Lea pun mendekati Kaffa, "air." Lea membantu Kaffa meminum air. Tatapan mereka bertemu, Lea merasa takut terlalu lama berdekatan dengan Kaffa.
"Ehhhhhmmmm." Siska berdehem keras. Lea tersadar lalu menjauh dari ranjang Kaffa.
"Enak banget ya, natap Pak killer itu." Bisik Siska pada Lea seraya bibir Siska tersimpul senyum mengejek Lea.
"Pak, udah bisa napas." Tanya Siska polos.
Kaffa hanya mengangguk, tubuhnya masih sangat rentan. Sebenarnya Lea harus menjemput anaknya, karena Lea sudah berjanji jadi dia harus menepatinya.
"Sis, Aku mau jemput Kaffa dulu. Nanti aku beli kan big boss bubur sekalian." Ucap Lea sangat pelan.
"Ya udah, sana cepat. Jangan lama."
Lea meraih tasnya lalu pergi tanpa pamit pada Kaffa. Ia merasa Lea sudah benar tidak peduli keadaannya.
"Sis, Lea mau kemana." Tanya Kaffa.
"Mau keluar sebentar, Pak." Jawab Siska.
Kaffa sejenak terdiam lalu ia berpikir untuk bertanya banyak tentang Lea pada Siska. "Sis, apa kamu udah lama tekanan sama Lea."
"Setahunan mungkin, Pak." Jawab Siska.
"Apa Lea udah pendiam seperti itu." Kaffa kembali bertanya.
Siska mengangguk, ia begitu heran kenapa bossnya begitu ingin tahu tentang Lea.
"Berarti kamu tahu banyak tentang Lea." Kaffa menyandarkan punggungnya dengan bantal.
"Lea itu kesayangan kedua kakaknya, yang satunya tegas dan satunya lagi lebih santai. Hidup Lea tu penuh tanda tanya, aku sendiri enggak ngerti. Dia lebih tertutup apalagi ke seorang pria. Enggak ada pria mana pun berhasil menarik perhatian Lea. Ya kalau bapak ingin mencoba silakan" jelas Siska.
Kaffa tersentak. "Le, kamu benar jauh berubah dari yang aku kenal." Batin Kaffa termenung.
*
*
*
Di sekolah Kaffa dan Diffa, Lea datang menjemputnya. Kedua bocah itu udah setia menunggu Lea.
"Mommy." Kedua bocah itu berteriak seraya berlari memeluk Lea.
"Maaf, mommy telat. Kalian udah lama ya nunggu." Ucap lembut Lea.
"Lea," panggil seorang pria di belakang.
"Donny, kok disini."
"Zio minta tolong jemput mereka, katanya takut kamu lupa. Ya udah aku antar."
"Eh enggak usah, Aku naik taxi aja."
"Bareng aja, le. Lagian kamu harus balik lagi ke kantorkan." Ucap Donny.
"Ya udah, mom. Kita pulang cama om Donny aja." Pinta diffa.
"Ehm.. tapi diffa sayang--"
"Cama om Donny aja, taffa capek jalan kaki ke depan cali taxi." Kaffa menarik tangan Lea untuk menaiki mobil Donny.
Lea pasrah dengan permintaan Kaffa, mau tak mau ia harus ikut. Lea duduk di samping Donny yang sedang menyetir sedangkan dua bocah itu sudah celoteh tak menentu.
"Om, lupa ya janji mau ajak taffa matan es cream." Ucap Kaffa cepat.
"Oh iya, om Donny lupa. Gimana kalau minggu aja, kamu kan libur." Jawab Donny.
"Kamu, ada janji sama kaffa, don."
"Iya, le. Aku lupa." Donny menyengir.
Lea menggeleng pelan, Tak terasa mereka telah sampai di rumahnya. Diffa sudah terlebih dahulu mencari bundanya, di ikuti Kaffa.
Sedangkan Lea harus kembali ke rumah sakit. "Le,kamu mau di antar dimana." Tanya Donny.
"Rumah sakit, don. Nanti di pinggir berhenti ya, Aku mau beli bubur ayam." Ujar Lea.
"Siapa sakit, Le." Tanya lagi Donny.
"Teman kantor, don." Lea tak mau donny tau jika dia bertemu Kaffa, ia berusaha menutupi tentang Kaffa.
Padahal Donny sudah mengetahui jika Kaffa sudah kembali dan bekerja tempat yang sama dengan Lea.
Setelah membeli bubur, Hanya Dua puluh menit Lea sampai depan rumah sakit.
"Terima kasih ya, don. Udah antarin." Lea keluar seraya melambaikan tangan pada Donny.
CEKLEK
Lea masuk keruangan Kaffa yang juga Ada Siska menemaninya. "Astaga, Le. Lama banget." Ketus Siska lalu di sambut dengan senyuman Lea.
"Sis, suapin Pak Kaffa tu. Ini buburnya." Seraya memberikan kantong pada Siska.
"Kamu ajah suapin."
"Aku capek, sis. Kamu ajah ya." Lea memohon pada Siska.
Siska menghela napas, lagi lagi ia harus menyerah. "Pak, makan ya. Ini Lea udah bawa kan bubur ayam untuk bapak." Ucap Siska sambil menunjuk kan kantong berisi bubur.
"Hmm." Kaffa hanya mendehem singkat.
"Saya suapin ya, Pak." Siska duduk di sisi ranjang Kaffa.
Kaffa mengangguk, "perasaan tadi ini orang banyak tanya sebelum Lea datang. Sekarang Ada orangnya malah mendadak diam." Ucap Siska dalam hati.
CEKLEK
Dokter datang untuk memperiksa Kaffa yang masih sangat lemah. "Loh, kok bukan istrinya yang suapin."
Lea terbelalakan mendengar ucapan dokter, berbeda dengan siska yang menahan tawanya yang seakan ingin meledak.
"Istri." Kaffa mengeryit bingung.
"Pacar ajah enggak ada, apa lagi istri, dok." Lanjut Kaffa.
"Oh, mbaknya ini bilang temannya itu istri anda. Saya pikir benaran, soalnya dia khawatir banget sama anda." Ucap dokter membuat Kaffa tersenyum pada Lea.
"Aduh, ini dokter ceplos banget sih. Sama aja kayak Siska." Batin Lea.
Wajah Lea memerah malu ulah dokter dan Siska. Kaffa tentu saja bahagia mendengar tersebut. Setidaknya, ia memiliki harapan Lea masih peduli dengannya.
Tak lama kemudian Reondra beserta istrinya datang melihat keadaan putranya.
"Kaffa, kamu enggak papa kan sayang." Elisa mengelus pipi putranya.
"Aduh, bun. Aku enggak papa. Jangan berlebihan." Sarkas Kaffa.
"Kenapa kamu bisa Asma lagi, Kaffa." Tanya Ayah reo.
"Cuma insiden kecil, yah." Jawab Kaffa.
"Pak, maaf. Kan udah ada Pak reo dan bu reo. Saya dan Siska pamit pulang dulu." Ucap Lea.
"Oh iya, makasih banyak ya Lea. Kamu udah jagain anak bandel ini." Ucap Elisa tersenyum seraya menjewer telinga putranya
"Hati hati Lea, siska." Ucap Pak Reo. Lea dan Siska tersenyum lalu pergi.
Elisa dari dulu sangat menyukai Lea, menginginkan memiliki menantu seperti Lea. "Kaf, kamu tahu dulu bunda pernah mau jodohin kamu dengan sekretaris Ayah. Itu falea."
Walau pun mengetahui Lea memiliki anak, Elisa tetap menyukainya. Menurutnya Lea wanita yang tegar, dan tangguh.
Kaffa terkekeh, "kenapa enggak bilang kalau Lea orangnya, bunda.". Ujar kaffa.
"Kan kamu yang nolak, kamu bilang udah ada wanita lain yang dicintai kamu. Udah ketemu wanita yang berada di bandung itu." Ucap bunda.
Kaffa menelan salivanya. "Dia benci sama kaffa, bun." Ucap Kaffa sendu.
"Kenapa." Tanya Reo penasaran. Kaffa mengerdik bahunya, ia sendiri tak tahu jawabannya.
"KARNA KAMU, KAF. SEMUA KARNA KAMU HIDUP AKU BERUBAH. AKU SEPERTI INI HANYA KESALAHAN KAMU. AKU BENCI KAMU"
Kaffa menggulanng kata kata itu di otaknya, ia merasa terpenjara hati saat teringat kata itu.
Apa kesalahan yang di lakukan aku hingga Lea seperti ini. Pikir Kaffa.
Kaffa ingin mencari tahu semua itu. Suatu hari dia akan mengetahui, apa yang Lea sembunyikan darinya.
Kaffa mengerjap kan matanya, ia berharap Lea bisa bersikap seperti dulu. Hidup Lea seperti banyak beban hingga sulit sekali wanita bernama lengkap Falea Aruni Zalfahri itu tersenyum. Pikir Kaffa.
***