Agar Sopan

1023 Kata
"Bro! Lo kemana aja selama ini? Jarang liat gue." Arya merangkul bahu Bagas dari belakang. Membuat sahabatnya itu cukup terkejut secara tiba-tiba. Berjalan di halaman sekolah, hendak menuju kelas. Kondisi yang masih sepi karena keduanya berangkat jauh lebih awal. Bagas memberikan senyum tipisnya, seperti biasa. Jujur saja, laki-laki Jawa itu jauh lebih ganteng. Kulitnya eksotis, dengan style sederhana. "Perasaan aku gak kemana-mana, Yak. Bahkan belum pernah bolong sekolah." Arya mengangguk. "Pura-pura gak tahu aja, lo. Jelas-jelas dah lama kita gak bicara panjang lebar begini. Tiap istirahat, kegiatan lo cuma keluar kelas dan entah kemana. Gitu aja terus. Mana akhir-akhir ini pulangnya duluan, berangkatnya juga duluan." Bagas tidak ada niatan menjawab. Di depan pintu kelas, Arya menyudahi rangkulannya. Berganti dengan menepuk bahu Bagas pelan. "Kalau ada masalah, bilang, Bro." Laki-laki itu mengangguk. "Pasti." Lalu keduanya masuk kelas dan duduk di kursi masing-masing. Bagas sudah membuka bukunya dan mulai mencorat-coret pada kertas kosong. Sementara Arya hanya duduk santai seraya memainkan ponsel. Yah, dia tidak pernah serius untuk belajar. Sekarang mungkin— Arya sudah hampir malas untuk duduk di dekat meja belajar. Entahlah, tinggal menunggu waktu kapan produktif belajar lagi. Murid-murid kelas mulai berdatangan. Situasi hampir tak terkendali, keributan perbincangan antara satu dan yang lainnya saling bertabrakan. Dan, Arya mendapatkan teguran si saat dirinya sedang memainkan ponsel. "Yak. Hari ini kamu ada jadwal piket. Bantuin Raya sana. Yang lain udah piket." Hanya Ayun yang selalu berani menegur Arya. Entah di kondisi apapun, perempuan itu akan selalu menegur. Itulah mengapa sejak bersama Ayun— Arya menjadi kesal. Inilah alasannya. Kelas sudah berulang kali berganti, tetapi tidak tahu mengapa Ayun selalu menjadi orang berpangkat di kelas. Dia memiliki tanggung jawab, dan tingkahnya seolah mengatur. Terlebih, Arya ini tipe orang yang sangat malas melakukan sesuatu. Arya menurunkan ponselnya. Kemudian menatap Ayun yang berdiri di dekatnya lekat-lekat. Berakhir laki-laki itu yang mengangguk. Meski dengan perasaan jengkel. "Nih, gue piket, nih. Puas lo? Puas!?" Arya sudah berdiri dan mengambil sapu. Menyapu secara asal dan memperlihatkan pada Ayun. Ayun berdecak pelan. "Nyapu yang bener, dong." "Nyipi ying binir, ding." Ayun memutar kedua bola matanya. Sudah pasti perempuan itu kesal, pasti. Dia bahkan mengambil catatan mini dari sakunya dan meraih bolpoin yang ada di atas meja. "Kamu kucatat." Jika Ayun bukanlah perempuan. Laki-laki itu pasti sudah melemparkan sapunya dengan kecepatan tak terhingga. Namun, dia hanya urung dan terus berdecak. Terkadang mengomel dan memendam perasaan kesalnya. Macam-macam sama Ayun, yang ada dapat masalah. Circle perempuan itu sangat banyak, ditambah dia merupakan anak kesayangan para guru. *** "Arya!" Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping. Jam istirahat kedua, dan masih saja ada yang menganggu dirinya. "Siapa?" Arya setengah ragu. Tiba-tiba didatangi oleh seorang perempuan seumuran. Dan, cukup familiar— tetapi tidak begitu kenal. "Masa lupa? Gue yang waktu itu nanya lo tentang kelas di hari pertama, karena gue sama sekali gak tahu dan bingung." Dia perempuan yang cukup asik. Mirip seperti Billa, tetapi ini versi lebih baik dan kalem. Dan jujur saja, Arya masih tidak kenal sama sekali. Sebelum akhirnya pandangan laki-laki itu menurun dan tertuju pada nametag perempuan di depannya. "Vidya?" Vidya mengangguk senang. Arya mengedip beberapa kali. Kemudian mengatakan, "Ohhh ... ya!" Dirinya sudah ingat. Padahal, itu kejadian baru beberapa bulan yang lalu. Mengapa laki-laki itu bisa lupa? Baiklah, itu wajar. Bahkan pelajaran yang baru dijelaskan tadi pagi sudah dirinya lupakan. "Ada apa emangnya?" Kemudian Arya bertanya. Vidya sudah mengeluarkan ponselnya. Menyerahkan benda pipih itu pada Arya. Sebelum Arya berpikir bahwa dia sedang mendapatkan hadiah, Vidya memotong, "Gue kau minta nomor lo, Arya." "Lo kan bisa minta temen sekelas lo. Banyak yang punya nomor gue." Arya menjawab. "Gue mau minta langsung." Vidya bersikukuh. Dia cukup tomboy, meski stylenya yang feminim. "biar sopan," lanjutnya. "Capek jadi orang ganteng," gumam Arya pelan. Dirinya mulai memasukkan nomor di ponsel Vidya, dan menamainya sebagai, 'Arya'. "Lo ping di rumah aja. Nih." Arya menyerahkan ponsel ke Vidya kembali. Perempuan itu tersenyum senang. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku roknya. "Makasih, Arya. Betewe, lo mau kemana?" "Mau ke kantin, lah." "Gak bareng geng lo?" "Enak aja. Gue gak punya geng kali. Jaman sekarang emang ada geng-gengan?" Vidya mengangguk. "Tuh, kakak kelas malah ada yang sukanya balapan entah di mana. Gak fokus belajar. Banyak, sih." Arya mengangguk-angguk seolah dirinya peduli. "Ya udah. Gue duluan." Di belakang, Arya mendengar Vidya masih berbicara dengannya. "Lain kali ke kantin bareng, ya, Yaaak!" Dan Arya hanya membalas dengan anggukan— yang bahkan masih menghadap lurus ke depan. Sesampainya di kantin, Arya memesan bakso semangkok dan duduk di dekat Rafli. Meski, dengan beberapa anak laki-laki lain. Masih satu kesal, dan dua orang lagi berbeda kelas. "Wah, gue lo tinggal, Raf." Arya berbicara seolah dirinya tidak terima. "Ditunggu di depan kelas kelamaan, lo-nya." Rafli membela diri. Arya memasukkan ponsel ke dalam saku begitu bakso pesanannya tiba. Saat ini dirinya sedang tidak berselera menambah semacam minuman dingin. Arya ini memang tipe orang yang jarang minum. Dia hanya meneguk air ketika perlu. Yak, gue heran, deh, sama lo." Arya mengunyah bakso dalam mulutnya dan menelan. Menatap ke arah Leno— temen beda kelas di depannya. "Heran kenapa?" "Kita tuh udah SMP. Dan lo sama sekali belum pacaran? Sejak e"SD gak, sih? Kagum banget gue." Sepertinya itu lebih mirip pujian. Leno mengucapkannya dengan senang hati. "Dari lahir, kayaknya." Rehan membalas santai. "Padahal yang suka sama Arya banyak." Arya menggelengkan kepalanya. "Gue gak tertarik sama yang begitu." Tak berselang lama, topik pembicaraan sudah berganti. Mereka tidak ada yang berani macam-macam dengan Arya. Sebesar apapun badannya, akan kalah jika laki-laki itu tengah marah. Sejak kecil seringkali Arya membuat teman-teman atau kakak kelas yang menyakitinya menangis. Dan, menjadi kalem serta lebih pendiam di SMP— bukan berarti laki-laki itu memang membuat hati secara lapang. "Bagas kemana?" tanya Arya setelah menyelesaikan makannya. "Tadi gue ajak dia buat ke kantin. Tapi dianya malah nolak. Katanya sih mau ke perpustakaan dulu." "Rajin banget tuh anak. Emang bener sih ranking satu terus dari jaman SMP." "Eh, kayaknya bentar lagi ujian semester." Leno mengangguk lesu. "Iya. Dan artinya bentar lagi kita ujian, Bro." "Wah, gak kerasa. Kayaknya baru kemarin gue jadi murid baru di sini." Arya menghela napas pelan. Laki-laki itu berdiri. "Gue masuk kelas duluan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN