Opposite 13

2578 Kata
Ify's side ya gaes.... . . . . . . . Tak terasa waktu cepat berlalu,  kehamilan gue udah memasuki enam bulan. Tahun baru juga sudah terlewati. Libur semester ini gue dan Rio memutuskan untuk pulang kampung. Gue udah masuk semester ke enam sedangkan Rio masuk semester delapan.  Gak berasa ya Allah. Rio semakin sukses dengan pekerjaannya di kafe cabang milik Alfian. Tak lupa dia juga melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Disela-sela kesibukannya itu,  Rio juga telah selesai melaksanakan seminar proposal untuk menggarap penelitiannya.  Maklum dia anak murni,  hum. Liburan kali ini cuma satu bulan,  gue pengen dirumah bareng ibu dan bapak.  Untunglah Rio menyetujui nya.  Katanya dia juga rindu masakan ibu. "Fy--". Gue berdehem sembari mempacking baju-baju kami.  "Lagi apa?". Rio menghampiri gue dan mengusap lengan gue yang sangat montok sejak hamil. Kalian tau,  berat badan gue naik puluhan kilo tapi gue bersyukur.  Bayi gue sehat dan dia sangat aktif di dalam perut.  Oh iya,  kami sudah USG dan bayi kami perempuan dan laki-laki.  "Packing lah,  trus ngapain lagi?". Dia terkekeh mendengar nada jutek gue.  Lalu membantu gue memasukkan baju ke koper. " Kamu gak ke kafe,  Bang?". Tanya gue. "Enggak--". " Cuti kamu gimana?". "Alfian ngasih izin tiga minggu. Gapapa kan? Kafe lagi bagus - bagusnya sekarang,  Fy". Gue mengangguk paham. Toh,  libur lama-lama juga ngebosenin. " Gapapa kok. Kalau kelamaan libur,  Anak-anak lahir nanti mau dikasih makan apa?". Kami tertawa satu sama lain.  Setelah acara packing baju selesai,  gue mengajak Rio untuk pergi yoga khusus ibu hamil. Gak hanya yoga,  disana kami diajarkan bagaimana parenting yang baik ketika mengurus bayi.  Ah,  jadi gak sabar mereka lahir. "Bang,  penelitian kamu?". " Setelah libur baru jalan. Tenang aja". "Setelah tamat kamu mau kemana? Yakin mau di kafe aja? Gak mau ke industri gitu?  Kan sayang ilmu kamu". Cerocos gue bak kereta api. Rio tersenyum sembari mengelus pipi gue dengan lembut "Untuk sementara handle kafe dulu.  Aku mau apply pekerjaan di industri yang Alfian kasih waktu itu". "Kalau misalkan nanti si kembar lahir,  aku cuti dulu aja kali ya?". Rio nampak berpikir " Trus gak jadi tamat empat tahun dong?". Gue mengedikkan bahu tak tau.  Resiko menikah saat kuliah dan hamil,  ya gini. "Kalau bisa,  aku kejarkan. Tapi ya gak cuti.  Kalau cuti gak akan bisa". Rio mengangguk paham.  Rio menerima keputusan gue apapun yang menurut nya itu baik. Kami sampai di tempat les yoga gue,  seperti biasa kelas yoga kali ini akan di pandu oleh Intan,  seorang instruktur yang sudah berkecimpung lama di dunia yoga. *** Keesokan harinya sebelum ke bandara,  gue ke kampus dulu.  Mau ketemu pembimbing akademik untuk membahas pengambilan kartu studi untuk semester enam.  Rio menemani gue dan ikut masuk ke ruangan beliau. Ibu Sekar,  dosen mata kuliah spesialis kimia organik selaku dosen pembimbing akademik gue sudah menunggu di kursi nya.  Beliau tersenyum hangat dan menyuruh kami duduk. "Apa kabar Ify?". "Alhamdulillah,  saya baik buk.  Ibu sendiri bagaimana?". Ibu sekar ini termasuk dosen yang super sibuk,  sehingga ketika anak-anak bimbingannya ingin konsultasi sedikit susah. Main nya ke luar negeri sih.  Ehe. "Alhamdulillah ibu juga baik,  Fy". "Kan gini,  Buk. Ify kan udah masuk semester enam cuma KRS untuk semester enam belum keluar.  Ify mau konsul untuk mata kuliah--". " Semua mata kuliah semester lima kemarin udah diambil?--". Gue mengangguk. "Nilai bagaimana?". "Belum keluar,  Bu". "PLK semester berapa?". " Bisa semester tujuh atau delapan,  Bu.  Tapi Ify mau di semester delapan aja". "Alasannya?". " Di semester tujuh masih ada kuliah,  Bu. Tiga mata kuliah lagi.  Trus kalau nambah PLK jadi agak ribet.  Apalagi Ify punya baby". Kata gue menjelaskan. Berharap kalau Ibu Sekar mau menyetujui nya. "Hm,  benar juga. Kapan kamu akan melahirkan?". "Insya Allah bulan April,  Bu". Beliau tersenyum hangat. Tipe dosen pembimbing idaman. " Baiklah.  Gak papa kalau itu mau kamu. Untuk semester enam ini,  ambil sesuai kurikulum aja.  Mata kuliah pilihan wajib udah diambil semua kan?". Gue mengangguk kuat. "Sudah kok,  Bu". " Bagus lah.  Semoga liburan kamu menyenangkan ya Fy.  Kalau bisa mata kuliah metodologi penelitian kamu sejalankan untuk tugas akhir". Pesannya.  "Baik Bu". Kami pun permisi,  berpamitan karena akan pulang kampung. "Rio jangan lupa jaga terus bumil nya ya!". Rio tersenyum kecil dan mengangguk patuh. "Pasti,  Bu". Katanya. Karena dirasa sudah tak ada lagi urusan,  kami pun berangkat ke bandara. Mobil milik Rio di pakai oleh Denis lantaran pemuda itu akan mudik ke Bandung. Jadilah Denis mengantarkan kami terlebih dahulu. **** Gue merasa dejavu ketika pulang seperti ini.  Januari tahun lalu gue pulang sendiri ke Pelangiran. Tapi sekarang gue bersama Rio dan calon anak-anak kami. Bahagianya. Burung besi yang membawa kami mendarat mulus di bandar udara Hang Nadim,  Batam. Setelah memesan taksi,  kami pun berangkat menuju pelabuhan. Sekitar satu jam perjalan,  mengingat jarak bandara dengan pelabuhan agak jauh. "Capek, Ma?". Gue sedikit tergelitik ketika Rio menyebutkan 'Ma' ke gue. How sweet. "Enggak kok". Kata gue tersenyum kecil. Rio heran melihatnya. "Kenapa kok senyum - senyum gitu?". "Lucu aja denger nya". "Apa?". " Kamu tadi nyebut 'Ma' itu maksudnya 'Mama'?". Rio tertawa dan mengangguk. Gue mencubit pinggang kekar nya tapi gak berasa apapun untuk Rio. "Kan bener aku tuh,  kamu sebentar lagi akan menjadi seorang mama". "Iya papa sayang". Kata gue sok imut.  Rio malah mencium pipi chubby gue tanpa malu. Dan seketika wajah gue memanas. *** Rio's side ya gaes... . . . . . . . . .. *** Pukul empat sore kami tiba di Pelabuhan Pelangiran. Sudah ada ibu dan bapak mertua gue yang menunggu kami.  Mereka menghampiri gue dan Ify,  bersalaman lalu berpelukan sejenak. "Gimana kabar kalian?  Kabar cucu-cucu Ibu?". Tanya nya. "Alhamdulillah kami semua baik-baik saja,  Bu". Kata gue.  Bapak membantu gue membawakan koper kami.  Berjalan di belakang dua perempuan berbeda usia itu. "Kafe gimana,  Yo? Lancar?". " Lancar,  Pak. Alhamdulillah". Bapak tersenyum bahagia mendengar nya. Kami berjalan ke rumah berempat,  jalan kaki doang.  Biar sekalian nikmati waktu bersama.  Tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu yang mendekati Ify dan ibu mertua gue. "Ehh ada Ify.  Baru pulang dari Jakarta ya!". Tipikal ibu-ibu penggosip  kalau menurut gue. "Iya Ibu Lastri.  Ify dan suami nya lagi libur semester". Wanita paruh baya yang bernama Ibu Lastri itu bersama teman-teman nya mendeliki kaget. " Anak saya sudah menikah,  Bu. Lusa datang ya ke acara syukuran kehamilan Ify". Ibu mertua gue menuntun Ify menjauh dari mereka.  Gue dan bapak saling pandang dan mengedikkan bahu tak acuh. Sekilas gue mendengar perkataan mereka "Gak nyangka ya,  Anak nya Pak Rendi dan Bu Fina udah hamil aja.  Gak ada kabar sama sekali gitu ke orang-orang sini". Dan begitulah seterusnya,  gue gak ambil pusing.  Toh apa yang mau di gosip kan dari gue dan Ify. *** Malam hari nya Ify mengajak gue makan bakso di tempat langganan nya.  Setelah memakaikan jaket untuk Ify,  barulah kami pergi.  Ibu hamil gue itu benar-benar bikin pusing.  Awalnya dia minta pempek palembang yang emang buka setiap hari. Trus ganti jadi sate,  finally dia minta bakso.  Aduh,  dasar istri. Bapak dan ibu mertua hanya terkekeh melihat tingkah anaknya.  Mereka memaklumi karena Ify memang banyak maunya.  Terlebih hamil begitu.  Perihal gue muntah dan mual juga sudah jarang terjadi,  tapi gue sering makan sesuatu diluar kebiasaan gue.  Seperti makan pare yang di goreng pake cabe merah campur ikan teri.  Padahal gue anti banget makan pare.  Jadilah tadi gue minta sama Tante Fina selaku ibu mertua gue untuk membuatkan sambal pare pake ikan teri.  Demi apa selera makan gue meningkat dia kali lipat.  Ify sampai terheran heran melihat gue makan pare begitu lahap,  padahal pare itu pahit katanya.  Tapi menurut gue biasa-biasa aja kok. Kami ke warung bakso jalan kaki aja,  Ify dan gue sepakat gak bawa motor karena mau sekalian jalan-jalan malam. "Alista masih sering ganggu kamu, Fy?". Tanya gue.  Dia menggeleng pelan.  Gue menggenggam erat jemari nya. "Enggak lagi kok,  Bang.  Dia seperti menjauh setelah ketahuan sama dosen". Gue mengangguk paham. Waktu itu sebelum ujian semester,  Alista kembali berulah.  Dia membawa Ify ke toilet kampus dan menarik rambut istri gue dengan kasar.  Praktis Ify yang tengah berbadan dua  harus melindungi diri dan janin nya.  Alista benar-benar menggila.  Dia sengaja membawa pisau kecil yang tersimpan didalam tasnya untuk melukai Ify. Segitu membekas kah gue sampai - sampai dia nekat ke Ify? Heh,  heran gue. Tindakan Alista itu ternyata ketahuan oleh salah satu dosen jurusan lain. Yang kebetulan adalah dosen biologi umum Ify saat semester satu.  Beliau menarik Alista yang sedang kalap itu.  Ify sudah lemah dan tak berdaya karena ulah nya. Untunglah semua selesai,  Alista di bawa ke ruangan dosen guna diminta pertanggungjawaban atas kelakuannya itu.  Dia di beri surat peringatan dan sanksi tegas oleh ketua jurusan serta mendapatkan nilai buruk dalam catatan kelakuan baik.  Walhasil,  Alista di cap pelakor dan psikopat oleh warga MIPA.  Tak hanya mahasiswa kimia yang tau,  tapi sudah banyak yang tau masalah tersebut. Gue menganggap apa yang Alista perbuat itu adalah karma.  Setelah kejadian itu, Alista tak lagi mengganggu Ify.  Kata si bumil ini. "Baguslah!--". Kami pun tiba di warung Bu Narni.  Langganan setia Ify  kalau pulang kampung.  Banyak yang membeli disana.  Dan gue asumsikan kalau bakso nya itu pasti enak. Pelanggan yang duduk menatap heran kepada kami berdua.  Ify pernah cerita kalau tak banyak yang tau dengan dirinya.  Gue cukup paham karena Ify hanya pulang sesekali saja ke sini. Tak ingin mengambil pusing,  gue duduk di tempat yang masih kosong bersama Ify. "Kapan nyampe,  Nak Ify?". Tanya Bu Narni. Ify tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. " Tadi sore Budhe--". "Walah,,  libur semester ya?". Ify mengangguk santai. Kami memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es teh. Sembari menunggu,  gue melihat isi pesan yang belum terbaca. Salah satu pesan yang mengusik penglihatan gue. Alista Kimia 15 : Yo, lo dimana? Kok gak ada di kampus? Gue mendengus tak suka dengan pesan tersebut.  Ternyata dengusan gue terdengar oleh Ify. "Kenapa Bang?". Gue malah menunjukkan pesan yang dikirim oleh Alista. Seketika Ify tertawa sinis. " Ampun deh ya senior satu itu!". Kata nya menggeleng heran. "Cuekin aja,  gak usah di bales!". Ups,  bumil mulai kesal gaes! Haha,  sepertinya dia cemburu. Ah,  sayang gue. Gue menarik pipi chubby nya gemas karena terlalu manis untuk cemburu. "Ihhh sakit tau gak!". Kata nya kesal.  Gue malah tertawa ringan melihat Ify kesal begitu. Tak lama pesanan kami datang,  Bu Narni pun duduk di depan Ify.  Tadi Ify kesini sekalian membawa oleh - oleh untuk Bu Narni. "Budhe,  ini buat Budhe sama keluarga". Ify menyerahkan satu kantong oleh - oleh.  Bu Narni tersenyum seraya berterima kasih. " Budhe gak nyangka kamu udah hamil besar aja,  Fy! Ibu kamu gak ngasih tau juga kalau kamu udah menikah". Gue cuma diem dengerin obrolan mereka. "Iya Budhe, Ify nikah cuma keluarga dekat aja yang tau. Hm,  kenalin ini Rio suami Ify". Ify melirik gue mengindikasikan kalau gue harus beramah tamah. Bu Narni tersenyum hangat ke gue dan menepuk pundak gue "Ganteng yo! Bapak sama Ibu mu pinter nyari calon untuk kamu". Gue dan Ify terkekeh bersama.  Kalau diinget-inget dulu,  gue anti banget sama Ify.  Tapi setelah menikah dan diharuskan bersama,  gue bisa apa? Ternyata semesta menginginkan gue untuk menjadi pendamping Ify. " Kamu kuliah atau kerja,  Nak?". "Saya kuliah sambil kerja,  Budhe". Beliau mengangguk paham. Banyak yang kami ceritakan,  dari Bu Narni gue tau kalau Ify ini doyan banget makan bakso dengan sambal super pedes. Tapi sekarang,  ketika hamil dia malah gak makan pedes.  Bawaan bayi,  kata Bu Narni. Tiba-tiba banyak gerombolan orang-orang yang sesuai gue dan Ify datang ke warung Bu Narni.  Mereka menatap Ify seolah tak melihat hantu. Terkejut yang haqiqi. "Ify? Lo bunting? Demi apa?". Aduh,  dasar cewek alay. Harus gitu dia teriak gak guna di warung dan diliatin sama semua orang? Kadang negari ku selucu itu. Gue lihat ify mengedikkan baju tak acuh lalu memakan baksonya kembali. "Siapa?". Tanya gue. " Biasa mak Lampir jaman sede (mean : SD)  dulu.  Cuekin aja!". Gue melirik mereka santai. "Sumpah sombong banget! Hamil di luar nikah aja belagu". Gue udah geram pengen nonjok dia kalau gak ingat dia perempuan. Tahan,  Yo!. " Dena!  Kamu gak boleh ngomong gitu!". Bela Bu Narni.  Perempuan yang namanya Dena itu berdesis sinis. "Budhe gak usah belain dia deh! Emang kenyataannya kan,  lama gak pulang eh taunya pas pulang udah gendut aja perutnya". Ify mengehela nafas pendek lalu menatap Dena lurus-lurus. "Hai fans!  Lo ngarep gue sapa balik ya?  Sampai - sampai lo harus ngebacot gak guna?  Kasian banget fans gue satu ini". Great!  Istri gue memang terbaik.  Wajah Dena merah menahan amarah lantaran tamparan keras dari perkataan Ify. " Harus gitu lo ngoceh dan ngomentarin hidup gue? Kalau gue hamil di luar nikah kenapa? Berkurang uang jajan lo? Atau lo gak dapat makan? Perlu nyinyirin hidup orang dulu baru bisa makan? Kasian banget!". Makjang! Ify terlalu sarkas untuk dilawan. Gue sendiri sampe gak berkutik apalagi Dena. "Eh denger ya,  udik! Lo tuh gak pantes disini lagi!  Karena udah ngerusak nama daerah ini--". Ify tertawa sinis.  Kemudian menepis kasar telunjuk Dena yang menunjuk wajahnya. " Kalau gak tau apa-apa mending diam. Belajar agama kan? Berbicara baik atau lebih baik diam! Ohiya lupa! Nilai agama lo kan jelek semua". Dena  tak terima dikatai seperti itu, lalu apa kabar istri gue? Dikatai seperti itu dia terima gitu aja? Enggak lah, bego!. Dia langsung mendorong Ify, untunglah gue sigap menahan nya hingga tak jadi jatuh. "Stop! Gak usah barbar bisa? Lo cewek tapi kelakuan kayak preman pasar!". Kata gue akhirnya.  Dena sedikit terkesima dengan gue,  maybe ya.  Soalnya dia langsung terdiam gitu. Heh,  pesona gue menyebar kemana-mana. Wajarlah. "Ohh lo suami Ify? Ganteng juga.  Tapi sayang bego,  mau aja sama dia--". " Trus lo pikir gue mau sama lo gitu? Kenal aja enggak. Gak usah mimpi!". Lagi,  Dena terdiam. Orang-orang yang ada disana tertawa pelan melihat ekspresi dena yang kamu menahan malu. Lalu datanglah seorang laki-laki sepantaran kami memisahkan perdebatan itu. "Sorry Fy!--". " Ngapain lo yang minta maaf?  Aneh!". Ify malah menarik tangan gue untuk pergi dari sana setelah ia meletakkan uang lima puluh ribu rupiah di meja.  "Bro--". Cowok itu menahan tangan gue. Ify malah berlalu tak ingin mengusik. " Kenapa?". Tanya gue. "Gue Rava,  sorry Dena mungkin masih dendam dan gak suka sama Ify.  Gue minta maaf atas nama Dena". Katanya. Gue tersenyum tipis lalu menepuk pundak nya. "Untung istri gue gak nyiram kuah bakso ke muka dia.  Jaga tuh pacar lo!". Kata gue lalu berlalu. " Lo suami Ify?". "Yes!". Gue menanggapi singkat saja.  Malas juga berlama-lama disana. *** Ketika sampai dirumah,  ternyata ibu dan bapak mertua gue gak ada.  Mereka menempelkan sebuah pesan yang ditempel di lemari kulkas. Gue menyusul ify yang duduk di ranjang. " Sayang--". Dia menoleh lelah. Gue kasian sama ify,  gue takut dia tertekan. "Kita pulang ke Jakarta aja ya,  aku takut kamu stress disini". Dia tertawa lalu menepuk pipi gue lembut. " Gapapa kok!  Kita kan baru sampai disini.  Masa udah pulang aja". Katanya tenang. "Tapi soal tadi--". " Angin lalu! Salah keluarga ku juga gak ngasih kabar ke orang-orang disini kalau aku udah nikah. But,  gak sepenuh nya salah.  Mereka aja yang terlalu nyinyir ". Katanya.  Gue mengangguk setuju dengan pendapat Ify. " Gak usah dipikirkan ya,  Bang!--". "Harusnya aku yang ngomong gitu ke kamu". " Aku udah biasa di hujat.  Yang ada kamu malah gak nyaman". Gue berdecak kesal karena ify sangat gampang memandang sesuatu. "Ya udah tidur! Besok kita musti bantu ibu untuk masak". Ify mengangguk patuh dan mulai mencari tempat ternyaman dalam dekapan gue. Gue selalu suka dengan posisi seperti ini.  Meskipun tak bisa berpelukan erat karena terhalang perut besar Ify, tak apa.  Dengan begitu gue bisa dekat dengan anak-anak kami. *** #SalamAnakRantau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN