5

1479 Kata
Apa tadi yang dibilang Ara? dia tak punya perasaan? salah, Ara salah, perasaan yang dia punya justru untuk perempuan itu yang tak pernah mau mengerti keadaanya yang tak bisa mengekspresikan apapun. Nino kesal dengan sekali hantam kendi kecil dihadapannya hancur berantakan. Brakkk!! Ada saatnya kita harus berusaha untuk bahagia karena jika tidak, kita tidak akan tahu rasanya hidup. Ara contohnya, ia bisa bertahan di dunia ini dengan cara berusaha untuk bahagia walaupun sudah mencoba, Ara tetap tak menemukan dimana bahagianya, jadi solusi terakhir adalah berpura-pura bahagia. Punya ibu gila, berarti kau tak bisa punya ibu peri baik hati yang akan selalu datang dimanapun kau membutuhkannya. Ibu Ara jelas bukan ibu peri, karena tak ada ibu peri yang kotor dan hobi bermain tanah. Ara tahu kenapa rambutnya selalu botak, bukannya ia punya penyakit yang membuat rambut tak bisa tumbuh di kepalanya, tapi memang Camelia tak mau melihat Ara punya rambut. Wak Naima selalu mencukur habis rambutnya jika sedikit saja mulai tumbuh. "kau lihat pisau yang dipegang ibumu? daripada benda itu bersarang di perutmu ini, lebih baik kau tak punya rambut", begitu uwaknya sering bilang. Jadilah Ara botak sepanjang zaman, bahkan ketika ibunya tak ada lagi, ia tetap dengan trademark nya sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah ia bahagia dengan penampilannya seperti itu? Tentu, kenapa tidak karena tak banyak perempuan sepertinya di negri ini, mahkota dikepalanya tak perlu helaian rambut, tapi isi dari otak itu sendiri yang dibanggakannya. Apalah arti sehelai rambut. Pura-pura bahagia pertama. Upik bano adalah panggilan untuk ibunya di kampung, artinya si perempuan gila dalam bahasa setempat. Setiap hari yang dilakukan ibunya hanya berteriak-teriak dan mengancam setiap orang yang lewat dengan pisau di genggamannya. Ara tahu semua orang kampung ingin mengusir mereka, karena Camelia dianggap meresahkan dan bisa menjadi ancaman dengan pisau di tangannya, tapi wak Naima akan memaki siapa saja yang datang kerumah dan menyuruh mereka bertiga angkat kaki dari kampung. "apa kau tak manusia? atau kau yang berpikir kami ni anjing yang bisa seenaknya tidur dimana saja jika mata mengantuk, bisa minum dan makan dari tong sampah!! kau bahkan bukan Tuhan pemilik dunia ini! kalau Tuhan bilang kami boleh disini, tak satupun manusia yang bisa mengusir kami dari sini!! sekarang enyah kau!. Kalau sudah kalap, wak Naima hampir mirip ibu, cuma bedanya perempuan tua itu bersenjatakan parang, jadi tak seorangpun yang berani mendekat ke rumah Ara. Ara akan tertawa geli sampai terguling-guling jika sudah melihat uwaknya mengamuk, karena seringkali sarung wak Naima akan melorot karena saking bersemangatnya mengacung-acungkan parangnya pada orang-orang, dengan rambut berubannya yang mencuat kesana kemari, tubuhnya yang renta dan rok dalamnya yang kumal, wak Naima kelihatan lebih sinting dari ibunya. Punya dua perempuan yang nyaris mengabaikannya setiap hari, otomatis membuat Ara menjadi anak liar, ia bebas kemanapun ia mau, mengerjakan apapun yang ia suka dan berkata apapun yang singgah dikepalanya. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah ia bahagia dengan segala kebebasan yang dimilikinya? Tantu, karena tak semua anak bisa seperti dirinya, jika ia bermain sepanjang waktu, anak-anak lain harus les ini, les itu, kursus ini, kursus itu, membantu pekerjaan rumah tangga, membantu ibu memasak di dapur dan mengasuh adik, belum lagi harus ikut shalat berjamaah di langgar, bukan apa-apa, karena kampung itu hanya punya satu orang yang bisa jadi imam, yaitu wak haji Karim yang kalau memimpin shalat, bisa membuat makmumnya tidur sambil berdiri karena beliau mendendangkan setiap ayat yang dibacanya sama dengan kecepatan siput berlari, lamaaaaa.... Pura-pura bahagia nomor dua. Waktu ia memandang anak yang bernama Kivlan Zacharino untuk pertama kali, Ara tak peduli anak itu perempuan atau laki-laki atau tak punya kelamin, yang terpenting tak ada seorangpun manusia yang pernah membuat jantungnya berdebar kencang setiap kali dipandangnya. Ara menyukai Nino karena... Ia cantik dan Ara suka Lalu, bocah itu tak pernah sibuk mengurusi tingkahnya, yang ia lakukan hanya menatap Ara dalam diam. Kemudian ya...tak pernah mencomooh ibunya yang gila karena menurut Nino, mamanya sendiri sering menangis sendiri, padahal Sky abangnya tak sedang berulah. Walaupun Nino tak pernah menunjukkan ia menyukai Ara, tak pernah peduli dengan senyum malu-malu Ara setiap kali Nino menatapnya, tak pernah tersenyum juga kepadanya bahkan ketika tempo hari Nino mencium pipinya, bocah itu justru bermuka datar dan ketika Ara mesti pindah lagi ketika mereka menyelesaikan sekolah dasar, Nino tetap dengan tampilan cueknya, tak ada perasaan bersedih sedikitpun. Ara benci tapi tetap menyukainya Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ia bahagia dengan sikap Nino? Tentu, buktinya ia masih hidupkan sampai detik ini. Pura-pura bahagia ketiga. Kejadian 3 hari yang lalu di Bali, cukup membuat Nino tak lagi menunggunya, dan Ara tak mempermasalahkannya. Pertanyaanya adalah, apakah Ara bahagia karena Nino menjauhinya? Tentu! pasti! hahahahaha... Tapi kenapa sedari tadi kau tak berhenti melihat ponselmu? kau bahkan memandanginya sedetik sekali? Pura-pura bahagia keempat dan kali ini Ara gila. Arggghhhhh.....duk! duk! Ara menghantukkan kepalanya ke tembok. ********************** Nino memainkan ponselnya di tangan, memutar, memandang, mengusap layarnya dan melemparnya ke ranjang lalu mengambilnya kembali. Tiga hari rasanya lama, Nino kangen Ara. Gadis itu terakhir kali marah kepadanya, mengatainya tak berperasaan dan gila. Sekarang ia beneran gila, karena rindu kepada Ara. Ia mengambil ponselnya dan memencet nomor Ciarran. "lo kan tahu gue ga suka cowo!" Ara menjawab pada dering pertama. "aku ga peduli, ayo kita pacaran!" "lu bodoh, t***l atau gila?" "ga dua-duanya". "bohong! bodoh, t***l dan gila itu tiga kata!" "bodoh dan t***l itu artinya sama, jadi dihitung dua". Sesaat tak ada suara, kemudian.. "bwhahahahahahahaha....." Bahkan seorang Kivlan Zacharino pun tertawa, efek Ara memang luar biasa. "aku kangen Ra". Tawa Ara terhenti, ia memejamkan matanya mendengar pengakuan Nino gue juga "lo pikir gue baru pulang naik haji lo kangenin" "Ciarran Ong jadi pacar aku ya?" "hah itu lagi..lu kan tahu gue ga suka p***s, gue sukanya v****a" Ara menumpuk jari telunjuk dan jari tengahnya. "aku ga peduli". "jangan keras kepala No!" "aku ga peduli". "Nino!!" "ya?" "Arrgghhhhh..." tut tut tut! Ara memutuskan percakapan mereka secara sepihak, Nino menempelkan keningnya ke pintu kaca di kamarnya. Pokoknya harus bagaimanapun Ara mesti jadi miliknya, kalau bisa ia akan meneror perempuan itu. "gue baca profil lo di majalah". "segitunya". "pale lo! kagak! kemaren gue bacanya dari kertas pembungkus ikan asin yang gue beli di warung, lu jangan gila deh". bullshit Ara tak pernah memasak seumur hidupnya, ia memang selalu membeli majalah dimana ada Nino di bagian cover. "oke" "jadi, nama lo ada tambahannya, Kivlan Zacharino P, apaan P?" "Panjaitan". "mak lo batak?" "bukan, ayah?" "lo kan ga punya ayah" "ada ternyata". "ah..bapak baru, mak lu kawin lagi, ayah tiri dong? "baru iya, tiri bukan". "bagaimana critanya tuh?" Ara yang sedang menyetir mobil Nino menoleh heran kesamping kearah Nino yang duduk anteng. "panjang" "sepanjang rambut lo yang kayak wewe gombel itu, ngomong-ngomong, punggung lo bolong yah, makanya lo ga pernah potong rambut?" "kau tuyul makanya botak?" Nino membalas. "ndasmu!" Nino tertawa. "kalau ngomongin soal batak nih, gua punya cerita....suatu hari si ucok disuruh opungnya pergi sekolah ke Jerman", "cok pergilah kau ke Jerman, di sana belum ada orang batak". "benar itu opung". "betullah, percaya saja kau!" "pergilah si ucok ke Jerman, waktu naik kereta api si ucok ketiduran, ketika bangun tasnya sudah hilang dicuri, si ucok langsung menelfon opungnya di Medan", "opung bohong sama aku" "kenapa kau?" "opung bilang tak ada orang batak disini, buktinya tas ku hilang di curi orang". bwahahahahahahahahahahahahahahaha.....Ara tertawa kencang sambil memukul-mukul stir mobil. Nino diam di kursinya. "lo dan hampir semua orang batak, tak payah marah kalau ada cerita seperti ini, karena kalianpun hobi menertawakan diri sendiri, iya kan?  huwahahahahahahahaha......" Tadi pagi Nino muncul di mess kowad tempat Ara tinggal, ia berdiri di depan gerbang mess dengan sebuket mawar merah darah, Ara di soraki oleh teman-temannya. Ara mengambil buket itu dan melemparnya ke tong sampah, penonton kecewa tapi Nino tak menyerah, ia kembali ke mobilnya dan membawakan teddy bear super besar berwarna coklat, Ara memandang Nino dan si teddy jijik, lagi-lagi pemberian Nino tergolek lemah di atas buket bunga yang tadi di lempar Ara, penonton histeris. Nino menyeringai, ia punya banyak senjata di mobilnya, kali ini sebuket wamar putih yang harumnya melebihi kuburan yang masih baru, Ara bergidik dengan gemas mawar putih itu dilemparnya kasar ke tong sampah, penonton berteriak marah. Selanjutnya Nino datang dengan senjata baru, sekotak cronut hangat, cacing di perut Ara marah, air liur berkumpul di mulutnya, dasar Ara tak punya harga diri dengan mulut penuh cronut ia baru bersuara. "aww awa?" "mama nanyain kamu, disuruh kerumah?" "wawa?" "ya?" Nino hebat, ia mengerti kalimat yang diucapkan Ara yang tak berhenti mengunyah. Ara berpikir sejenak, sejak dulu ia menyukai mama Nino yang cantik dan abg, beliau sering menyuruhnya makan siang bersama anak-anaknya yang nakal. Walaupun makan dengan lauk seadanya, tapi sikap mama Nino yang ramah dan sering tersenyum membuat Ara tak peduli lagi kalau perempuan itu hanya menyuguhkan nasi dan garam. "owe". tiga dari 5 cronut di dalam kotak langsung habis sekali sikat, Nino tersenyum kecil. "bawa teddy nya" Ara memelototi Nino, namun tak urung mengambil boneka itu, lumayan nih bisa di jual Ara memuji kelicikannya sendiri. ***************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN