**Bab 002: Tanpa Penerangan**
Bus itu mati dalam kegelapan.
Hampir tidak ada cahaya yang cukup untuk membuat mata yang terbiasa dengan terang merasa nyaman. Hanya sisa nyala korek gas yang sesekali menari di udara, lalu kembali menyisakan bayangan-bayangan samar di antara deretan kursi.
Di tengah ketidakpastian itu, ketegangan yang menyelimuti tiga puluh enam murid SMK, seorang guru, seorang sopir, dan seorang kernet tak lagi bisa disembunyikan.
"Saya, Pak Sopir, dan juga Abang kenek... kita sama-sama ada di depan," kata Rezvan serius. "Kita bertiga sama-sama melihat apa yang ada di hadapan kita sebelum kita terjebak dalam kegelapan ini. Apa ada bayangan kita masuk ke tempat apa?"
Degup jantung Rezvan terasa semakin cepat. Ada sesuatu yang salah. Instingnya terus mengulang hal yang sama sejak beberapa menit terakhir.
"Maaf, Pak... saya juga bingung." Pak Marta menggeleng pelan dengan wajah pucat yang samar diterangi cahaya korek. "Saya yakin barusan kita masih ada di jalan raya."
"Pak, apa jangan-jangan kita masuk Saranjana?" Arka yang duduk tepat di belakang kursi sopir tiba-tiba bersuara.
Ia tampak tegang, tetapi ada secercah antusiasme yang sulit disembunyikan dari nada suaranya—campuran rasa takut dan rasa penasaran yang sering muncul ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam cerita.
"Dek, kamu ngaco, ah! Masa di jalan raya ada Saranjana?!" bentak Pak Marta refleks. Namun nada suaranya sendiri terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Saranjana masih belum jelas ada atau tidaknya. Untuk saat ini kita anggap saja itu hanya legenda, Arka..." jawab Rezvan tenang.
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia sendiri mulai ragu.
Dina yang duduk di samping Arka ikut menyela. "Tapi, Pak Rezvan, kita sama-sama tahu kalau barusan kita ada di jalan raya... gimana ceritanya kita tiba-tiba ada di tempat kayak gini?"
"Itu benar, Pak..." sahut Kirana dari beberapa kursi di belakang mereka. "Kalaupun tiba-tiba ada kabut... posisi kita ada di jalan raya yang ramai kendaraan. Bus berhenti mendadak di tengah jalan, kemungkinan ketabrak kendaraan lain sangat besar. Tapi dari tadi kita... anteng-anteng aja..."
Rezvan terdiam. Logikanya mulai bertabrakan dengan kenyataan yang ada di depan mata. Sebagai seorang guru, ia terbiasa mencari penjelasan yang rasional untuk segala sesuatu. Namun semakin lama, semua yang terjadi justru terasa semakin sulit dijelaskan.
"Anak-anak, kalian harus tenang..." ujar Rezvan.
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Pendapatmu ada benarnya, Kirana. Tapi kalau memang benar seperti kata Abang kenek... ini akibat EMP, maka itu mungkin terjadi."
“Baiklah,” Kernet itu menyela dengan sopan, “Itu semua bisa kita pikirkan nanti. Sekarang, kita butuh penerangan dulu.”
Para murid mulai meraba-raba tas dan saku mereka.
Namun setelah beberapa menit, hasilnya nihil.
Tidak ada senter.
Tidak ada lampu.
Tidak ada apa pun yang bisa membantu di kegelapan itu.
"Huft..." Rezvan menghembuskan napas panjang.
"Ayolah, untuk saat ini keadaan darurat... Bapak tidak akan melaporkan kalian. Saya tahu beberapa di antara kalian menyimpan korek gas untuk merokok... keluarkan itu! Kita butuh untuk melihat keadaan di sekeliling..."
Hasilnya—hampir separuh siswa langsung mengangkat tangan.
Rezvan memijat pelipis. Entah harus marah atau tertawa melihat kenyataan itu.
Pak Marta dan Rafandra sendiri sampai menahan senyum, teringat masa muda mereka dulu yang ternyata tidak jauh berbeda.
—
Beberapa waktu kemudian.
''Pak, pak...''
Suara panik memanggil dari tengah deretan kursi.
''Pak, Pak Rezvan, tolong pak...'' pekik Damar sambil melambaikan tangan.
Rezvan segera bergerak mendekat. ''Ardi, Damar, itu kalian?… Ada apa?''
Damar dan Ardi terlihat memegangi tubuh Danang yang gemetar hebat.
''Enggak tahu, pak, Danang aneh...'' jawab Damar cemas.
''Danang...'' Rezvan setengah berjongkok di depan murid itu. Namun cahaya terlalu minim untuk melihat jelas.
''Saya sulit bernafas pak...'' jawab Danang tersengal. ''Pak, d**a saya sakit...''
''Kamu punya asma?!'' tanya Rezvan cepat.
Kernet bus segera mendekat membawa korek gas.
Cahaya api kecil itu memperlihatkan wajah Danang yang sangat pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dadanya naik turun tidak beraturan.
Danang menggeleng lemah.
Dahi Rafandra mengernyit. Ekspresi wajahnya langsung berubah serius. Ia menoleh pada Rezvan.
Tatapan mata mereka bertemu.
Tidak perlu kata-kata. Keadaan Danang buruk.
Dan mereka berdua menyadarinya.
''Pak...'' panggil Damar lagi dengan suara bergetar. ''Saya juga ngerasa kedinginan… Sama kayak Danang, dari tadi kayaknya mau ngambil nafas susah banget...''
Beberapa detik kemudian—
Keluhan mulai terdengar dari berbagai arah.
Batuk.
Desahan sesak.
Suara napas tersengal.
Rintihan panik.
Semuanya bercampur menjadi kekacauan yang menyesakkan.
Danang ternyata bukan satu-satunya.
"Apa kalian punya asma?" tanya Rezvan. Nadanya mulai terdengar putus asa.
Satu per satu murid mulai tumbang di kursi mereka.
Wajah memerah.
Napas berat.
Tubuh melemah.
Bus berubah menjadi ruang penuh kepanikan.
"Tunggu di sini. Bapak akan keluar mencari bantuan…" kata Rezvan tegas sambil bergerak menuju pintu bus.
Namun tiba-tiba—
Brak!
Tangan kernet refleks menahan lengannya.
Rezvan langsung menoleh. "Ada apa?" tanyanya bingung.
"Jangan keluar!" ujar kernet itu, pelan namun tegas.
"Bang, anak-anak dalam masalah. Bis ini mati, dan enggak ada hape yang nyala. Saya harus keluar untuk cari bantuan…" balas Rezvan dengan nada suara mulai emosional.
"Jangan!’’ seru kernet itu lebih keras. “Saya merasa… kita tidak boleh keluar dari bis ini."
Ucapannya membuat suasana semakin dingin.
Kernet itu sendiri tidak tahu alasan pastinya. Namun instingnya menolak keras gagasan keluar dari kendaraan. Seolah ada sesuatu di luar sana.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Alis Rezvan berkedut. Dadanya naik turun cepat. “Entah ada apa denganku tapi aku merasa setuju dengannya…” gumamnya di dalam hati.
Tapi logikanya berkata ia harus bertindak. "Permisi, Bang," ujarnya akhirnya sambil melepaskan tangan Rafandra. "Saya harus keluar… anak-anak ini butuh bantuan."
Bus kembali sunyi. Hanya suara napas berat dan detak jantung yang terdengar samar di tengah gelap.
Di luar jendela, kabut hitam pekat terlihat seperti lautan tanpa ujung.
Rezvan berjalan cepat menuju pintu bus. Adrenalin memenuhi tubuhnya. Ia mencoba tetap berpikir rasional.
Anak-anak membutuhkan pertolongan. Ia harus bergerak. Namun saat tangannya menarik tuas pintu—
Pintu itu tidak bergerak. Sedikit pun tidak. Rezvan membeku.
“Tidak mungkin…” gumamnya lirih. Ia mencoba lagi. Lebih keras. Tetap tidak bergerak.
Jantungnya langsung berdegup liar. Tubuhnya menegang.
Pikiran primitif manusia—insting bertahan hidup paling dasar—mulai mengambil alih kesadarannya.
Otaknya membaca situasi ini sebagai ancaman.
Kernet yang berdiri beberapa langkah di belakang memperhatikan semuanya dalam diam. Ia melihat tangan Rezvan mulai gemetar.
Napas guru itu memburu. Bahunya menegang. Tanpa perlu penjelasan, Ia memahami sesuatu: Tubuh Rezvan sendiri sebenarnya takut keluar.
Naluri bawah sadarnya sedang memperingatkan bahaya.
“Bang… ini… pintunya tidak mau terbuka,” kata Rezvan tercekat.
‘’Bisnya mati Pak guru, makanya pintu tidak mau terbuka…’’ jawab Pak Marta dari kursinya.
Meski gelap, ia bisa mendengar jelas semua yang terjadi.
Kernet melangkah mendekat lalu menepuk bahu Rezvan perlahan.
‘’Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada sesuatu di luar sana… yang… tidak bisa kita prediksi,” ucapnya pelan sambil menatap gelap di balik jendela.
Rezvan menelan ludah, “Entah apa alasannya, tapi aku merasa aku harus mempercayainya… Masalahnya, keadaan ini, berbahaya untuk anak-anak. Berdiam diri tidak akan menghasilkan solusi.” Pikirnya di dalam hati.
Leher dan pundaknya terasa kaku. Kepalanya berdenyut. Di dalam dirinya, logika dan insting bertabrakan dengan keras.
Sementara, kernet itu tetap terlihat tenang.
Bus itu kini terasa seperti kapsul rapuh yang memisahkan mereka dari sesuatu yang besar, gelap, dan tidak diketahui di luar sana.