Semoga masih ada, Ara komat-kamit di dalam lift, ia tak mempedulikan tatapan heran pria asing yang sekarang bersamanya di dalam kotak besi itu. Pintu terbuka di lantai 5, Ara begegas mencari kamar yang tadi dikatakan resepsionis dibawah. Setelah menemukannya, Ara menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu. Ketukan pertama tak dijawab, lalu sekali lagi, lagi dan lagi tetap tak ada jawaban, Ara cemas padahal Nino belum dinyatakan check-out oleh pihak hotel. Ara memutuskan untuk menunggu, mungkin laki-laki itu punya jadwal pemotretan yang membutuhkan kelamnya malam di Jogjakarta, jadi ia duduk dengan melipat kakinya dan bersender ke pintu kamar Nino. Tak lama, Ara terbangun, yang pertama dilihatnya adalah ujung sepatu yang menendang-nendang kecil tungkainya, Ara mendongkak melihat Nino ya

