Bab 13. Gejala Cemburu Part 1

1590 Kata
Dalam perjalanan pulang, Nadia tidak banyak bicara. Melihat Nadia yag sedari tadi hanya menatap jendela disampingnya, membuat Jojo berpikir kalau Nadia tersinggung dengan ucapan dari istri Pak Stuward di dalam lift tadi. “Ucapan orang itu jangan didengerin. Aku juga ngak terlalu kenal sama anaknya Pak Stuward. Kalaupun dijodohin sama dia, bakalan aku tolak dipanggung saat itu juga.” Seketika itu, Nadia menoleh dengan dahi mengerut disertai pemikiran yang membuatnya kesal. “Kamu kira kalau aku cemburu, gitu? Kalau kamu suka sama anaknya si Pak Stuward tadi, malah lebih bagus dong, umur kalian juga ngak beda jauh. Kenapa ngak kamu pakai ide aku waktu itu aja, biar kita ngak jadi tunangan. Trus, kamu bilang bakalan batalin tunangan kalau dijodohin sama anaknya Pak Stuward. Kenapa waktu orangtua kamu ngumumin pertunangan kita, kamu ngak langsung batalin? Aneh! ” Jojo mendengus kasar mendengarkan ucapan Nadia. Niat baiknya malah dibalas dengan sikap ketus lagi. ‘Karena memang ini maunya kamu Naka. Kapan kamu bisa ingat masa kecil kita sih.’ “Aku sudah bilang kan tadi. Kalau kamu mau batalain tunangan ini, kamu yang harus cari caranya sendiri. Jangan suruh-suruh aku ngejalanin ide gila kamu tadi.” Nadia mengusap wajahnya frustasi, berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya. “Ish, nyebelin banget sih.” “Dan satu hal lagi. Dengan tidak menolak pertunangan ini, bukan berarti aku mau menerimanya juga. Hanya tidak ingin mengecewakan kedua orangtuaku saja. Kalaupun nanti kita menikah, kamu akan tetap mendapatkan hak kamu sebagai istriku, dan kamu menjadi tanggung jawabku. Begitu juga sebaliknya, kamu juga harus menjalankan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri.” Wajah Nadia semakin kesal melihat Jojo yang tidak mau menjalankan rencananya. Kedua telapak tangannya mengepal erat untuk menyalurkan emosinya. “Susah amat sih diajak kerja sama. Kalau sampai kita batal tunangan kan, kamu juga yang senang. Mana ada sih orang nikah tanpa cinta. Ngak bakalan bahagia tau ngak.” “Orangtuaku awalnya juga dijodohin sama Omaku, ternyata usia rumah tangga mereka bisa sampai sekarang. Mungkin kamu yang pemikirannya terlalu negatif soal pernikahan. Oh iya. Satu hal yang harus kamu camkan kalau kita sudah nikah nanti. Aku ngak akan ijinin kamu punya hubungan dengan laki-laki lain, begitu juga sebaliknya. Aku ngak akan membuka hati buat perempuan lain.” “Astaga, sia-sia kayaknya ngomong sama kamu yah. Ngak ada jalan keluarnya. Terus gimana nanti di kantor? Aku ngak mau yah sampai tiba-tiba ada yang datang ke kantor trus ngejambak rambut aku karena jadi tunangan kamu. Kita kan baru kenal, mana tau kalau kamu mantannya banyak.” “Di kantor kita tetap professional, walaupun kamu tunanganku, ngak ada prioritas ataupun perlakuan spesial. Semua berjalan sesuai prosedur. Satu lagi, aku pastikan ngak ada yang berani megang rambut kamu barang sehelaipun, karena sekarang kamu orang yang akan aku lindungi.” Mendengus kesal sampai kedua bahunya naik turun, rasanya percuma berdebat untuk membujuk Jojo membatalkan pertunangan mereka. Tiba-tiba tercetus sebuah ide cemerlang tentang kehidupan rumah tangga mereka kelak. Wajah Nadia kembali sumringah sambil tersenyum oleh ide yang baru saja mengalir di otaknya. Jojo menoleh menatap penasaran dengan senyuman mencurigakan Nadia. ‘Barusan marah-marah, sekarang senyum sendiri. Masih waras kan ini anak?’ Gadis itu segera menyampaikan apa yang sudah ada di dalam benaknya. “Aku punya ide baru. Kita kan disuruh pendekatan selama 6 bulan nih. Gimana kalau kita saling memikirkan peraturan yang mesti kita jalanin nanti pas kita nikah. Dikumpulin satu per satu, sebulan sebelum nikah kita satuin semua perjanjiannya. Kamu bisa bebas ngejalanin apa yang kamu mau, aku juga. Gimana? Ide bagus kan?” Jonathan menegertakan pegangannya di stir mobil, kesal dengan ide-ide konyol Nadia. “Oke, peraturan pertama nanti. Kamu mesti nurut sama semua perintah aku. Kayaknya cukup satu aja peraturan dari aku.” Kilatan mata Nadia segera menunjukkan api kemarahan sambil menatap Jojo karena apapun ide yang diusulkan rasanya tidak mendapatkan respon yang baik, apalagi dengan peraturan yang Jonathan buat sudah pasti apapun yang dia inginkan hasilnya kembali kepada peraturan Jojo. “Kayaknya gua bisa liat kalau kita nikah pasti tiap hari bakalan berantem, karena loe laki-laki egois! Cuma mentingin diri sendiri. Ngak heran kalau loe sampai diselingkuhin sama mantan.” Setelah melampiaskan emosinya, Nadia memilih bungkam dan menatap kosong ke samping jendelanya lagi daripada kesal mendengarkan respon Jojo dari setiap ide yang ia berikan. Ponsel Nadia berdering, nama Vita yang tertera di layar. Nadia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. Pikirnya daripada ia bosan berduaan dengan Jojo, lebih baik ia ngobrol dengan Vita sampai tiba di rumah. Sedangkan Jojo penasaran siapa yang menghubungi Nadia sekarang. “Hallo, Vit.” “Dia, loe dimana? Ngumpul yuk, kita mau wawancara khusus sama loe nih.” Nadia terkekeh sudah menduga kalau para sahabatnya pasti akan menanyakan perihal pertunangannya. “Ngumpul dimana? Kapan? Ayok aja.” Jojo menoleh saat Nadia sedang janjian dengan entah siapa di sana. “Sekarang gua dijemput Jeremy sama Diana. Kita mau ngumpul di café biasa deket kampus.” “Sebentar.” Nadia menutup speaker telepon dan menoleh ke Jojo, untuk meminta tolong mengantarnya ke café tujuannya, karena sejalan. “Pak, boleh anterin saya ngak ke café deket kampus?” “Kamu pergi sama siapa? Saya antar kamu dulu ke rumah. Suruh teman kamu jemput di rumah. Aku ngak mau disalahin sama orang tua kamu nanti.” Nadia mendengus kesal, kemudian melanjutkan percakapannya. “Vit, bisa jemput gua ke rumah aja ngak? Sekarang lagi jalan pulang nih, paling 10 menit lagi sampe.” “Oke deh. Habis Jeremy jemput gua, kita ke rumah loe. Biar barengan sampenya.” Setelah Nadia menyudahi pembicaraannya dengan Vita, ia menghela nafas sampai terdengar gumamanya. Jojo yang biasanya tidak peduli urusan orang lain, kini merasa penasaran dengan siapa Nadia pergi. “Kamu belum jawab pertanyaan saya.” “Hah? Yang mana?” Jojo menoleh sambil memberikan tatapan tajam ke arah Nadia, membuat Nadia menelan salivanya dengan berat. “Kamu pergi sama siapa? Ke mana?” “Sama temen kampus. Namanya Vita, Diana sama Jeremy. Tadi juga denger kan mau ke café deket kampus. Makanya kalau penasaran anterin aku ke sana. Nanti juga ketemu sama mereka di rumahku.” Jojo hanya diam setelah mendengarkan jawaban Nadia, kembali fokus ke jalanan. Sesampainya di rumah Nadia, sebuah mobil terparkir di depan rumah tersebut. Jojo dan Nadia turun bersamaan dan masuk ke dalam rumah. Sudah ada geng Nadia di sana ditemani oleh Cika dan Nathan. “Eh, udah pulang tuh Nadia sama tunangannya. Ayo, sini. Tante kenalin sama Jonathan.” Ketiga sahabat Nadia terperangah saat menatap wajah tampan tunangan Nadia yang sedang berdiri dihadapan mereka, terutama Vita. Bola matanya seakan melotot hampir keluar saat mengetahui tunangan Nadia adalah Jonathan. Acara pertunangan Nadia dan Jonathan saat itu memang dihadiri oleh beberapa media, tapi Kenzo meminta agar media tidak menampilkan wajah keduanya. Hanya nama lengkap Jonathan yang saat itu diterbitkan, sedangkan nama tunangan Jojo hanya diterbitkan nama Nadia saja tanpa nama lengkapnya dengan alasan menjaga privasi. “Wah, Randy mah kagak ada buntutnya dibanding dia.” Seru Jeremy walaupun dengan suara pelan namun tetap terdengar semua orang diruangan tersebut dan mengundang tawa yang lainnya. Tidak untuk Nadia yang justru cemberut melihat reaksi para sahabat yang sedang memuja tunangannya bak dewa yunani. Dalam benakmya, mereka belum tau saja seperti apa syaiton yang menempeli raga seorang Jonathan. Jeremy yang lebih dahulu mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Jojo membalas uluran tangan Jeremy. Dilanjutkan dengan Vita dan Diana. Vita menanyakan sesuatu kepada Jojo karena ia tahu siapa laki-laki ini. “Ngak nyangka ternyata tunangan sahabat saya itu Pak Jonathan. Sudah kenal Nadia lama? Kenapa Nadia ngak pernah cerita soal Bapak yah?” Jojo hanya diam saja, dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Namun, otak setannya sedang berjalan untuk menggoda seseorang yang ia kenal dekat dan mengenal Vita. “Kita jalan sekarang yuk. Si Mike katanya mau nyusul ke café juga pas denger ada Nadia. Kangen katanya. Ups.” Merasa dirinya sudah keceplosan bicara, Jeremy menggaruk tengkuknya. Sedangkan Jojo langsung menoleh menaruh curiga dengan ucapan Jeremy. “Saya temani Nadia saja kalau gitu. Sekalian mau lihat kampusnya dan mencoba makanan di cafe.” Berucap seakan sedang memerintah dengan raut wajah datar seorang Jojo. Nadia menganga mendengar ucapan Jojo yang akan mengantarnya, kemudian menoleh melotot kepada Jeremy sambil menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Loe sih!”. “Sori..” Jawab Jeremy tidak kalah pelannya disertai cengiran. Sikap Jojo menanggapi ucapan Jeremy membuat Nathan terkekeh, pasalnya Nadia kuliah di kampus kepunyaan kakek Jonathan. Dan dirinya juga kuliah S1 di sana. Nathan berbisik ditelinga istrinya. “Nurunin sifat daddynya tuh anak. Posesif akutnya keliatan. Pake pura-pura mau lihat kampus kakeknya segala.” Cika ikut tertawa kecil mendengar bisikan suaminya dan mengangguk sebagai jawabannya. “Udah sana, mumpung Jojo mau nemenin kalian hari ini.”Sahut Nathan. Tidak enak untuk menolak, Nadia and the gang akhirnya berangkat, Nadia satu mobil dengan Jojo, Vita dengan Tommy dan Diana. Di dalam mobil, Nadia memberikan sebuah tatapan penuh kekesalan karena Jojo memaksa untuk menemaninya. “Kenapa mesti ikut sih? Makin seneng deh mommy daddy lihat kamu begini. Lagian, kamu itu ngak ada kerjaan lain apa, ngekorin aku terus.” “Yah, bagus dong. Artinya aku bakalan jadi menantu favorit orang tua kamu.” Naluri kekepoan Jojo kembali mengalir akibat ucapan Jeremy tentang Mike, jiwa harga diri laki-lakinya meronta saat mendengar ada pria lain yang kangen dengan tunangannya. “Mike itu siapa? Mantan kamu?” “Ish, bukanlah. Dia kakaknya Jeremy. Dua angkatan di atas aku dikampus.” “Kenapa dia nyusul pas denger ada kamu? Kata Jeremy dia kangen sama kamu. Memangnya dia ngak tau status kamu sekarang?” Ucapan Jojo spontan menambah naik aliran darah Nadia yang sedari tadi menahan kekesalannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN