**Bab 009: Keluar Zona Nyaman**
#Kembali ke area di dalam kabut misterius.
Ragu. Tegang.
Rezvan dan Rafandra saling melirik sebelum mencoba membuka pintu darurat.
Klek... klek... klek...
“Macet,” gumam Rafandra sambil menoleh ke Rezvan.
“Buka paksa?” tanya Rezvan pelan.
“Kalau suaranya malah mancing makhluk itu ke sini gimana?” sahut Rafandra, setengah berbisik.
“Terus... masa mundur lagi?” Rezvan balas, nadanya ringan, setengah bercanda.
“Wah, rusak imej dong.” Rafandra menanggapi dengan lirikan mata.
“Itu tahu...” Rezvan mengangkat alis, santai.
“Bapak kan guru sekolah teknik, akalin dong. Gimana caranya biar pintunya kebuka tanpa suara,” Rafandra mulai kesal.
“Lah situ sendiri?! Kan situ kernet di bis ini…’’ tukas Rezvan membalas.
‘’Iya, ya… ah… tapi saya masih baru Pak guru, masih belajar…’’ jawab Rafandra santai sambil tertawa.
‘’Huf,’’ dengus Rezvan, ‘’Saya guru bahasa Indonesia. Bukan tukang bongkar pasang onderdil...”
“Waduh.” Rafandra menggeleng pelan, seolah baru sadar dia salah melempar harapan.
Huft...
Beberapa murid yang mengamati dari kursi belakang menghela nafas bersamaan.
Lalu, tiga murid berdiri nyaris bersamaan: Damar, Ardi, dan Farel.
“Pak, pintu itu pneumatik. Udah pasti nggak bisa dibuka kalau tekanan udaranya hilang.”
Rezvan menoleh. Damar berdiri setengah tegak, memegangi lengan yang dibalut sobekan jaket.
Ardi ikut bicara dari sisi lain, suaranya tenang tapi terdengar prihatin. “Soalnya... tadi waktu mesin mati, sistem udaranya ikut lumpuh, Pak. Pintu ini dikunci dari dalam oleh tekanan. Tanpa tekanan itu, dia terkunci secara otomatis.”
Topan melanjutkan, nada bicaranya pelan, sopan, tapi terdengar seperti mencoba menahan gugup. “Kalau listrik dan mesinnya masih hidup, pintunya bisa dibuka dari tombol. Tapi sekarang... semua sistemnya udah mati, kayak... ya, semuanya di-reset.”
Rafandra mengangguk perlahan, seolah baru menyadari kesalahannya sendiri. Ia menatap pintu itu dengan kecewa, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela yang sudah retak.
“Terima kasih,” ucap Rezvan, suaranya pelan. “Harusnya kami sadar dari tadi.”
Damar tersenyum kecil, tapi lelah. “Wajar, Bapak bukan guru tehnik mesin, jadi yah, mungkin nggak masuk kalkulasi”
Tak ada yang tertawa.
Tak ada yang menganggap itu lucu.
Tapi dalam diam, kehadiran tiga siswa itu mengisi ruang yang mulai disesaki ketakutan dengan sedikit nalar. Bukan untuk mengurangi horor, tapi untuk mengingatkan bahwa masih ada yang bisa dipikirkan, dilakukan.
Rafandra mendekati jendela samping. Tangannya menyentuh retakan kaca yang menganga seperti luka.
“Kalau pintu tertutup, kita cari celah lain.”
Kaki Rafandra berpijak di antara pecahan bangku, matanya menyapu sisi dalam bus yang remang, lalu berhenti di jejeran kaca jendela. Retakan kecil menyebar di beberapa panel, tapi sebagian besar masih utuh. Tangannya menyentuh permukaan dingin kaca, meraba ketebalan dan posisi rangka baja di tepinya.
“Yang ini,” gumamnya pelan, menunjuk jendela samping kanan di baris ketiga dari belakang. “Posisi paling stabil, nggak ada besi penghalang, dan—” dia mengetuk pelan ujung bawah kaca, “—bisa kita tekan dari titik lemah. Sudut bawahnya sudah retak rambut.”
Damar yang berdiri tak jauh darinya, mendekat sambil berjongkok.
Ia menyelipkan jari ke sudut karet pelindung kaca, mengintip rangka logam di baliknya. “Kalau kita tekan pakai siku di sini,” katanya sambil menunjuk area diagonal dari sudut bawah ke tengah, “pecahannya bakal nyebar ke bawah. Serpihannya nggak terlalu meloncat.”
“Masih bisa tetap bising,” gumam Ardi sambil melihat sekeliling, “tapi kalau dilapis selimut dulu sebelum ditekan, itu bakal sedikit meredam benturannya.”
Rafandra mengangguk.
“Kita bikin berlapis. Ambil selimut lagi, lalu tekan dari titik ini. Setelah itu pelan-pelan dorong serpihannya keluar. Nggak boleh ada bunyi jatuh keras.”
Rezvan berdiri di belakang mereka, diam-diam memperhatikan. Ketegangan membekukan raut wajahnya, tapi dia tahu mereka harus bergerak.
“Kita lakukan.”
Mereka bekerja dalam diam.
Rafandra mengambil selimut yang diberikan Damar, melipatnya tiga kali, lalu menekannya dengan lutut dan telapak tangan ke sudut kaca.
Damar menahan sisi lainnya dengan selimut yang lain, dan Ardi bersiap mendorong serpihan ke bawah jika mulai retak.
KRKHHH!
Retakan halus menjalar. Mereka menahan napas.
TRK!
Kaca menyerah. Tapi tidak meledak. Retakan menyebar, membentuk garis rapuh. Rafandra menarik napas pendek.
“Sekarang, dorong pelan-pelan. Ke bawah.”
Damar menyisipkan potongan seragam bekas ke ujung serpihan, mendorongnya keluar perlahan seperti melepas serpihan es dari cetakan. Tidak ada suara keras, hanya bunyi pecah-gesek yang tertahan.
“Kita dapat celah.”
Cahaya samar dari luar menyelinap masuk lewat lubang yang terbuka. Aroma tanah basah dan udara asing masuk, bersama hawa mencekam yang tidak bisa dijelaskan.
Rezvan menatap celah itu.
Dunia di luar masih gelap. Tapi tidak sehitam kabin yang menyimpan tubuh-tubuh diam di sekitarnya.
“Mau nggak mau, kita harus keluar,” bisiknya.
Rafandra yang sedari tadi memperhatikan dengan wajah serius langsung bergerak.
“Sudah cukup!” serunya cepat sambil menarik kerah baju Ardi ke belakang. “Kalian kembali ke tempat kalian masing-masing.”
Farel tersentak.
Damar buru-buru mundur.
Rafandra menatap mereka satu per satu, menekankan tanpa mengangkat suara, “Terima kasih. Ini cukup…”
Semua diam. Nafas tertahan.
Rezvan mengangguk. “Udara sudah terasa, tapi...”
‘’Berbeda…’’ sahut Rafandra segera menimpali.
Satu-satu murid kembali ke posisi masing-masing, sebagian masih menoleh ke celah sempit di pintu bus yang sudah berhasil digeser.
Rezvan dan Rafandra saling tatap sejenak, lalu perlahan, dengan hati-hati…
Kriet...
Klek...
Suara gesekan dan logam tua yang dipaksa bergerak merambat masuk ke rongga telinga, seperti menegaskan bahwa apapun yang mereka lakukan sekarang… bisa terdengar oleh sesuatu di luar sana.
Mereka tidak bicara. Gerakan mereka pelan, teratur, dan... sangat waspada.
Kabut.
Bukan gelap total. Tapi putih kelabu yang menyelimuti segala arah. Pekatnya seperti kapas basah, menggantung di udara, mengaburkan jarak pandang hingga hanya beberapa meter ke depan.
Rezvan perlahan menonjolkan kepala.
Disusul Rafandra.
Keduanya seperti binatang buruan yang mengintai dari balik sarang.
Leher memanjang. Kepala menoleh kiri. Kanan. Atas. Bawah.
Tidak ada suara... selain desis samar yang entah berasal dari apa. Seolah udara pun mendesis menahan napas.
Tenggorokan Rezvan kering.
Ia menelan ludah tapi tidak bisa menyingkirkan rasa getir di lidahnya.
Matanya menyipit, mencoba menembus kabut.
“Pak…” bisik Rafandra lirih. “Sepertinya kita… tidak berada di… tanah...”
Nada bicaranya bukan panik. Tapi tidak juga tenang. Seperti orang yang tahu ia harus tetap rasional… meski ada sesuatu yang merayap dalam dadanya.
Rezvan menarik napas perlahan. Menelan diam, lalu menjawab pelan, “Sepertinya… begitu…”
Keduanya menyapu pandangan ke bawah. Tapi terlalu gelap..
“Saya akan naik,” ujar Rafandra singkat.
Sebelum Rezvan sempat merespons, Rafandra sudah mulai bergerak.
Hup! Hup!
Tubuhnya gesit.
Tangannya mencengkeram sisi luar jendela, kakinya menyentak ke tonjolan rangka logam. Dalam tiga gerakan cepat, dia sudah menghilang dari pandangan Rezvan.
Dug! Dug! Dug!
Langkahnya terdengar berat di atap bus.
Beberapa murid di dalam menoleh spontan, tapi tak ada yang bicara.
Rezvan tetap berjaga di pintu.
Matanya mengikuti arah suara langkah Rafandra.
Satu tangan memegangi sisi dalam pintu, satu lagi mengepal erat.
Suara langkah itu berhenti.
Hening.
Beberapa detik kemudian, kepala Rafandra muncul dari atas atap bus.
Ia menunduk pelan, lalu berbisik ke arah Rezvan.
“Bus ini tersangkut…’’ katanya, ‘’Di atas tunggul besar. Besarnya bukan main... Tapi mungkin aman. Karena bagian bawah bus nempel di tanah.”
Rezvan mendongak, perlahan.
Mata mereka bertemu.
“Sejauh saya bisa lihat,” Rafandra melanjutkan, masih berbisik, “tidak ada yang bergerak di sekitar. Tapi saya juga tidak yakin apa itu karena aman… atau karena mereka bersembunyi.”
‘’Abang yakin posisi kita aman?!’’ tegas Rezvan.
‘’Entah, jarak pandang terbatas. Harus turun dan melihat lebih jauh.Saya tidak yakin jika hanya melihat dari sini.’’
Rezvan menarik napas. “Tunggu... Saya akan keluar.”
Rafandra mengangguk singkat. “Hati-hati. Pelan. Mungkin bus ini bisa saja meluncur bebas kapan saja...”
“Siap.” Rezvan mulai memanjat keluar melalui celah sempit di pintu darurat.
Sesampainya di atas, keduanya berdiri berhimpit. Mata menyipit, kepala bergantian menoleh. Gelap, sejauh mata memandang.
Kriet... kriet…
Suara gesekan logam dari bawah terdengar pelan, seiring goyangan halus di badan bus. Getaran kecil—cukup untuk membuat kaki terasa tidak stabil saat berpijak.
“Kita turun?” tanya Rafandra pelan, matanya masih meneliti sisi kanan bus.
Rezvan mengangguk dan mulai bergerak mengikuti Rafandra.
Namun...
Zret—GUBRAK!
Rezvan terpeleset.
Suara benturan logam dan tubuh bergema keras.
Keduanya membeku.
Pucat.
Mata liar menatap sekeliling.
Di dalam bus, suara benturan itu terdengar jelas.
Beberapa murid yang mendengarnya spontan memekik.
“Astaga!”
“Ada apa?!”
Namun suara mereka langsung ditahan oleh yang lain.
Telapak tangan menutup mulut, tubuh menekuk, mencoba menghindari sorotan apa pun. Mereka menahan napas bersama-sama.
Di luar, deg-deg-deg… Degup jantung Rezvan dan Rafandra beradu dengan sunyi.
Rafandra menoleh tajam.
Tatapannya ke arah Rezvan seperti berkata: ‘’Serius?’’
Rezvan, wajahnya memerah. Ia tak bicara.
Hanya membentuk ekspresi “Maaf...” mulutnya bergerak pelan dengan kedua tangan disatukan dan sedikit di angkat.
Mereka diam.
Menunggu.
Tak ada suara lain.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Rafandra memberi isyarat lewat gerakan tangan: ‘’Lanjut. Tapi pelan. Lebih hati-hati.’’
Rezvan mengangguk kecil. Masih menunduk—entah karena takut, atau malu.