Janda Bolong

1217 Kata

“Awas saja, Mak. Akan kubuktikan jika aku bisa menjadi mantumu.” Painem tidak menanggapi ucapan Fatimah. Baginya gadis itu terlalu bermimpi. Eh, bukan gadis, tetapi janda. “Ini jam berapa, Mbak Rin?” tanya Painem. “Jam sebelas, Mak.” Mbak Rin menjawab tanpa menatap ke arah Painem. Dia sedang menggoreng mendoan karena sebentar lagi waktunya makan siang. “Owalah pantes. Sudah waktunya tidur siang. Mendingan kamu pulang aja, Imah! Lanjutin anganmu di dalam mimpi!” Painem terkekeh kemudian meninggalkan Fatimah di warung Mbak Rin. “k*****t! Untung aja calon mertua, kalau enggak ....” “Kalau enggak mau apa? Aku denger omonganmu, Fatimah. Bisa tak laporin polisi kalau kamu berani macam-macam! Aku viralkan nanti di t****k,” ancam Mbak Rin. Fatimah kesal mendengar ucapan Mbak Rin. Dia pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN