BAB 3 - PERJALANAN PERTAMA

2170 Kata
BAB 3 – PERJALANAN PERTAMA   Hari ini sudah memasuki hari ketiga sejak om Gama memperkenalkan Axel sebagai calon penggantinya di perusahaan ini. Aku mungkin lupa memberitahu, kalau yang akan menggantikan om Gama bukanlah Karin, melainkan Axel. Axel adalah anak sulung om Gama. Aku kurang begitu mengetahui tentang Axel, yang ku ingat aku pernah beberapa kali bertemu dengannya ketika ayah mengajakku bertamu ke rumah om Gama atau sebaliknya om Gama membawa Axel bertamu ke rumah kami. Axel berusia dua tahun lebia tua dariku. Hanya itu yang ku ingat tentang Axel, selebihnya aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya sejak kami masih kecil, bahkan aku hampir lupa kalau om Gama memiliki anak bernama Axel, yang lebih familiar hanya Karin, adik perempuan Axel. Aku baru saja memasuki lobi kantor ku lihat beberapa meter di depan sana Fanny sedang melambaikan tangannya ke arahku. Aku mempercepat langkahku untuk menghampiri Fanny, entah mengapa walaupun cukup sering membuatku kesal namun bertemu Fanny bisa memberikan semangat tersendiri untukku haha. Terdengar aneh, tapi memang seperti itulah kenyataannya. “hai Nes,” ujar Fanny langsung merangkul bahuku dan sekarang kami berjalan beriringan menuju lift, “gimana sama Ben? Udah ngobrolin apa aja? Udah jadian belom?” tanya Fanny yang sudah ngelantur sepagi ini. “Lu mabok ya Fan?” aku balik bertanya. “Haha ya kan gue nanya.” “Ya lagian masih pagi kayak gini pertanyaan lu udah macem-macem aja sih.” Kami berdiri di depan lift menunggu pintunya terbuka. “Gue kan pengen tau Nes, siapa tau lu udah jadian tapi ngga ngasih tau gue.” aku melirik ke arah Fanny, beberapa detik memandanginya dengan tatapan datarku. Dan yang terjadi selanjutnya dalah kami berdua sama-sama tertawa. Se-random  itu. Pintu lift terbuka, tadinya kami ingin langsung masuk, tapi tunggu dulu, langkah kami terhenti saat menyadari bahwa ada seseorang yang akan keluar dari dalam lift itu. Aku dan Fanny spontan bergeser agak kepinggir dengan maksud memberi jalan bagi orang itu. Dia tersenyum ke arah kami berdua sambil sedikit menundukkan kepalanya. Mungkin maksudnya ingin menyapa tanpa kata-kata. Aku membalas senyumannya sebagai formalitas. “Selamat pagi pak.” Tiba-tiba Fanny berucap saat orang itu melewati kami. “Pagi.” Balasnya sambil lagi-lagi tersenyum ringan dan kemudian berlalu. Aku dan Fanny buru-buru masuk ke dalam lift. “OH MY GOD! Axel balas nyapa gue!” seru Fanny kegirangan. “Ya iyalah Fan dibales. Kalo dia ngga balik nyapa elu yang ada dia bakalan dicap pimpinan arogan.” Jawabku realistis. “Hhmm iya juga sih. Tapi emang Axel tuh ya, pembawaannya tuh kayak berwibawa gitu loh Nes, pas banget jadi bos gitu.” Oceh Fanny. “Iya makanya dia jadi bos.” Jawabku singkat. “Nah kalo Ben, dia tuh pembawaannya adem, tenang, tapi kada juga bisa terlihat fun pokoknya fresh gitu deh kalo ngeliat Ben.” Oceh Fanny lagi, aku rasa kali ini Fanny sambil membayangkan bagaimana bentukannya Ben. “Fresh from the oven?” sahutku santai. “Lu kira nastar.” Sahut Fanny agak kesal. “Lagian sih pagi-pagi udah ngebahas bujang aja lu.” Protesku pada Fanny. Pintu lift terbuka dan kami langsung menuju ruang kerja kami.   Aku sedang mereview laporan keuangan dari kantor cabang di Kalimantan, karena aku tergabung dalam tim akunting di kantor ini. Jabatanku dan Fanny sama, kami adalah junior akunting, makanya kami satu ruangan. Jariku sibuk beradu dengan keyboard, mataku juga harus jeli memeriksa setiap angka yang tertera di worksheet excel di layar monitor. Drett…drett Ponselku berbunyi, aku melirik ke layar ponselku yang menyala dan nama kontak om Gama yang tertera di sana. tumben menelpon di jam kerja seperti ini, biasanya kalau ada perlu pun pasti akan mengutus asisten pribadinya. Aku langsung mengangkat telpon  dari om Gama. Seperti biasa, selama jam kantor aku akan memanggil om Gama dengan sebutan pak Gama, sama seperti karyawan yang lain. “Halo pak,” “Lagi nge-review laporan keuangan Klaimantan aja sih pak. Ada apa ya pak?” “Oh oke, saya ke sana sekarang pak.” Aku menutup telpon dari om Gama, dan ya seperti yang seharusnya terjadi, Fanny langsung mengalihkan pandangannya kepadaku, cukup dengan tatapannya saja sudah bisa menjelaskan bahwa dia menginginkan jawaban tentang siapa yang menelponku dan aku mau kemana. Hhmm Fanny si ratu kepo. “Om Gama nyuruh gue ke ruangannya.” Jelasku. “Ngapain?” tanya Fanny agak bingung keran memang sangat jarang om Gama memintaku ke ruangannya, karena pekerjaanku pun tidak berkaitan langsung dengan om Gama, kami memiliki kepala divisi sendiri yang bertanggung jawab langsung dengan pekerjaan kami. “Ngga tau. Katanya ada yang mau diomongin.” Jawabku lagi lalu beranjak berdiri. “Ya udah hati-hati ya.” “Hati-hati ngapain? Kayak gue mau kemana deh.” “Ya kali aja ntar pas lagi jalam lu ketemu Ben terus hati lu jedag-jedug ntar lu malah ngga fokus lagi diajak ngomong sama pak Gama.” Ujar Fanny yang sebenarnya lebih ke arah meledekku. “Lu tuh yang mestinya dijedugin biar ngga eror mulu otak lu.” Sahutku kesal. “Yeee ya udah buruan sana. ditungguin bos besar tuh.” “Iya bawel.” Aku pun segera menuju ruangan om Gama.   …   Suasana begitu hening sejak aku duduk di salah satu bagian pojok sofa ini, belum ada yang bersuara selain om Gama yang beberapa saat lalu mempersilahkanku masuk setelah aku mengetuk pintu ruang kerjanya. Di sebrang sana ada Ben yang duduk bersebelahan dengan Axel., jarak mereka berdua kurang dari satu meter. Patut ku akui bahwa aura kedua anak konglomerat ini memang berbeda, kalau kata Fanny aura seperti yang mereka miliki ini disebut dengan aura mahal. Ya, aura mahal itu memang sangat pantas disematkan kepada dua lelaki di hadapanku ini sampai-sampai aku merasa sangat segan untuk sekedar menoleh ke arah mereka. Aku memang sudah pernah makan siang dan sedikit ngobrol dengan Ben, tapi entah mengapa saat berada di kantor apalagi sedang berurusan dengan pekerjaan seperti ini Ben jadi terlihat lebih serius dan berwibawa. Terlebih lagi Axel yang tampaknya memang tidak suka terlalu banyak bicara. “Hhmm,” Om Gama meletakkan berkas di tangannya ke atas meja. “Jadi begini Nes, tujuan saya memanggil kamu karena saya mau mengutus kamu untuk ikut dengan Axel dan Ben ke Pekanbaru. Kinerja perusahaan cabang di sana mengalami penurunan, selain itu saya perhatikan laporan keuangan mereka juga agak berantakan, saya mau kamu coba bantu mereka untuk membenahi manajemen keuangan di sana. Bisa kan?” ujar om Gama. “Saya pak? Kenapa bukan mbak Laras aja pak?” tanyaku yang cukup terkejut karena diutus om Gama untuk ikut pergi Pekanbaru bersama dua lelaki di hadapanku ini. “Kemarin Laras baru saja mengambil cuti karena harus menemani bapaknya operasi, saya juga sudah sempat berdiskusi dengan Laras dan dia juga setuju kalau kamu bisa diandalkan untuk pergi ke Pekanbaru.” Jelas om Gama lalu tersenyum lebar seolah ingin meyakinkanku untuk pergi ke Pekanbaru. “Saya sengaja mengutus Axel dan Ben yang pergi. Ben sudah cukup akrab dengan kondisi perusahaan di Pekanbaru dan Axel, saya berharap Axel bisa sekalian mempelajari keadaan perusahaa-perusahaan cabang. Gimana? Kalian semua bisa berangkat kan? Bisa lah ya, toh ini juga kerjaan kan.” “Ya ngga usah nanya kalau dijawab sendiri juga.” Aku menggerutu dalam hati. Bukan masalah pergi ke Pekanbarunya, masalahnya adalah dengan siapa aku harus pergi. Mereka berdua kan sepupu, paling tidak sudah cukup akrab. Sedangkan aku? Bisa-bisa aku jadi batu berada di antara mereka. Aku hanya mengangguk mengiyakan perintah bos besar untuk perjalanan dinas luar kota kali ini. Ini akan menjadi dinas luar kota terjauh selama aku bekerja di sini. “Jadwal penerbangan kalian tiga hari, jadi kalian bisa menyelesaikan pekerjaan yang perlu diselesaikan supaya tidak ada pekerjaan yang terbengkalai selama kalian tinggal pergi.” Ujar om Gama lagi, “Ada yang mau kalian tanyakan?” “Cukup sih kayaknya om, sudah jelas.” Jawab Ben. “Axel juga.” Jawab Axel singkat. “Saya juga ngga ada pak.” Jawabku mengikuti dua jawaban sebelumnya. “Oke kalau begitu kalian bisa kembali bekerja. Terima kasih waktunya.” Om Gama mempersilahkan kami kembali ke ruang kerja kami masing-masing. Ruang kerja Axel masih menjadi satu dengan ruang kerja om Gama, hanya saja beda meja kerja. Aku mendahului Ben keluar karena Ben masih membahas beberapa hal dengan Axel, sepertinya sih terkait keberangkatan kami ke Pekanbaru. Ben tetap memanggil om Gama dengan sebutan ‘om” meskipun sedang berada di kantor, sedangkan aku selalu memanggil om Gama dengan sebutan ‘pak’ selama jam kantor. Aku selalu berusaha memposisikan diriku sama dengan karyawan yang lain, walaupun om Gama selalu mengatakan padaku bahwa aku suidah dianggap bagian dari keluarga dan tidak masalah jika aku juga ingin memanggilnya ‘om’ selama di kantor. Tapi tetap saja, aku tidak ingin dilihat berbeda dari karyawan yang lain.   …   “Nes,” “Yee ni anak kena serangan budeg apa gimana sih? VANESA!” Aku tersadar dari lamunanku. “Em? Kenapa?” tanyaku pada Fanny. “Kenapa kenapa, kwetiau lu keburu dimakan sama jin tuh gara-gara lu anggurin kayak begitu.” Ujar Fanny lalu kembali melahap nasi goreng seafood-nya. Aku mengambil lagi sumpit yang dari tadi ku letakkan begitu saja di atas piring berisi kwetiau goreng di hadapanku. Aku mulai memakan kwetiau yang ku pesan. Kwetiau goreng adalah salah satu makanan favoriku, tapi entah kenapa malam ini aku kurang begitu selera makan, kalau bukan karena Fanny tiba-tiba ngidam makan di restoran chinese food yang biasa kami kunjungi ini mungkin aku sudah terkapar tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Capek, ngantuk, dan overthinking adalah tiga kata paling tepat untuk mendeskripsikan keadaanku saat ini. Kalau kebanyakan orang akan sulit tidur saat sedang banyak pikiran, maka berbeda denganku, aku akan memaksa diriku untuk tertidur karena setidaknya dengan tidur aku bisa melupakan sebentar setiap masalah yang ada di kepalaku. “Kenapa sih Nes? Apa sih yang lu khawatirin? Soal pergi ke Pekanbaru?” tanya Fanny yang sangat paham dengan isi kepalaku saat ini. Aku tidak menjawab pertanyaan Fanny. Aku hanya menarik salah satu sudut bibirku, bukan tersenyum, lebih kepada ekspresi tidak bersemangat. “Yee ditanyain malah diam aja. Jawab dong.” Protes Fanny. “hhmm,” aku menghela napas sambil memperbaiki posisi dudukku sebelum menjawab pertanyaan Fanny, “Ya gue takut aja ngga bisa memenuhi ekspektasi om Gama dengan kemampuan kerja gue Fan. Mana gue sendirian lagi, ngga ada tim akunting yang bisa gue ajak diskusi untuk pembenahan manajemen keuangan di sana.” “Kan ada Ben dan Axel, lu bisa diskusi sama mereka kan?” “Justru itu, gue ngerasa ngga PD aja diskusi sama mereka, apalagi satu tim kerja kayak gini. Gue ngerasa jadi sebutir pasir di antara para berlian Fan.” Aku mengaduk-aduk kwetiau dengan sumpit. Entah apa tujuannya, padahal tidak ada bumbu tambahan yang perlu kubuat tercampur merata pada kwetiau yang sudah mulai dingin ini. “Kok lu jadi pesimis gini sih? Biasanya lu selalu antusias soal kerjaan. Kan elu sendiri yang sering bilang ke gue, yang penting kita sudah memberikan yang terbaik di pekerjaan kita.” “Iya sih, tapi entah kenapa kali ini gue ngerasa ngga PD aja Fan. Kalo bisa gue pengennya diganti aja, jangan gue yang pergi bareng mereka berdua.” “Nes, udah deh. Everything will be okay kok. Ya emang sih kalo gue ada di posisi lu disuruh pergi dinas luar kota bareng dua cowok tampan, seksi dan ugh kayak Ben dan Axel ya pasti gue juga bakal tremor parah. Tapi tenang aja everything be will okay.” Fanny tersenyum. “Yee elu mah yang dipermasalahin malah tampan, seksi dan ugh segala macem.” Fanny hanya tertawa menanggapi aku yang semakin bad mood karena seperti biasa ujung-ujungnya yang dibahas Fanny malah soal fisik Ben dan Axel. Kali ini sama sekali tidak memberikan solusi. “Lagian nih ya Nes, siapa tau pulang dari Pekanbaru ada kabar baik elu jadi gebetannya Ben atau Axel hahaha.” Fanny tertawa lepas. “Fan, lu ngejek gue apa gimana sih Fan?” tanyaku mengerenyitkan dahi, tidak habis pikir dengan isi kepala si bawel satu ini. “Siapa yang ngejek sih Nes? Ya kan siapa tau gara-gara perjalanan dinas bareng jadi tumbuh bunga-bunga cinta di antara lu bertiga.” “Fan, sumpah pikiran lu random banget deh. Kejauhan tau ngga?” “Yeee… hati-hati aja lu kemakan omongan sendiri terus tiba-tiba ntar malah elu yang jatuh cinta sama mereka berdua.” “Ya engga lah. Elu tuh ngaco aja kalo ngomong.” Sahutku ketus lalu kembali melahap kwetiau yang sudah benar-benar dingin. Fanny malah menunjukkan eskpresi seperti sedang mengejekku. Seperti anak kecil yang mengejek temannya karena menangis karena kalah bermain. Ya beginilah kami berdua, kadang akrabnya melebihi saudara kandung, tapi kadang menyebalkannya hampir menyerupai musuh bebuyutan. Tapi tetap saja, kalau ada apa-apa orang pertama yang ku cari pasti Fanny, dan sepertinya pun sebaliknya begitu. Sekarang aku benar-benar makin frustasi memikirkan akan jadi apa nasibku selama perjalanan dinas bersama Ben dan Axel. Mungkin lain cerita kalau hanya aku dan Ben, aku sudah mulai terbiasa mengobrol panjang dengan Ben. Tapi Axel? Si dingin, kaku, cuek itu. Tapi, apa Axel memang dingin, kaku dan cuek atau aku saja yang belum mengenal dia. Tapi, untuk apa mengenal Axel?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN