Aisha mendesah panjang. Di depannya, tepat di atas meja, ada undangan yang tadi sempat Aslan berikan. Dalam kebimbangan dan kegelisahan, Aisha dirundung dilema. Ia bingung apakah perlu menyerahkan undangan ulang tahun tersebut atau membuangnya saja. Tapi, kalau dipikir-pikir, lebih baik dirinya tidak membiarkan sang ayah untuk datang dalam acara besar tersebut. Aisha hanya khawatir, ia takut nanti Rauf membahas hal macam-macam dan malah membuat suasana jadi tidak kondusif. Sungguh, Aisha masih belum siap. Ia butuh waktu yang tepat dan segala macam kesiapan untuk mempertemukan sang ayah dengan keluarga besar sang suami. Dalam keheningan dan saat tengah sibuk berpikir, ponsel Aisha berdering. Melirik, ia mendapati nama sang ayah yang ternyata menghubungi. Baru juga dipikirkan! "Halo, A

