"Kamu mau nanyain Nara, kan? Ayok tanya aja, enggak usah malu-malu, jadinya malu-maluin, kan?" Sebuah pesan berisi kalimat tersebut kembali diterima Kaizar, lagi-lagi dia berdecih lalu menggerutu tidak jelas. Kaizar yang gengsinya tidak tanggung-tanggung, hendak menyimpan kembali ponselnya ke meja tanpa membalas pesan dari Winda. Akan tetapi, dua pasang mata menatapnya penuh tekanan, seolah memaksanya untuk membalas pesan tersebut. Kaizar kikuk, hingga akhirnya dia mengambil ponselnya lagi. "Apa kalian sekongkol?" tanya Kaizar dengan nada ketus. "Balas sajalah, keburu Firaun bangkit dan jualan cilok," ujar Sean. "Ngada-ngada, kamu!" sembur Kaizar. "Ya daripada kebanyakan gengsi terus Nara diambil orang, emang boleh? Emang rela? Yakin gak nangis? Yakin gak mabuk-mabukan? Yakin bisa

