"Selamat datang."
Bianca memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap sejak dua tahun lalu. Restoran mungil ini telah berdiri sejak dua puluh tahun. Dari generasi ke generasi baru demi meneruskan usaha keluarga secara turun-temurun. Meski tempatnya tidak terlalu besar, pengunjung yang datang kerap silih berganti. Restoran dengan gaya retro unik ini memiliki namanya tersendiri bagi kalangan pembeli.
"Satu ramen berukuran sedang dengan ocha hangat."
"Ah, cocok dengan suasana hari ini?"
Bianca memberi senyum. Merapikan anak rambutnya yang tersapu angin. "Kau benar. Aku akan duduk di tempat biasa."
Si putri sulung mengangguk. Yang Bianca tahu, pemilik memiliki tiga anak. Dua di antaranya memilih untuk sibuk di dapur. Sementara yang paling tua memegang kasir dan kadang-kadang memenuhi permintaan pelanggan jika menemukan komplain.
"Belikan aku balon, Mama."
Bianca termenung. Mendapati seorang gadis kecil dengan kepang kuda menarik gaun sang ibu. Rautnya memelas, lucu dengan ekspresif. Bianca diam-diam tersenyum, lalu menunduk untuk mendesah panjang.
Sesuai konsep restoran yang lama, instrumental musik pengiring di dalam pun sama. Mendominasi musik di rentang tahun '80 dan '90 yang kental. Beberapa orang mungkin terlihat biasa, beberapa lagi terlihat keberatan. Karena selera mereka berbeda.
"Ocha hangatmu datang."
"Terima kasih."
"Kau sendiri? Tidak bersama sahabatmu?"
"Dia punya janji," kata Bianca ramah. "Tidak masalah kalau aku datang sendiri, bukan?"
Senyum si putri sulung melebar. "Tentu saja tidak. Kau bisa mencari celah untuk quality time seorang diri. Tunggu ramenmu. Sebentar lagi matang."
Sosoknya pergi setelah pengunjung lain mengangkat tangan untuk memesan varian menu tambahan lain. Bianca kembali tercenung, melamun menatap jendela yang berembun karena gerimis baru saja turun.
"Selamat datang."
Pembeli datang dan pergi. Restoran tidak pernah kehilangan pelanggan walau malam semakin larut. Ketika pesanannya tiba, Bianca tersentak karena mendapati seseorang duduk di seberang mejanya.
"Nikmati makan malammu."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Ia berpura-pura acuh. Mengabaikan eksistensi sang dokter dingin di depan mata. Letak restoran dan rumah sakit tempatnya bekerja cukup jauh. Dokter Abe tidak mungkin seniat itu untuk datang ke tempat kecil.
Kemudian pada satu ketukan di meja yang membuyarkan Bianca pada ramen panas di atas meja. "Bisakah aku duduk di sini?"
Tidak.
"Tentu."
Sang dokter menaruh dirinya di kursi. Bersandar dengan balutan kemeja kerja yang masih terlihat bersih dan mahal. Selintas Bianca menyadari harga yang tidak murah dari satu setelan kemeja dan celana yang melekat pada tubuhnya. Meski rautnya tampak letih, Bianca menyadari mengapa dokter muda satu itu sering menjadi bahan obrolan panas di rumah sakit.
"Aku pikir tempat ini terlalu jauh dari rumah sakit?"
Abe menatapnya datar. "Apa lokasi menjadi masalah?"
Lekas Bianca menggeleng. "Bukan. Karena banyak restoran lain yang lebih menarik perhatianmu. Ini hanya tempat kecil."
"Satu-satunya restoran yang menawarkan suasana seperti di pedesaan dengan kesan yang unik. Aku menyukai tempat ini," balas sang dokter dingin. "Omong-omong, ini bukan pertama kalinya."
"Oh."
"Aku asumsikan kau juga."
Bianca meringis kecil. "Ya. Satu-satunya restoran yang sesuai dengan kantongku."
Obrolan mereka terhenti saat pesanan Abe tiba. Dengan ukuran mangkuk yang lebih besar, Bianca mendapati Abe memesan menu yang terbaik. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, bagi dokter itu. Namun seharga uang makan Bianca selama tiga hari.
"Kau memesan menu yang paling murah."
Semburat malu muncul. "Bukan soal harga, tapi kualitas rasa."
"Yang termahal pun luar biasa."
Bianca kalah berdebat.
Mereka menyantap makan malam dalam diam. Bianca tidak terbiasa berbincang dengan orang asing. Sementara Abe menurut kabar, bukan tipikal yang senang membuka topik percakapan dalam bentuk apa pun. Mereka berdiri di garis yang sama, dalam konteks berbeda.
"Apa kau terbiasa melarikan diri?"
Pertanyaan itu mungkin telah menyinggungnya. Bianca rasa, sang dokter terpengaruh akan pertanyaan spontannya. Yang membuat alis gelapnya menyatu, memandang Bianca dingin. "Dari?"
"Penggemarmu."
"Aku tidak punya penggemar."
Bianca diam. Ia hampir terpeleset menyebut nama Alya dan segenap pekerja jajaran rumah sakit berjenis kelamin perempuan.
"Kau berbicara bahasa informal padaku."
Kedua matanya melebar, lalu menghela napas. "Maaf. Aku pikir—,"
"Biasa saja."
Bianca spontan diam. Tidak lagi bersuara. Membiarkan suara seriosa dari piringan hitam mengalun tanpa hambatan sedikit pun.
"Kenapa kau menduga aku yang menangani pasien tabrak lari lima tahun lalu?"
Lamunannya buyar. Saat Bianca mendongak, mengamati ekspresi Abe yang pasif. Dokter itu tidak lebih seperti terbuat dari es yang keras. Padatnya sama sekali tidak memberi kesempatan untuk ekspresi lain menyelinap.
"Hanya perasaan," akunya jujur. "Aku sendiri tidak terlalu ingat karena terlalu berduka saat itu."
"Siapa lelaki itu?"
"Kekasihku."
Sang dokter membisu.
"Pikiranku tidak fokus malam itu. Saat kematiannya, duniaku seakan berhenti berputar." Bianca diam, menyadari kalau dia terlalu banyak bicara. "Kalau aku menduga bukan kau orangnya, aku meminta maaf."
"Tidak."
Bianca menengadah. Sorot matanya melembut. "Tidak?"
"Tidak. Kau benar," kata Abe ragu. "Saat itu aku bertugas sebagai dokter umum. Mendapati tugas malam dan menyadari ada pasien tabrak lari yang membutuhkan pertolongan pertama."
Bibir Bianca terkatup. Menyadari benaknya bergejolak hebat tanpa ampun.
"Yang tidak kusadari adalah kehadiranmu. Aku gagal menyelamatkan kekasihmu. Sebagai seorang dokter yang bersumpah memberi bantuan sekecil apa pun pada pasien yang membutuhkan, aku merasa bersalah."
Bianca diam. Tetapi dia mendengarkan. Saat napasnya tertarik kasar, memberi sang dokter seulas senyum tanpa pamrih. "Tidak, bukan begitu. Aku ingin berterima kasih."
Sepintas, mimik tegang itu berubah lunak. "Berterima kasih?"
"Kau sudah bekerja keras. Semesta yang meminta kekasihku untuk pulang lebih awal. Kau mungkin lupa, tapi kau yang menghiburku saat sahabatku dalam perjalanan ke rumah sakit. Kau bilang, semua akan baik-baik saja. Kau mungkin tidak ingat. Aku pun tidak sepenuhnya sadar."
Abe diam. Mencerna semua ucapannya tanpa suara.
"Aku tidak tahu pernah melakukan hal itu," bisiknya. Nyaris terdengar seperti lirihan. "Kau membuatnya terdengar seperti berguna."
"Memang. Kau tidak menyadarinya."
Sinar matanya mengamati lebih lama. Bianca merasa tertekan jika berlama-lama memandangnya. Kejadian malam itu akan membekas selamanya, sampai dirinya terbaring di tanah.
"Aku harus pergi."
Ia harus pergi. Ketika pandangan Abe mengikuti, Bianca membungkuk penuh rasa bersalah. "Sekali lagi terima kasih banyak. Aku ingin ucapkan itu. Tapi keadaan terlalu kacau dan aku sekarat karena menemukan diriku hancur. Semoga keadaan lekas membaik. Seperti yang kau bilang, semua akan baik-baik saja."
Kemudian berjalan menuju kasir. Melempar percakapan kecil dan membayar makanan dengan uang tunai. Bianca terburu-buru pergi, mengejar bis yang berhenti di halte dan sosoknya lenyap begitu saja. Pandangan Abe masih menetap pada tiang lampu jalan yang berdiri kokoh walau tersapu angin malam.