Ify's side....
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan hari nya gue seperti biasa pergi ke kampus. Sementara Rio, dia pergi kerja. Kami banyak bertukar cerita setelah kegiatan panas itu. Gue akui, Rio tipikal manusia dengan hormon yang tinggi. Dia cepet banget h***y ketika gue sentuh di d**a bidangnya. Gue simpulkan titik sensitif dia berada disana. Aduh, makin ganjen deh gue!
Penampilan gue terlihat sedikit berbeda. Gue menggerai ambut panjang yang biasa gue kuncir, memakai baju dengan kerah yang agak tinggi. Bodo amat lah kalau kepanasan. Ini gara-gara Rio yang banyak mencuri ciuman di sepanjang leher gue. Ganas juga tu laki.
Hari ini kuliah gue cuma sampai setengah hari, katanya Rio mau jemput gue ke kampus setelah kuliah selesai. Temen satu ormawa nya ada yang menikah, jadi dia ngajak gue datang. Gue mengiyakan ajakan dirinya, kenawhy enggak kan? Demi memperlancar kehidupan rumah tangga kami, begitulah intinya.
"Eh buntel anyep! Kenapa lo hari ini?". Agni dan Viana datang berdua. Gue mengernyit bingung karena tak melihat Shilla.
" Shilla mana?". Tanya gue.
"Ngasdos anorganik dia. Lo kenapa hari ini?". Agni mengulang pertanyaannya. Gue tersenyum malu lalu menyentuh leher, refleks. Mereka melirik satu sama lain seolah mencium sesuatu yang baru.
"Rambut lo di gerai? Masih basah. Pake sweater kerah tinggi gini. Bukan elo banget!". Damn, mereka terlalu tau tentang gue deh. Malas.
" Jangan-jangan lo sama Bang Rio abis ngelakuin sesuatu yang iya iya, ya?". Tebak Viana. Gue berdecak kesal, mereka bodoh atau bego sih? Kan mereka yang ngasih saran untuk belah duren tadi malam. Gimana sih?!
"Ayo jawab Fy!". Desak Agni sembari menggoyang - goyangkan lengan gue. Melorot kan bahaya, bisa ketahuan gue punya tato hasil mahakarya Rio nanti.
" Ck, iya! Puas kalian? Kan kalian yang bilang gitu kemarin!". Mereka malah tersenyum lebar lalu berhigh five ria. Gue mendengus. Mereka berhasil.
"Trus-trus gimana Fy? Lo diapain aja sama dia? Kalian pake gaya apa? Sempet pake women on top gak?". Astaga lambe mereka! Gak heran gue, berkat nonton drakor yang banyak 21++ nya mereka jadi makin gahar kalau bahas hal kayak gitu.
" Kalian apa sih! Ngapain gue ngumbar-ngumbar! Kalau mau tau, coba sendiri". Kata gue jengah. Mereka merenggut tak terima. Ya bodo amat lah. Tak memperdulikan kedua perempuan m***m itu, Gue lebih memilih masuk ke kelas karena dosen gue udah datang.
***
Tak terasa waktu bergulir cepat, gue udah selesai kuliah hari ini. Tadi Rio mengabarkan kalau dia akan menjemput gue dan sekarang dia sedang on the way. Gue hanya tersenyum setelah membalas chat w******p nya. Gue rasa, pipi gue bersemu merona sekarang. Ah, entahlah.
Sembari menunggu Rio, gue duduk di bangku taman. Ada banyak mahasiswa yang duduk bersama rekan mereka, entah itu belajar atau membahas sesuatu. Gue gak ambil pusing. Pandangan gue tertuju kepada salah satu senior gue, mantan pacar Rio. Alista. Gue lihat dia sedang menunggu di parkiran saat laki-laki itu sedang memarkirkan mobil.
Gue menghela nafas panjang, berasumsi kalau Alista masih mencintai Rio. Gue merasa bersalah, you know lah!. Gue mendengar percakapan mereka meskipun sedikit berjarak. Alista masih kukuh menggenggam jemari Rio. Cish, apa perempuan itu gak malu beradegan demikian saat di kampus? Kampus kan tempat menuntut ilmu. Di kira dia lagi main ftv kali ya? Gak ada malu nya.
Gue ingin cemburu, tapi gue masih ragu untuk berlaku demikian. Gue masih enggan untuk mengutarakan isi hati gue kalau gue memang terbakar bara tak suka ketika melihat Alista menempel kepada Rio. Meskipun gue tau, Rio terlihat melepaskan genggaman perempuan itu.
Setidaknya Rio berusaha menghargai perasaan gue. Boleh senang?
Saat mereka selesai berbicara, gue pura-pura kembali seperti biasa. Duduk sambil baca buku penuntun praktikum yang gue bawa. Untunglah mereka gak menyadarinya.
"Fy". Gue mendongak dan mendapati senyum hangat Rio. Semenjak kami berbaikan, dia lebih sering tersenyum.
" Ya? Baru datang atau dari tadi?". Tanya gue polos, sok gak tau apa-apa.
"Baru aja! Ayo pulang, kita ganti baju dulu". Gue mengangguk patuh, lalu melirik Alista yang termenung melihat gue dan Rio. Siap-siap aja gue kena hujat netizen maha benar seantero semesta. Heulah! Gini nih kalau tinggal di dunia yang dipenuhi dengan lambe-lambe gak masuk akal. Gue kudu banyak bersabar.
"Kak Alista, Bang". Kata gue, Rio melirik sekilas lalu mengedikkan bahu tak acuh.
" Biar aja, ayo!". Katanya lagi. Sepanjang perjalanan pulang, kami hanya diam tak ada yang mengusik keterdiaman ini meskipun hanya secuil pertanyaan ringan. Gue paham, Rio pasti memikirkan Alista. Tiba-tiba d**a gue terasa nyeri, seperti dihujam oleh beberapa jarum kecil. Gue kenapa?
Tak lama kemudian kami pun tiba dirumah. Kami ber siap-siap ke pesta pernikahan teman Rio yang diadakan di sebuah hotel mewah di daerah Jakarta pusat. Gue memilih gaun pesta yang simple bewarna putih dengan belahan kaki hingga mencapai paha plus potongan bahu yang rendah. Gue tersenyum melihat penampilan kali ini. Soal leher dan pundak, gue mencoba menutupinya dengan concealer bewarna senada kulit. Dan untunglah bercak merah itu bisa tersamarkan.
Rio keluar dari kamar mandi, dia terdiam melihat penampilan gue. Dia mendeliki tajam seraya menelusuri penampilan gue dari atas sama bawah.
"Ganti baju nya, Fy!". Kata Rio tegas. Gue mencibir lalu menggeleng pelan. Dia menggeram tak suka lalu menarik pinggang gue sampai gue terbentuk d**a bidangnya. Celaka laki ku. Otomatis baju yang gue pake basah dong.
" Ahh Bang Rio! Baju gue basah kan jadinya!". Kesel gue, dia melirik sinis lalu mencari sesuatu di lemari. Lalu menyerahkan sebuah gaun yang menurutnya lebih pantas untuk gue, mungkin.
"Ganti dengan ini! Demi Tuhan, gue gak suka lo pakai baju kurang bahan begitu, Fy!". Katanya tegas. Gue menghela nafas panjang, tujuannya baik sih. Tapi ya gitu, gue gak bisa mengekspresikan diri lewat baju-baju cantik dan sexy ini.
" Ck, gak mau! Gue mau pake yang model begini aja. Lebih seksi dan cantik". Kata gue ngotot. Dia menggelengkan kepala lebih tegas lagi. Gue memelas.
"Lo lebih seksi gak pake apapun, percaya sama gue! Atau kita gak usah pergi? Biar gue kurung lo hari ini sampe gak bisa jalan!". Katanya mendadak sensual. Gue bergidik ngeri mendengar pernyataan tersebut. Hasil tadi malam aja masih agak nyeri gitu, dia bilang mau buat gue gak bisa jalan? Mati aja lo laki!
" Hell no! Tega lo sama gue".
"Yaudah, pake ini!". Dengan terpaksa gue mengambil gaun bewarna gold dibagian bawah dengan aksen kebaya brokat -menurut gue- di bagian atas. Gue ingat baju ini, ibu yang belikan tahun lalu ketika gue baru aja masuk semester ketiga.
Rio tersenyum puas dengan penampilan kedua gue. Tapi gue gak terlalu suka, gue mewek minta ganti ke dia. Tapi dia bersikeras tidak memperbolehkan.
"Udah itu aja! Jangan di ganti, Fy. Lo udah cantik pakai baju itu kok". Katanya memuji. Tetep aja gue gak suka. Dia menghela nafas pendek lalu mendekati gue.
" Oke, boleh pakai gaun lain! Tapi harus sedikit tertutup! No belahan di mana-mana, apalagi di d**a lo itu!". Katanya mutlak sembari menyentuh d**a gue. Gue tersenyum lebar lalu menghadianya sebuah kecupan di pipi. Akhirnya gue bisa pake gaun lain. Rio masih menunggu di kamar, memperhatikan setiap gerak gerik gue.
Gak ada rasa malu ketika gue berganti pakaian di hadapan dia. Entahlah, gue merasa wajar saja ketika seorang istri berganti pakaian di depan suaminya. Toh, dia juga sering melihat apa yang ada di tubuh gue.
Gue memilih gaun bewarna hitam, masih dengan aksen brokat kebaya dengan punggung terbuka. Demi apa gue cinta gaun seksi ini. Jangan salahkan gue yang takdirnya menyukai pakaian unyu dan seksi, gaes.
"Ganti--!". Kata Rio murka. Gue mendengus sebal lalu mengambil walet party di atas meja. Meninggalkan dia yang sedang bersungut-sungut melihat penampilan gue.
" Mau pergi gak sih? Temen lo udah nunggu, gak enak tau!". Kata gue santai. Gue lihat dia masih menahan amarah, dan gue terkekeh lucu. Asik juga ngerjain dia.
***
Sesampainya di hotel tempat perhelatan pernikahan temannya Rio, kami menaiki lift untuk menuju ballroom hotel. Sepanjang jalan, dimulai dari parkiran, lengan kokoh Rio setia tersampir di pinggang mungil gue. Dia posesif, gaes! Demi apa lah! Gue sampe sesek gara-gara dia kurung gitu.
"Bang, biasa aja sih! Lo posesif banget". Kata gue kesel. Dia mendelik tak suka, semakin mempererat lengannya di pinggang gue.
" Hai bro! Akhirnya lo datang juga!". Seseorang menyapa kami, Rio tepatnya. Dia tersenyum lalu berjabat tangan.
"Wihh pacar baru lo? Cantik banget!". Gue tersenyum kecil sebagai rasa terimakasih. Rio, melirik gue tentunya.
" She's my wife, actually. Gue ke Gifar dulu ya, See!". Kami pun berlalu dari hadapan teman Rio itu. Lalu Rio membawa gue ke pelaminan, menuju pengantin yang sedang berbahagia.
"Oii Rio! Gue kira lo gak bakalan datang". Kata Gifar tersenyum lebar. Rio terkekeh pelan lalu bersalaman dengan mempelai perempuan.
" Gak mungkin gue gak datang! Bisa marah anggota demisioner lainnya!". Kata Rio menimpali. Mereka tertawa, sedangkan gue hanya tersenyum.
"Eh lo bawa siapa? Jangan bilang ini istri lo, Yo!". Praktis, Rio melingkarkan lengannya di pinggang gue. Posesif nya laki ku.
"Yaps. Kenalkan, namanya Ify". Gue mengulurkan tangan kepada mereka.
"Gue rasa-rasa pernah liat Ify deh, tapi dimana ya?". Kata istri Gifar.
"Minggu lalu rasanya!". Lanjut perempuan itu. Gue mencoba mengingat kembali minggu lalu ngapain aja. Haha,.
"Lo perwakilan HMJ kimia ya? Waktu itu kalau gak salah lagi ngadain acara baksos gitu". Gue tersenyum dan mengangguk. Gue baru inget, kalau dia juga ada di sana.
Gifar dan Rio saling menatap kami satu sama lain " Yes, i'm. Sorry gak ngenalin lo waktu itu!". Kata gue gak enak. Dia tersenyum sembari mengibaskan tangannya yang dipenuhi oleh inai, khas pengantin.
Karena antrean yang mulai memanjang, gue dan Rio memutuskan untuk makan. Setelah sebelumnya mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada kedua mempelai. Gue menghela nafas pendek, pesta pernikahan gue memang di rayakan namun tak ada senyum tulus didalamnya. Miris ketika gue mengingat momen itu.
"Hey, lo kenapa?". Tanya Rio menyentuh pundak gue dengan lembut. Gue menggeleng pelan.
Ketika kami sedang makan, ada beberapa teman Rio yang ikut bergabung semeja dengan kami. Cowok pada umumnya. Mereka melirik ke arah gue terang-terangan, padahal Rio memperkenalkan gue sebagai istrinya. Tapi mereka masih aja jelalatan ngeliatin gue. Gak guna.
Gue lihat ekspresi Rio yang tak suka, gue mengelus punggung tangannya berusaha untuk meredam emosi nya. Kami memutuskan pulang ke rumah saja. Gue tau emosi Rio lagi ambyar banget. Sebisa mungkin gue menstabilkan nya.
****
Rio's side ya...
.
.
.
.
.
.
.
Gue menarik Ify ketika kami sudah dirumah, dia terkejut dan hampir terjatuh ketika sedang meletakkan high heels nya.
"Bang, sabar dong!". Gerutunya setengah mati. Gue terbahak lalu menghujani nya dengan kecupan kecupan membabi buta. Dia kewalahan mereka hadapi serangan dari gue. Ini sebuah hukuman untuk dia karena dengan kurang ajarnya mempermainkan gairah gue sejak dipesta tadi. Demi apa istri gue datang dengan gaun yang katanya seksi itu tapi menurut gue sangat kurang bahan. Heuh! Perempuan dengan seleranya.
Gue membuka paksa gaun pesta Ify hingga terdengar berbunyi robekan dan dia tak Terima. Gue masa bodoh, siapa suruh berpakaian seperti itu. Gue laki-laki normal dan milik gue di tatap lapar oleh laki-laki lain di luar sana. Gue gak suka, remember?
Ify mendesah saat gue meninggalkan bekas panas di bahu dan dadanya. Dia membusungkan d**a karena gue terlalu b*******h menyentuh tubuhnya. Jemari gue mengobrak abrik pusat intinya hingga desahan itu terdengar nikmat di telinga gue.
"Aahh shitt! Damn you!". Umpat nya. Istri kurang ajar, mulut manis nya menyumpahi gue. Gue gak tinggal diam, segala bentuk sentuhan membara gue jamahi tubuhnya. Dia bertekuk lutut di bawah kurungan gue.
Setelah kami sama-sama siap, barulah penyatuan itu terjadi untuk kesekian kalinya. Semalam adalah hal pertama yang gue lakukan. Melakukan hubungan intim. Meskipun awalnya terasa canggung, tapi setelahnya gue menggempur Ify habis-habisan hingga dia kelelahan. Katakan lah jika gue laki-laki dengan nafsu yang tinggi. Tapi gue udah lama gak buka puasa. Ya wajar dong!
Ify menutup matanya ketika gue mulai memasuki dirinya. Gue melumat bibir manis itu dan membiarkannya menatap gue. Gue suka ketika dia menatap sendu saat penyatuan kami. Dia terlihat seksi berkali-kali lipat.
"Sakit?". Tanya gue mencoba untuk pelan. Dia meringis sejenak lalu menggeleng.
"Don't stop, please. Yang ada gue--". Belum sempat dia melanjutkan, gue lebih dahulu mendesak rahimnya dengan cepat. Gue tau apa maunya Ify. Kami sama-sama bergerak untuk mendapatkan puncak inti. Gue memainkan gundukan indah yang selalu gue suka ini. Mencium bahkan menghisapnya seperti mengemut lolipop. Gue gemas dengan puncak merah itu. Gue pernah menggigitnya dan dia berteriak kesakitan.
"Yo,, uhhh". Ify mendesah menyebutkan nama gue. Yang bekerja bukan hanya gue, tapi Ify juga. Jemarinya menyentak surai gue dan membenamkan kepala gue di belahan dadanya. Kemudian berpindah ke punggung gue ketika pelepasan kami datang. Kuku - kukunya yang tajam menancap kuat di punggung gue. Perih juga, gue baru tau kalau cewek udah sampai klimaks bakalan ganas.
Gue mencium keningnya sangat lama, gue bahagia. Sungguh bahagia. Gue lihat dia tersenyum manis. Gue pun demikian. "Lo gak capek kan?". Tanya gue mengering jahil. Dia malah terkekeh lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di d**a bidang gue.
Tanpa menunggu persetujuan Ify, gue melakukan nya lagi. Gue mengeluarkannya di dalam dan gue rasa benih gue akan cepat berkembang di dalam rahim Ify. Gue ingin punya anak dan Ify adalah ibu yang tepat untuk calon anak-anak gue. Ah, gue tersenyum bahagia.
Kami terus bekerja memproduksi pengikut-pengikut kecil di keluarga. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ify tertidur setelah ronde terakhir, dia kelelahan. Gue akui, gue terlalu bersemangat dan b*******h jika dia sekali saja menyentuh di titik sensitif gue. Ify tau cara memperlakukan laki-laki dewasa. Dan gue suka itu.
Gue memperhatikan wajah nya yang terlelap damai dalam tidur. Tenang dan tak ada beban. Gue telusuri sepanjang tubuhnya, jejak-jejak merah hasil karya gue bertebaran, apalagi di bagian d**a dan lehernya. Gue tersenyum kecil dan mengelus pelipisnya. Mencoba terlelap disamping wanita yang mulai gue cintai ini.
*****
#SalamAnakRantau