Tangisan memenuhi hampir sepanjang koridor UGD yang sepi. Semua orang berpura-pura abai, memang kodratnya rumah sakit sebagai pelepas duka. Kabar tidak sedap bukan kali pertama yang hadir.
Sama halnya saat Abe baru saja kembali. Yang ia lihat pemandangan di depan sana berubah menjadi kabar duka. Belum lama, rumah sakit mendapati pasien terkena serangan jantung, dan dilarikan ke UGD secepat mungkin. Dan setelah ia kembali, nyawanya tidak tertolong. Keluarga menangis histeris.
Ia membeku. Sejenak terpaku. Renungan itu mengantarnya pada malam ketika ibunya memilih untuk tidur selamanya. Setelah mereka berbincang singkat, ibunya berbisik kalau Abe lahir karena keajaiban, bukan kesalahan. Lalu memilih untuk memejamkan mata. Tidak lagi ingin terbangun, tidak lagi mau menatap birunya langit di pagi hari.
Tangisan mereka sama sekali belum mereda. Sama halnya kenangan Abe yang terlanjur deras terjun, belum kunjung pulih. Ia mundur, sepatunya terantuk pada pot bunga besar.
"Kau terguncang."
Abe mengernyit. Melihat Karin muncul dengan mimik datar. "Kau terguncang," ucapnya lagi. "Kematian tidak pernah membawa kabar baik untuk siapa pun."
"Kau pun sama."
"Aku tidak bisa melupakan malam saat ibuku pergi untuk selamanya. Semua terasa cepat sekaligus membingungkan. Kami masih tertawa bersama di siang hari. Berita itu membuatku mati rasa," kata Karin sendu. Mendongak menatap langit-langit rumah sakit yang terang. "Kehilangan selamanya membawa rasa sakit. Sebagian diriku hilang, terbawa bersama Mama ke liang kubur."
Abe menghela napas. Membiarkan mata Karin mengamatinya dalam sinar redup. Lalu berjalan pergi, menuju ruangannya sendiri.
"Apa begitu caramu melarikan diri?"
"Kita tidak punya masalah satu sama lain," balas Abe dingin. Melemparkan diri ke kursi besar, bersandar dengan tangan menopang dagu. "Masalahnya hanya pernikahan penuh omong-kosong yang seharusnya tidak harus terjadi."
"Lantas, mengapa kau tidak membatalkannya di depan ayahmu dan ayahku?"
Bibir Abe mengencang. Terkatup dalam ego yang menghantam kebenaran. "Aku tidak akan berhasil."
"Kalau begitu, aku tidak mau melakukannya. Biarkan semua berjalan semestinya."
Karin memang keras kepala. Abe mengenalnya terlalu baik. Perempuan itu satu-satunya pujaan para pria dari segi mana pun. Karin ramah, supel, riang, tidak malu berteman dengan siapa pun dan bukan anti sosial sepertinya. Yang Abe sadari sejak dulu. Persahabatan mereka tidak akan pernah selamanya benar-benar murni berteman.
Berulang kali Karin mengencani lelaki lain, Abe tidak terpengaruh. Atau sedikit saja terguncang karena kehadiran sosok baru di kehidupan wanita itu. Abe tidak pernah merasakan apa pun. Bentuk sentimental pria terhadap wanita pada Karin, itu tidak pernah ada.
"Kau tidak seharusnya mengabaikan Daffa sekejam itu. Abe, dia tidak bersalah."
Sesal merambat seperti benalu pada batang tanaman. Abe menunduk, meragu dengan kalimat cemoohan dirinya sendiri yang pergi dengan membawa segenap perasaan hancur serta terluka, membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri, dan membiarkan ia mengurus kehidupannya sendiri. Termasuk Daffa. Kakaknya yang terjebak dalam sangkar emas penuh siksaan.
Tarikan napas Karin terdengar keras. Abe bisa mendengar langkah sepatu wanita itu mendekat. Karin menelusuri pigura kecil yang tersimpan di atas meja, satu-satunya dorongan yang membuat Abe bertahan dan alasan hidupnya. Potret ibu dan dirinya, potret masa remajanya dengan Daffa. Semua tampak berwarna. Seperti pelangi yang terbit setelah hujan pergi. Bahagia dan bebas, tanpa ada Conan di sana.
"Aku tahu, aku tidak berhak mencampuri urusan rumahmu yang kacau. Karena setiap rumah memiliki ceritanya sendiri." Karin berujar parau, menekan telunjuknya di tepi meja. "Tapi apa pun itu, aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu. Kalau kau tidak bisa melihatku sebagai seorang wanita, maka pandang aku sebagai sahabatmu."
Suaranya bergetar. Abe sendiri tidak tahu sejak kapan Karin diam-diam memendam perasaan untuknya. Rasa itu terlanjur mati. Untuk beberapa alasan logis yang mampu diterima logika warasnya.
"Kau punya kekasih."
"Kami sudah selesai. Hubungan apa pun yang dipaksakan tidak akan berhasil. Dia menyadarinya. Begitu juga denganku," tukas Karin sesak. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini kemauan kami."
Karin mendesah panjang. Meluruskan tangan dengan kepalan yang mengerat. "Hampir jam makan malam. Kau ingin pesan sesuatu?"
Abe menggeleng.
Karin berdecak samar. Memilih untuk membuang rasa sakitnya dengan mengitari sepanjang ruang pribadi Abe dalam diam. Tidak terhitung berapa kali dirinya kagum dengan semua pencapaian sahabatnya. Abe bukan tipikal yang mudah menyerah. Menjadi seorang dokter adalah impiannya. Walau pria itu tidak pernah membicarakan harapan sekecil apa pun padanya. Atau pada dunia sekalipun.
"Kau belum bicara suka dan duka menjadi dokter spesialis bedah umum." Karin kembali ke kursi, mengangkat alis ketika mata mereka bertemu. "Apa ini lebih kompleks dari sekadar dokter jaga biasa?"
Satu dengusan mampir. Abe mendapati dirinya sedikit rileks. Pernikahan rupanya membuatnya tertekan. Dan Karin membuang topik itu untuk mereka berdua. "Kemajuan yang pesat. Bersama beban yang kutanggung. Aku sempat tertekan."
Karin menggeleng miris. "Aku menduganya. Papa juga mengalami hal yang sama saat dia mengambil gelar baru di bidang kedokteran. Pencapaiannya yang sekarang adalah buah kesabaran dan usaha. Dia pantas, kan?"
Abe memberi reaksi berupa anggukan. Usaha dan kerja keras Tuan Kato selaku dokter spesialis jantung mengantarkannya sampai duduk di posisi kepala nomor satu. Menjadi panutan yang dihormati. Senior yang disegani.
Dan kemurahan hatinya yang tidak pernah memaksa sang anak untuk mengikuti jejaknya bisa diandalkan. Karin sukses dengan dunianya sendiri. Menjadi perancang busana pesta dan gaun-gaun mahal ternama, membangun butik bersama anak cabang dengan rekan investor setelah tercebur dalam banyak seminar yang membulatkan tekadnya. Karin adalah inspirasi, begitu kata orang-orang.
Karin bersinar. Abe mengakuinya dengan tangan terbuka. Sesuai cita-cita yang selalu wanita itu gaungkan semasa remaja mereka. Sukses dengan bisnisnya sendiri, sukses dengan kemandirian yang melingkupinya sejak muda.
"Baru-baru ini, aku tidak tidur untuk merancang gaun pengantin."
Abe terpaku. Sorot matanya mendingin mendengar pengakuan terbuka itu. "Kau sibuk. Untuk apa terus berkunjung ke rumah sakit?"
Karin mengambil napas, memainkan tangannya di atas pangkuan. "Ah, aku belum mengatakannya padamu. Papa memiliki diabetes yang mencemaskan. Kolestrol karena kehidupan masa mudanya sempat berantakan ternyata berimbas di hari tua. Aku hanya harus melihatnya. Aku hanya—," bibirnya terkatup untuk mengendalikan suara yang mendadak bergetar. "—aku hanya tidak ingin melewatkan apa pun yang tersisa."
Abe menatapnya yang mendadak berdiri. Karin mengusap sudut matanya yang menyusut karena menahan airmata, memperbaiki jepitan pada poni rambutnya dengan senyum. "Aku harus kembali. Kau serius tidak ingin makan apa pun?"
"Aku menghargai kebaikanmu, tapi tidak."
"Oke."
Karin seakan harus bersikap santai. Saat dia mengalungkan tasnya, berjalan ke pintu utama untuk menarik gagang itu masuk ke dalam.
"Jika saja suatu hari nanti kau jatuh cinta pada perempuan lain, maukah kau bicara padaku?"
Si dokter muda hanya membisu. Bersama seurai senyum mencela Karin, yang juga memandangnya dengan pandangan prihatin.
***
"Ini, minumlah."
Aisha mendongak dari tumpukan catatan di atas meja dengan tarikan napas. Sudut bibirnya tertarik, membentuk seulas senyum samar yang membingkai manis. "Thanks. Kau tidak membuatnya satu untukmu?"
"Akan. Aku ingin mendengar kisahmu semalam. Kau tampak suntuk seharian. Kencanmu berjalan buruk?"
Bibir sahabatnya melengkung turun. Bianca masih diam, dia membiarkan Aisha bercerita tentang secuil kehidupan asmara yang berujung kegagalan. Menurut Aisha, dia perempuan tidak percaya diri. Terlalu parah untuk merasa insecure terhadap apa pun. Serupa dengan yang sempat Bianca alami di masa lalu.
"Gagal. Seperti dugaan kita berdua. Aku memang tidak pernah pandai dalam soal kencan," balas Aisha dingin. Menatap catatan di atas meja dengan dengusan. "Aku berdoa pada Tuhan untuk tidak bertemu dengannya lagi. Dasar pria menyebalkan."
"Siapa namanya?"
"Rahasia."
Bianca tertawa. "Oke, apa pekerjaannya?"
Manik biru laut sahabatnya berkilat. "Customer Service di sebuah bank ternama."
"Posisi yang bagus. Bayaran perbulan gaji seorang pegawai bank tidak sedikit," timpal Bianca santai. "Apa yang terjadi?"
"Dia meninggalkanku." Aisha berkata pelan, memejamkan mata. "Kemudian tidak kembali. Ini bukan perkara aku membayar makan malam yang tidak seberapa itu. Tetapi aku merasa terkhianati. Dan berpikir tidak seharusnya aku berlarut-larut mencemaskan hal itu."
"Apa kau menunggunya?"
Aisha menatap matanya. "Ya. Aku menunggunya."
"Kau mulai tertarik," pungkas Bianca memberi kesimpulan. "Tolong koreksi kata kita, aku sendiri tidak pernah pesimis pada hubungan jangka pendek atau panjangmu. Semua hanya tentang kau yang belum yakin."
Bianca tahu, kalimatnya mengandung kebenaran. Karena Aisha setelahnya tidak bersuara. Sorot birunya meredup, meski bibirnya mengulas senyum. "Kau benar. Ketidakberdayaanku menghancurkan segalanya. Aku ingin memberitahu namanya, tapi aku sangat jengkel. Jadi kita tidak perlu membahas itu."
Bianca menghela napas. "Kalau saja aku punya kenalan pria yang lebih baik, aku akan memberitahumu. Sayangnya, tidak ada."
Secara tiba-tiba, Aisha terkekeh. Meraih gelas matcha latte Bianca buatkan dengan kepala meneleng ke kanan. "Aku tahu benar dengan siapa kau berbaur. Duniamu hanya sekitar kafe ini, rumah sakit, gedung-gedung pemerintahan. Selesai. Tapi bukan masalah. Aku tidak tertarik menjalani komitmen apa pun. Semalam hanya percobaan. Aplikasi itu hanya keisengan semata."
Iris teduhnya mengamati sang sahabat dalam diam. Aisha menyesap minuman, menghitung laba bersih yang masuk bulan ini selagi Bianca membersihkan meja dan menyiram tanaman. Hari ini mereka tutup lebih awal. Cuaca diperkirakan akan sangat buruk, dan orang-orang diminta untuk menaruh waspada karena angin kencang atau badai petir menyusul.
"Mendung terlihat lebih menakutkan jika kita melihatnya secara langsung. Bentuknya yang hitam dan padat, menggumpal seperti kapas kotor. Tetapi sebagian orang mencintai hujan."
Aisha berpaling ke arah Bianca yang melamun, bersandar pada tepi jendela sambil menatap mendung yang bergandengan tangan. "Orang-orang bilang mendung membawa kabar buruk. Pertanda bukan hal baik. Tetapi sebagian orang sepakat soal mendung yang tidak berarti hujan. Kepedihan tidak selalu tentang airmata."
Bianca menghela napas. Menyugar bekas rambutnya yang terikat. Kini ia membiarkan anak rambut panjangnya tergerai. Berayun lembut mengikuti irama langkahnya yang bergegas.
"Hei, Bianca. Kau ingin mendengar sesuatu?"
"Hm?"
"Aku tahu, Dokter Abe beberapa kali mampir ke kafe kita. Tapi siapa Karin?"
Alis rapinya tertaut. "Kenapa dengan Karin?"
Aisha mencebik sebentar. Menopang dagu sebelum bersuara penuh rasa penasaran. "Aku mendengar salah satu staf rumah sakit bergosip tentang Dokter Abe dan putri kepala yayasan. Karin namanya."
"Mereka akan menikah," tambah Aisha kemudian.
"Benarkah?"
"Huum. Apa menurutmu itu hanya kabar burung? Apa kita hidup di zaman dinasti kuno yang mengedepankan pernikahan sebagai aspek tertinggi dalam pencapaian kedamaian dalam hidup?" Aisha menggeleng sebal. "Aku akui, dokter bertampang ketus itu tampan. Tapi aku penasaran dengan Karin. Kau pernah melihatnya?"
"Sudah."
"Apa dia cantik?"
Rasa penasaran sahabatnya terlalu memuncak. Bianca melepas apron saat dia melempar tatapan mencemooh pada Aisha. "Ada kata yang lebih baik dari sekadar cantik; sepadan."
"Ah, aku paham." Rambut pirang yang tersanggul terayun mengikuti kepala yang menggeleng. "Sebagian besar dokter berdompet tebal. Coret kalimat itu, sepenuhnya. Biaya kuliah untuk menjadi sarjana kedokteran tidak sedikit."
Bianca memasukkan semua sisa makanan ke dalam kulkas pendingin. Mencatat kue-kue yang habis, menghubungi penjual untuk membuat kue baru dan akan pagi-pagi sekali diambil. Seperti biasa, rutinitas yang terus berulang setiap harinya. Aisha yang akan mengurus keperluan lain, Bianca membereskan sisanya. Cukup dua orang, dan mereka belum berniat menambah pekerja baru.
"Staf rumah sakit itu bergosip soal Abe yang terkenal di rumah sakit. Dia yang paling muda untuk menjadi bagian dari dokter spesialis bedah umum," imbuh Aisha, menghabiskan minumannya. "Dia luar biasa, bukan? Apa mereka hanya melebihkan?"
"Tidak, itu kebenaran." Dan Bianca baru menyadari bidang yang Dokter Abe geluti selama ini di rumah sakit.
"Oke. Cukup sampai di sini pembahasan dokter tampan yang melegenda. Saatnya kita pulang. Aku tidak ingin memakai jas hujan kodok." Cemooh Aisha geli, dan Bianca tertawa.
Aisha memeriksa semua tempat sekali lagi. Sebelum hujan benar-benar turun, Bianca bergegas menyalakan lampu. Bersiap-siap hendak pulang saat pintu kafe mereka yang belum terkunci kini terbuka, menampilkan tamu tidak terduga yang membuat keduanya terkejut.
"Kami sudah tutup." Celetuk Aisha dari meja kasir. Menunjuk pada papan closed dari pintu kaca dengan dagunya.
Dokter Abe tampak bimbang. Matanya yang sepekat malam beralih pada Bianca yang terdiam. Menatapnya penuh tanya. "Aku tidak melihatnya," sambungnya datar. "Kalau begitu—,"
"Kau ingin pesan apa? Aku akan membuatnya kurang dari delapan menit." Bianca tiba-tiba bersuara, mengalihkan atensi Aisha dan Abe secara pesat. "Aku serius."
"Apa saja."
Bianca tidak lagi berpikir panjang saat bergegas membuatkan minuman baru. Mungkin dokter muda itu sama malunya karena berpikir kafe mereka masih buka seperti biasa. Dia bisa duduk melihat senja dengan segelas kopi dingin. Tapi kali ini mendung lebih senang mengambil singgasana matahari yang harus tidur lebih awal.
Aisha tercenung. Berdeham dengan raut penuh sesal. Saat dia melihat Bianca muncul dengan tisu dan sedotan baru, Abe memilih untuk menunggu di luar.
Bianca tidak melihat adanya mobil terparkir di halaman seperti biasa. Hal itu yang membuat dirinya dan Aisha tidak menduga kedatangan Abe ke kafe mereka.
"Aku memarkirkan mobilku di depan toko bunga," ujar Abe tiba-tiba. Mengeluarkan dua lembar uang tunai pada Bianca untuk menebus minumannya. "Aku membayar minumannya."
Bianca mendongak, menggeleng dengan bibir terkulum. "Aku yang traktir kali ini. Nikmati minumanmu."
"Kau serius?"
"Serius." Ada nada bercanda dalam suaranya. Bianca geli melihat raut dingin itu terkesan gelisah. "Nikmati saja. Itu kopi terakhir hari ini. Kami tutup lebih cepat sesuai perkiraan cuaca di radio."
Si dokter muda lantas menengadah. Kedua matanya menyipit menatap guratan mendung yang semakit pekat dan ganas. "Sebentar lagi badai." Lalu kembali memasukkan pecahan uang itu ke dalam saku celana.
"Kau benar. Itu yang orang-orang cemaskan."
Bianca memandangnya tanpa arti. Dokter Abe menghela napas, menunduk menatap sepatunya yang mengilap. Kemudian Bianca tersadar, kalau dia harus segera pulang.
"Aku datang untuk bicara sesuatu."
Langkahnya kembali mundur. Bianca berbalik untuk sekadar mengamati ekspresi sang dokter yang pucat. "Untuk?"
Sang dokter diam. Pegangannya pada gelas kopi sama sekali tidak mengendur. Bianca dihempas sebuah realita baru. Saat dia mundur, menatap Dokter Abe dengan mata melebar. "Untuk lima tahun yang lalu?"
Abe menatap manik teduhnya kosong.
"Aku merasa—,"
"—gagal?" Bianca meneleng tidak percaya. "Dokter, aku paham kalau kau merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan pasienmu saat itu. Tapi itu lima tahun yang lalu. Kau bahkan berbaik hati menguatkan aku sebelum sahabatku datang. Kenapa sampai seperti ini?"
"Bagiku itu kegagalan."
"Benar. Egomu sebagai seorang dokter terluka ketika mendengar pasienmu melepas jiwa mereka terbang dari raga," ucap Bianca sesak. "Tetapi aku tahu, ini bukan murni kesalahanmu. Pelaku penabrakan sudah mendapat hukuman setimpal. Semua sudah bergerak sesuai roda semestinya. Dokter, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri atas lima tahun lalu. Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak membahas itu denganmu. Itu hanya akan membuka luka lama."
Air mukanya yang terlampau datar membuat Bianca semakin dirundung perasaan bersalah. Abe sekarang dengan Abe lima tahun lalu terlihat berbeda. Meski dari penampilan, perubahan itu sedikit mencolok spesifik. Tetapi bagaimana sorot dan ekspresi angkuh itu seakan menetap telah bertahun-tahun. Rupanya masalah bernama kehidupan berhasil merubah sang dokter secara permanen.
"Tolong jangan seperti ini." Bianca meminta dengan penuh kelembutan. "Aku akan menebusnya dengan memberikan kopi itu secara gratis. Nikmati sebelum semua es batunya mencair."
Abe menunduk menatap gelas kopi di tangan. Sementara Bianca membungkuk sopan, melempar seulas senyum sebelum berbalik untuk berlari masuk ke dalam kafe. Yang masih bisa Abe rasakan eksistensi gadis itu di sini adalah sorot matanya, rambut panjang berwarna unik yang terayun lembut, dan bagaimana suara itu begitu halus menyapa telinga.
Kemudian gerimis menghancurkan bayangan manis yang hampir sepenuhnya tercipta.