Opposite 11

1589 Kata
Ify's side ya gaes.. . . . . . . .. . *** Beberapa hari pasca tumbangnya Rio,  akhirnya dia bisa beraktifitas kembali.  Meskipun di pagi hari dia akan muntah-muntah gak jelas tapi bisa diatasi dengan obat yang sudah dokter Daniar berikan. Ya,  dokter yang pertama kali memeriksa gue menjadi dokter tetap kandungan gue.  Di semester ini gue daftar asdos kimia analitik. Ah,  entah kenapa gue seneng banget masuk lab.  Padahal Dokter Daniar mengatakan kalau gue gak boleh terlalu terpapar sama zat-zat kimia.  Ya gimana lagi dong? Gue kan anak kimia,  untungnya prodi pendidikan sih,  hehe. Oh iya,  pasca kejadian dimana Alista mendorong gue dia jadi bungkam.  Banyak yang menghujat,  apalagi setelah video nya beredar. Video dia mencium suami gue dengan paksaan. Gue udah lihat video tersebut. Gila gak sih? Gue denger semua ucapannya,  termasuk rela menjadi yang kedua untuk Rio. Yassalam! Ternyata ada yang ngikutin Rio dan Alista ketika berbicara berdua. Penguntit tersebut adalah Jeno.  Temen seangkatan gue.  But,  say thanks to Him karena udah ngebuka masalah ini.  Dan gue jadi tau.  Tu anak juga gak nyangka kelakuan si queen angkatan 2015 bisa kayak jalang gitu. Ah Jeno,  semoga jodoh mu segera di perdekat. "Oi Mariana!". Agni memanggil gue ketika gue baru aja turun dari mobil.  Pagi menjelang siang gue udah anteng datang ke kampus.  Kandungan gue kata dokter Daniar,  baik-baik aja.  Janinnya pun sehat.  Sayangnya,  sang papa dibuat kewalahan sama anaknya.  "Ape pulak? Nak ape (mau apa?)". Agni cengar cengir mendengar nada galak gue. " Bumil jangan marah - marah dong!  Nanti calon ponakan gue garang kayak kak ros gimana dong?". Katanya sok polos.  Gue berdecak malas melihat tingkahnya.  Rio menarik lembut tangan gue agar pergi saja dari sana.  Mengingat kami akan praktikum bersama dikelas analitik. Mayoritas mahasiswa kimia sudah tau tentang hubungan kami. Banyak yang menyayangkan karena Rio tak berjodoh dengan Alista,  tapi malah dengan gue.  Ya gimana? Allah udah ngatur hidup gue gitu. Gak mungkin gue ngingkarin takdir kan.  Heran sama netizen. "Gak usah dengerin Agni.  Dia aneh". Kata gue.  Rio malah terkekeh pelan lalu mengangguk santai.  Sesampainya di laboratorium kimia,  gue memasuki ruangan khusus asisten labor dimana perlengkapan asisten disediakan oleh jurusan.  Dimulai dari APD (alat perlindungan diri) seperti masker,  sarung tangan,  sepatu dan jas lab. Komplit lah. Rio mengambilkan keperluan untuk gue dan dia. Membantu memasangkan sepatu dan jas lab.  Sedangkan masker dan sarung tangan tidak diambil. Karena kelas asisten yang gue ambil di semester lima ini ada 5 kelas.  Terpaksa si cut sama dosen pembimbing asisten.  Atas permintaan Rio yang katanya gak mau kalau gue terlalu capek ngurus anak-anak praktikum. Untunglah ada yang menggantikan gue.  Walhasil gue cuma megang dua kelas.  Satu kelas di kimia umum bersama Agni,  dan satu lagi kelas di kimia analitik bersama Rio. "Bang--". Kata gue menarik ujung baju Rio.  Dia menoleh dan bertanya kenapa. " Ada kak Alista". Bisik gue pelan sembari melirik Alista yang tengah menatap kami dalam. Alista memang udah mendapatkan malu atas kejadian yang beredar. Tapi manusia itu kayaknya punya muka tembok. Terlihat dari cara dia yang santai badai ketika kena hujat oleh anak-anak lain. "Cuekin aja.  Ayo ke atas". Gue mengangguk patuh dan mengikuti Rio.  Ternyata sudah banyak praktikan yang datang. Kemudian kami memulai kuis untuk hidangan pembuka praktikum. *** Istirahat sholat pun tiba, gue memilih ke sekre HMJ untuk berisrihat sembari meminta tabungan anak-anak.  Muehehe. Tapi tiba-tiba Alista datang dan menarik gue ke suatu tempat.  Ah,  b*****t perempuan itu. Dia menatap nyalang dan gue mencoba untuk biasa aja.  Gue mensugesti diri agar tak takut menghadapi dia. "Mau apa?". Tanya gue santai. " Jauhin Rio!". Pengen ngakak so hard.  Tapi masih mencoba menghormati dia selaku senior. Yakali jauhin Rio, gue aja tinggal satu atap sama dia,  satu kasur bahkan hasil bercocok tanam Rio tumbuh di lahan gue.  Gimana bisa? Tuhan,  musnahkan sajalah perempuan ini. "Segitu gak bisa move on nya kah elo? Sampai - sampai lo rela jadi orang ketiga di hubungan orang? Bahkan level lo lebih rendah dari seorang yang menjajakan diri di rumah bordil". Kata gue pedas.  Alista tampak terkejut dengan ucapan sarkas gue.  Gak peduli sih,  biar dia sadar aja. "Lo--!". Dia melayangkan jari telunjuk ramping nya ke gue.  Pantang bagi gue ditunjuk seperti itu.  Berasa kayak pesuruh. Langsung aja gue tepis. " Sopan dikit,  bisa? Percuma lo jadi panutan tapi cerminan sikap lo gak menunjukkan seperti panutan sama sekali. Miris!". Gue rasa Alista kehilangan kesabaran. Dia menampar gue dan gue cuma bisa tersenyum diam. Gue gak boleh ngelawan,  yang ada dia makin bermain fisik. Cukup keluarkan kata-kata Sarkasme dan bungkam dirinya.  Kalau perlu mati berdiri deh. "Kalau gue gak bisa milikin Rio,  lo juga gak bisa milikin Rio!". " Denger ya b***h! Lo cantik,  body lo bohay,  lo bisa dapetin yang lebih dari dia! Kenapa ngotot mau balikan sih? Kalian itu udah selesai.  Udah tutup buku,  gak usah memperpanjang batas peminjaman atau penjagaan jodoh orang deh". Kata gue malas.  "Gue cinta sama Rio,  Fy". Kata nya lirih.  Gue menghela nafas pelan.  Hormon ibu hamil gue bekerja. Gue gak tahan dengan sikap lembek seseorang, seperti gue yang jadi tersangka.  " Tapi Rio gak cinta sama lo lagi". Kata gue santai.  Dia mendongak tak suka. "Bohong!--". " Silahkan tanya ke Rio sendiri! Lo masih gak percaya? Apa bukti ciuman paksa lo itu berbalas decapan juga dari dia? Gue tau lo gak bego,  Kak". Lagi gue berbicara tak peduli dengan tanggapan Alista. "Lo tau,  gue sama dia udah lama--". " Tau!". "Gue tau lo seorang wanita yang perasa dan paham kalau pria yang dicintainya di rebut paksa--". Gue gak suka dengernya. "Dibagian mana nya gue merebut?". Tandas gue.  Alista berjengkit kaget karena gue bentak. " Denger ya Kak! Meskipun lo senior gue,  yang harus gue hormati dan hargai.  Tapi soal perasaan dan rasa yang udah terikat ini gue gak bisa mengalah.  Demi Tuhan!  Gue gak berniat merusak apa yang udah lo bangun dengan Rio.  Semua ini takdir dan udah jalannya!  Lo belajar agama udah dari jaman butek sampe sekarang pun masih kan? Coba sebut apa hukumnya kalau menentang takdir yang udah Tuhan berikan?". Alista terdiam. Tak mencoba melawan. "Jujur ya,  awalnya gue takut kalau lo bakal tau tentang hubungan kami.  Gue takut kena hujat sama temen-temen lo karena dari kacamata luar gue terlihat seperti merebut milik lo itu. Gue takut bathin gue gak selamat selama dikampus.  Then,  see what?  Emang bener kan?!  Ketika semua terbongkar,  lo mulai ngeracau hidup gue. Mulai memperlakukan gue dengan tidak sopan. Jangan kira gue gak tau apa yang lo lakuin ketika di kantin kemarin--". Lagi,  Alista terkejut.  Manusia bodoh itu memasukkan sesuatu kedalam makanan gue. Alista memasukkan Cytotect,  suatu obat yang tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.  Karena alasan tertentu. "Kenapa?  Kaget gue tau? Lo kira mata gue cuma dua di sini? Jangan harap apa yang lo lakukan ke gue bisa membuat gue gentar ya,  Kak! Lo bukan apa-apa bagi gue!". Setelah itu gue pun berlalu dari Alista. Meninggal kan wajah pias bercampur malu. *** Gue kembali ke sekre,  ternyata ada Viana yang sedang duduk santai.  "Darimana lo Fy?". "Gak dari mana-mana". Jawab gue.  Tu anak lodah cemberut sembari menatap layar ponselnya. Gue curiga. " Lo kenapa,  Vi? Merenggut mulu gue lihat". Gue mengintip hasil chattingan nya dengan seseorang. Viana memang lagi dekat dengan cowok.  Kalau gak salah sih anak jurusan olahraga. Namanya Gabriel. Satu angkatan dengan kami. "Dia cuek banget tau gak sih! Lama gue nunggu balasan chat dia,  eh pas dibales cuma jawab 'hmm' doang! Gak ngerti kode banget sih tu manusia!". Dengus nya. Gue cuma tersenyum kecil dan menepuk pundaknya yang merosot sedih. Viana menyukai Gabriel.  Tapi entah Gabriel suka dengan Viana,  gue gak tau.  Viana juga.  Kasihan sih. Tapi gimana lagi kan? Sebenarnya Viana tipe cewek yang gengsian untuk bilang suka,  tapi untuk bermain kode dia ahlinya. Sayang,  ketika di kodein balik sama cowok lain dia berubah bodoh dan lamban. Heran gue kenapa bisa dia seperti itu. "Percayalah,  chat lo dan dia hanya sebatas rasa penasaran dia doang.  Gak lebih!". Kata gue menatap lurus kearah parkiran.  Viana menoleh kearah gue. "Segimanapun usaha lo mengkode dia lewat chat,  tapi kalau emang dasar nya dia batu dan gak peka, gimana? Hidup gak kayak di w*****d, say!  Ketika tokohnya menyukai seseorang,  perasaan itu terbalas cepat.  Author lo bukan manusia,  tapi Tuhan yang punya segala skenario panjang untuk lo nikmatin  prosesnya!". Gue berharap ceramah singkat ini bisa membuka bathin Viana untuk gak berlarut dalam kesedihan lantaran perasaannya belum menampakkan muara. "Gue tau apa yang lo rasain,  Vi. Karena dulunya gue juga ada di posisi itu.  Banyak yang ngeship gue dan Rio,  inget kan? Meskipun dia udah punya pacar. Tapi tetep aja, ada aja yang bikin gue bermain rasa walaupun hanya bercanda". Viana diam mendengar isi hati gue. Huhh,  ibu hamil dengan segala kebaperan nya. Viana mengelus pundak gue dengan lembut "Gak enak rasanya kan,  Vi?--". Dengan polosnya dia mengangguk gue malah terkekeh. " So,  daripada lo ngebaper gak jelas mending belajar dan luapin rasa tak bermuara lo ini ke hal yang positif. Gak rugi kok!". Viana menghela nafas panjang dan menekan dadanya kuat-kuat.  Dia terbelit rasa tak bersapa. Menyakitkan. "I'll try!  Meskipun keliatannya mudah dalam berbicara tapi you know,  praktek nya bakalan susah". Gue tertawa hambar mendengar nada hopeless dia. "Emang Vi!  Nikmatin kata gue,  proses mana ada yang enak.  Telan aja lah.  Toh,  kalau emang lo sama Gabriel berjodoh,  dia bakalan lari ke elo kok! Lo udah lihat contohnya kan?". Viana tersenyum dan mengangguk paham. Gue memeluknya dari samping.  The power of hormon. Thanks God,  udah menumbuhkan 'kecambah' hidup dalam rahim gue.  Sehingga hormon keibuan gue ngelunjak. Semoga Mama bisa terus menjaga kamu,  Nak. **** #SalamAnakRantau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN