makan cemilan, langsung berdiri melihatku murka. Gadis itu mundur perlahan. "Sabar Ra! Sabar! Tunggu dulu," Emma mengangkat tangan menghadangku, seakan-akan dengan begitu bisa mencegahku maju melangkah lagi. "SABAR? SABAR KAMU BILANG?" Melihatku seakan tak terkendali. Bocah itu langsung kabur lari, "Fara tunggu dulu! Ada apa sebenarnya?" tanyanya di sela larinya. "ADA APA KATAMU?" berangku mengejarnya. Merasa terancam, karena emosiku naik level 50, Emma segera kabur masuk ke dalam kamar. Dia memakai tubuhnya untuk menahan pintu, menghalangi aku masuk. Brak. Kupakai tubuhku untuk mendobrak pintu kamar. Pintu itu hanya membuka sedikit dan segera menutup kembali. Pasti Emma mati-matian menahan pintu. "BUKAAAAA!!!!" "NGGAK!" "Buka atau kudobrak?" ancamku mendesis. "Ampun Ra! Ampun! Ada apa sebenarnya?" Aku diam, melorot duduk seperti tersangka yang ketahuan habis berbuat dijahat. Tenagaku sudah habis untuk emosi, lari dan menahan malu. Yah aku benar-benar malu tentang kejadian di restoran tadi. "Kamu bilang yang datang ke kencan buta itu cowok," cecarku lemas. Aku sudah nggak punya tenaga tambahan untuk berteriak. "Iya bener," teriaknya takut-takut. "Tapi yang datang cewek, Emma," laporku gemas. Mengingat di restoran tadi rasanya aku ingin menangis saja. Seumur-umur baru kali ini aku malu tak terhingga. Emma membuka pintunya sedikit. Jaga-jaga, takut aku akan mendobrak lagi. "Kok bisa?" "Bukan cewek biasa. Tapi seorang wanita," lanjutku. Emma membuka pintu kamar lebar-lebar dan ikut duduk bersila di depanku. "Seorang wanita dewasa. Seorang ibu-ibu," dramatisku, "dan yang lebih membagongkan lagi dia adalah nyonya Gessa. Ibunya Barra." "Yang bener Ra?" kali ini Emma juga kaget. Aku mengangguk. "Tapi nyonya itu kan ... " Ting tong. Ting tong. Ting tong. Kalimat Emma terputus bunyi bel rumah. "Siapa?" tanya Emma. Aku yang tak tahu menahu, hanya mengendikkan bahu. Kami berdiri, berjalan bersisian menuju pintu. "Maaf siapa ya?" tanya Emma melalui interkom. "Maaf nona mengganggu anda sore-sore begini. Saya sekretaris Handoko, utusan dari nyonya Gessa. Kalau berkenan bolehkah saya masuk rumah anda?" Formal dan sopan. Khas seorang sekretaris perusahaan. Kami berpandangan sebentar sebelum membuka pintu. Ceklek. Krieeeet.... "Dengan nona Emma Jayendra?" "Iya." Emma "Iya." Aku Sejenak sekretaris dengan jas warna hitam itu menatapku, lalu menatap Emma. Menatapku lagi dan menatap Emma. Kemudian berdehem. "Maaf nona, saya diutus nyonya Gessa untuk menjemput nona Emma. Dan beliau berpesan untuk nona Emma, 'jangan pakai riasan mengerikan lagi,' " Itu pasti pesan untukku. "Tapi kata ibu Gessa akan menjemput tiga hari lagi?" tanyaku bingung. Emma kaget mendengarku. Pasti dibenaknya banyak sekali pertanyaan yang ingin dimuntahkan mengenai hasil kencan. Sekarang sekretaris Handoko fokus menatapku. "Beliau memajukan rencana, nona. Malam ini audisi pemilihan calon istri tuan Barra sesi pertama akan dimulai." Haaaa?????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN